<script data-pm-proxy="intercept"></script><?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:googleplay="http://www.google.com/schemas/play-podcasts/1.0"><channel><title><![CDATA[Fragmen/Memoar]]></title><description><![CDATA[Potongan kecil dari tiap kejadian,
dicatat sebelum menghilang.
Sengaja baik-baik disimpan,
agar ingatan punya tempat untuk pulang.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com</link><image><url>https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!yv0f!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fbucketeer-e05bbc84-baa3-437e-9518-adb32be77984.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9bb3e6c6-4471-4225-8522-d075d626c43b_335x335.png</url><title>Fragmen/Memoar</title><link>https://rivanlee.substack.com</link></image><generator>Substack</generator><lastBuildDate>Sat, 05 Sep 2026 00:44:24 GMT</lastBuildDate><atom:link href="/__u/rivanlee.substack.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/><copyright><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></copyright><language><![CDATA[en]]></language><webMaster><![CDATA[rivanlee@substack.com]]></webMaster><itunes:owner><itunes:email><![CDATA[rivanlee@substack.com]]></itunes:email><itunes:name><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></itunes:name></itunes:owner><itunes:author><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></itunes:author><googleplay:owner><![CDATA[rivanlee@substack.com]]></googleplay:owner><googleplay:email><![CDATA[rivanlee@substack.com]]></googleplay:email><googleplay:author><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></googleplay:author><itunes:block><![CDATA[Yes]]></itunes:block><item><title><![CDATA[Antara Doa dan Kuasa]]></title><description><![CDATA[Tentang bagaimana &#8220;sabar&#8221;, &#8220;ikhlas&#8221;, dan &#8220;tawakal&#8221; menjadi bahasa sehari-hari untuk menerima keadaan, sementara sesuatu yang semestinya dibenahi terus diminta untuk dimaklumi.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/di-antara-doa-dan-kuasa</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/di-antara-doa-dan-kuasa</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sun, 23 Aug 2026 10:33:44 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/a501415c-5eab-4fea-80e5-3d79ca2a9585_900x506.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Di meja <a href="/__u/rivanlee.substack.com/p/jam-makan-siang">makan siang</a>, pembicaraan tentang hidup biasanya tidak pernah benar-benar jauh dari keluhan. <a href="https://www.detik.com/properti/berita/d-8610618/rumah-kontrakan-bakal-dipajaki-harga-sewa-terancam-naik/amp">Harga sewa naik</a>, <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/c872y5ql9v7o.amp">PHK massal</a>, <a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2026/05/05/10112411/kritikan-kspi-terhadap-permenaker-outsourcing-dinilai-abu-abu-dan">kantor makin menuntut</a>, jalanan makin macet, <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260821181707-20-1395068/kepala-bnpb-akui-banyak-kekurangan-penanganan-korban-gempa-ntt">penanganan bencana yang lambat</a>, kebakaran hutan dan lahan, <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cqjxg9l9jr9o.amp">keracunan MBG</a>, <a href="https://gpriority.co.id/jauh-dari-pemukiman-warga-lokasi-kopdes-merah-putih-di-kaki-gunung-ciremai-jadi-sorotan/">lokasi Kopdes Merah Putih</a>. Di antara ayam cabe ijo dan <em>da hong pao</em> keluhan itu biasanya berhenti pada kalimat yang hampir selalu tersedia: &#8220;Ya sudah, sabar.&#8221; Kalau masalahnya lebih berat, &#8220;Yang penting kita ikhlas.&#8221; Kalau sudah benar-benar tidak tahu harus berkata apa, &#8220;Mungkin belum rezekinya.&#8221; Betapa lengkapnya perbendaharaan kata kita untuk menerima keadaan. Tiap ketidaknyamanan dalam hidup, kita seperti sudah memiliki kalimat penenangnya.</p><p>Saya mulai memperhatikan bahwa kata-kata itu tidak hanya muncul ketika seseorang sedang menghadapi musibah besar. Ia hadir dalam kehidupan yang jauh lebih biasa. Teman mengeluh karena kereta terlambat, kita bilang sabar. Teman bercerita soal harga kontrakan yang naik, kita bilang ya begitulah hidup di kota. Teman kesal karena urusan administrasi yang seharusnya selesai dalam sehari ternyata membutuhkan tiga kali datang, kita tertawa, lalu bilang, &#8220;Namanya juga birokrasi.&#8221; </p><p>Kita semakin pandai mengubah masalah publik menjadi kemampuan personal untuk bertahan. Ketika sebuah masalah terus terjadi, masyarakat berhenti menganggapnya sebagai kejadian luar biasa. Banjir menjadi musim hujan. <a href="https://www.inilah.com/jakarta-semakin-macet-pertumbuhan-jalan-cuma-0001-persen">Macet menjadi Jakarta</a>. <a href="https://kontras.org/kebrutalan-polisi-berlanjut-wujud-gagapnya-negara-menanggapi-kritik/">Ditangkap sewenang-wenang disebut diamankan</a>. Harga rumah yang tidak terjangkau menjadi konsekuensi tinggal di kota. <a href="https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260820125727-37-760901/penyebab-kalimantan-sering-kebakaran-hutan-parah-ini-kata-peneliti">Kebakaran hutan menjadi Kalimantan dan Sumatera</a>. Pekerjaan yang membuat kita kelelahan menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa. </p><p>Yang berubah bukan selalu kejadiannya, melainkan ambang kewajaran kita. Sesuatu yang dulu membuat kita marah perlahan hanya membuat kita menghela napas. Sedikit demi sedikit, persoalan yang semestinya menjadi urusan publik dipindahkan ke dalam diri. Kita belajar mengatur napas ketika transportasi buruk, mengatur keuangan ketika biaya hidup naik, mengatur ekspektasi ketika layanan publik mengecewakan, dan mengatur emosi ketika kondisi sedang suram.  </p><p>Di antara semua kemampuan itu, kesabaran mungkin yang paling sering dipuji. Orang yang tidak mudah marah disebut dewasa. Orang yang adaptif disebut bijaksana. Orang yang tidak banyak menuntut dianggap tahu diri. Kita bahkan sering mengagumi seseorang yang mampu berkata, &#8220;<em>Ya sudah, saya ikhlaskan,&#8221;</em> setelah mengalami sesuatu yang sebenarnya layak dipertanyakan. Kalimat itu terdengar menenangkan karena membuat persoalan selesai secara emosional, meskipun belum tentu selesai secara nyata. Kita merasa lega karena sudah menemukan cara untuk berdamai dengan keadaan. Yang jarang kita tanyakan adalah apakah keadaan itu memang layak &#8220;didamaikan&#8221; sejak awal?</p><p>Saya tidak sedang curiga pada hal baik di level personal, seperti keikhlasan atau kesabaran. Kesabaran adalah hal baik. Begitu pula keikhlasan. Ada banyak hal dalam hidup yang memang berada di luar kendali manusia, dan manusia membutuhkan cara untuk tetap berdiri ketika berhadapan dengannya. Persoalannya muncul ketika kata-kata untuk menerima keadaan menjadi respons pertama sebelum kita sempat membedakan mana yang memang tidak bisa kita kendalikan dan mana yang masih layak kita pertanyakan. </p><p><span>Mempertanyakan sesuatu tidak serta-merta membuatnya berubah. Kita bisa menyadari ada yang keliru, lalu tetap pulang melalui jalan yang sama, mengantre di tempat yang sama, dan menghadapi masalah yang sama keesokan harinya. Tetapi kesadaran adalah semacam garis batas. Ia membuat kita tahu mana yang sedang kita jalani dan mana yang sedang kita toleransi. Kita mungkin belum mampu mengubah sesuatu, tetapi setidaknya kita tidak ikut menyebutnya sebagai sesuatu yang wajar&#8212;atau diwajarkan.</span></p><p>Kita terbiasa mengajak diri sendiri dan orang lain untuk menerima sebelum sempat bertanya apakah keadaan itu memang seharusnya diterima. Kita menghibur teman yang kecewa, menenangkan keluarga yang marah, dan mengingatkan diri sendiri agar tidak terlalu banyak berharap. Lama-lama, menerima menjadi kebiasaan. Bahkan mungkin menjadi karakter.</p><p>Tentu saja tidak semua orang yang mengajak bersabar sedang membungkam masyarakat. Banyak di antara mereka benar-benar sedang berusaha menenangkan orang lain. Banyak pula yang berdoa karena memang tidak tahu lagi harus melakukan apa. Justru karena itulah cara kita merespons persoalan personal menjadi begitu kuat ketika terbawa untuk membaca persoalan yang lebih besar. Kita terbiasa menghadapi kesulitan dengan mengatur diri sendiri, lalu kebiasaan yang sama ikut kita bawa ketika berhadapan dengan hubungan antara warga dan negara.</p><p>Masalahnya muncul ketika logika yang biasa kita gunakan untuk menghadapi masalah pribadi dipakai untuk membaca persoalan yang sebenarnya bersifat publik. Warga belajar mengelola kesulitan, sementara kewajiban negara perlahan berubah menjadi sesuatu yang cukup dimaklumi.</p><p><a href="https://tirto.id/majelis-ulama-indonesia-cara-daripada-soeharto-mengatur-islam-fQRG">Kebiasaan itu tidak datang sebagai perintah yang kasar</a>. Ia hadir sebagai kebaikan: dalam kalimat yang lembut, dalam doa bersama, dalam unggahan belasungkawa, dalam penggalangan dana, dalam nasihat tokoh agama, bahkan dalam pernyataan resmi pemerintah.</p><p>Namun, ketika <a href="https://news.detik.com/berita/d-5520966/walhi-kritik-pemda-menyerah-atasi-bencana-ntt-pusat-lambat-beri-bantuan">warga terdampak bencana</a> diminta bersabar, ketika masyarakat diminta memahami keterbatasan, atau ketika sebuah persoalan publik dikembalikan menjadi urusan ketabahan bersama, respons yang semula terasa wajar dalam percakapan personal perlahan ikut membentuk cara kita memahami kewajiban negara. Lalu kalimat itu berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain tanpa pernah terasa sebagai sesuatu yang sedang membentuk cara kita memahami apa yang layak kita terima.</p><p>Karena terdengar baik, kita jarang memeriksa ke mana arah kalimat itu bekerja. Padahal sebuah kalimat bisa terdengar penuh kasih sekaligus menghasilkan konsekuensi politik yang sangat berbeda. Ketika warga terdampak bencana diminta bersabar, misalnya, perhatian kita bisa berhenti pada kemampuan mereka bertahan, sementara pertanyaan tentang mengapa mereka harus terus menghadapi kondisi yang sama menjadi semakin jauh. Atau dalam bentuk lebih nyata, menunjuk aktor pembalakan dua juta hektar di Papua untuk menanggulangi kebakaran hutan di Kalimantan.</p><p>Di situlah persoalannya menjadi politis. Bukan karena ada seseorang yang setiap pagi mengingatkan kita untuk bersabar, melainkan karena keadaan yang berlangsung lama dapat mengubah cara kita berbicara kepada diri sendiri. Setelah cukup lama, kita belajar melakukannya sendiri, menerima, menyesuaikan diri, lalu menyebutnya sebagai sesuatu yang wajar demi kepentingan bersama.</p><p>Semua itu terjadi dengan cara yang jauh lebih halus. Satu kejadian menjadi pengalaman, pengalaman yang berulang menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang dibagikan ramai-ramai akhirnya terasa seperti kewajaran. Kemampuan beradaptasi kita terlihat seperti kebajikan. Kita menyebutnya dewasa, realistis, tahan banting, tidak banyak menuntut. Padahal kita hanya sudah terlalu lama berada di tempat dan situasi yang sama. Misalnya, kita tahu bahwa militer akan sulit bekerja di ruang sipil, tapi pembiaran terus terjadi atas nama disiplin, mereka kini tiba sampai melatih manajer kopdes atau duduk di jabatan tinggi sebuah badan/lembaga</p><p>Mungkin di sinilah doktrin bekerja dengan cara yang paling efektif: ketika ia tidak lagi terasa seperti sesuatu yang sedang diajarkan. Ia masuk ke percakapan personal sebagai kewajaran. Ia berubah menjadi obrolan tongkrongan, nasihat orang tua, kalimat dalam grup keluarga, caption Instagram, bahkan suara kecil di kepala sendiri. &#8220;Sabar.&#8221; &#8220;Ikhlas.&#8221; &#8220;Mau gimana lagi.&#8221; &#8220;<a href="/__u/rivanlee.substack.com/p/beras-tidak-bisa-ikut-meditasi">Semua tergantung diri sendiri&#8221;</a>. Lama-lama, kalimat-kalimat itu berpindah dari satu orang ke orang lain sampai kita tidak lagi ingat siapa yang pertama mengucapkannya.</p><p>Pada titik tertentu, kekuasaan tidak perlu lagi menyuruh masyarakat untuk tenang karena masyarakat sudah memiliki mekanisme untuk menenangkan dirinya sendiri. Tidak ada lagi yang terasa seperti perintah. Yang tersisa hanya refleks. Kita belajar meredam kemarahan sebelum kemarahan itu berubah menjadi pertanyaan. Padahal mempertanyakan keadaan tidak selalu berarti kehilangan kesabaran. Kadang kemarahan justru menandakan bahwa kita masih tahu ada sesuatu yang salah, bahwa kita tidak semestinya selalu mengalami seperti ini.</p><p>Mungkin itu menjelaskan mengapa kehidupan kota terasa begitu penuh dengan orang-orang yang lelah tetapi tetap berfungsi. Kita berangkat pagi, berdiri di kereta, bekerja seharian, pulang malam, membayar tagihan, mengurus keluarga, mengejar promosi, memesan makan malam, membalas pesan yang tertunda, lalu tidur dengan harapan besok sedikit lebih baik. Kalau besok ternyata sama saja, kita sudah memiliki kalimat cadangan, sabar. Kalau minggu depan masih sama, ikhlas. Kalau bulan depan belum berubah, <em>&#8220;ya, mau bagaimana lagi&#8221;</em>. Kita memiliki semacam sistem operasi batin untuk menghadapi kegagalan sistem di luar kontrol kita. </p><p>Barangkali itulah salah satu pencapaian terbesar kehidupan modern. Kita menjadi cukup terampil untuk tetap menjalani hidup meskipun sistem di sekeliling kita tidak selalu bekerja sebagaimana mestinya.</p><p>Saya kira kita tidak perlu berhenti mengatakan sabar, ikhlas, atau tawakal kepada orang lain. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah sesekali berhenti setelah mengucapkannya. Memberikan sedikit ruang sebelum kalimat itu menutup percakapan. </p><p>Pada akhirnya, Negara tidak selalu perlu menyuruh kita menerima keadaan. Kadang cukup membuat keadaan berlangsung cukup lama karena kita dianggap sudah terbiasa untuk mengalaminya. Pada akhirnya, persoalannya bukan seberapa besar kesabaran kita, seberapa tebal keikhlasan kita, seberapa kuat bentuk tawakal kita. Persoalannya adalah berapa banyak hal yang sudah kita anggap sebagai bagian biasa dari hidup hanya karena kita sudah terlalu lama belajar menerimanya.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kita Tidak Sedang Kehilangan Arah, Kita Hanya Terlalu Sering Diminta Menyesuaikannya]]></title><description><![CDATA[Mungkin kamu sedang menghitung ulang banyak hal belakangan ini. Saya juga. Anggap saja surat ini sebagai teman duduk sebentar sebelum kita kembali menjalaninya.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/kita-tidak-sedang-kehilangan-arah</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/kita-tidak-sedang-kehilangan-arah</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 15 Aug 2026 01:52:35 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/50e24f0e-d369-4269-9f45-049eb4c57a49_675x1200.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hai </p><p>Saya tidak tahu hari ini kamu bangun dengan perasaan seperti apa. Mungkin biasa saja, mungkin agak pusing dari kemarin. Apa pun itu, kamu tidak perlu gundah. Saya rasa di hari-hari tak tentu seperti ini, bangun pagi ditemui rasa bingung dan sedikit khawatir terkadang seperti hal yang lumrah. Sebab sekalinya kita bangun dengan perasaan lega, justru lebih mudah membuat kita bertanya-tanya. </p><p>Kita bangun tidur, bermalas-malasan sebentar, menggeser badan ke kiri, bermalas-malasan lagi, tiga puluh menit setelahnya kita baru bangkit. Kadang bisa lebih cepat, tergantung hal apa yang kita ingat lantas membuat mata kita terbelalak. Entah kenapa, ada perasaan bahwa kita semua sedang membawa sesuatu yang tidak kelihatan. Sedikit kekhawatiran tentang urusan kantor, sedikit lelah melihat berita, sedikit bingung memikirkan masa depan. Semuanya kita bawa begitu saja, seperti barang bawaan yang sudah terlalu lama berada dalam tas sampai kita lupa kapan terakhir kali mengeluarkannya.</p><p>Saya menulis surat ini karena akhir-akhir ini saya sering merasa kita menjalani hari dengan cara yang tidak sepenuhnya sama. Saya tahu kita datang dari latar belakang yang berbeda, tapi kita sering merasakan dampak yang serupa. Pada akhirnya, yang membedakan hanya siapa yang lebih dulu sampai pada titik lelahnya&#8212;kamu lebih dulu atau saya menyusul belakangan.</p><p>Kamu yang baik,</p><p>Mungkin karena itu saya ingin menuliskannya kepada kamu hari ini. Saya tidak tahu akan ada berapa kali surat ke depannya. Tapi, cara seperti ini membuat saya sedikit lebih nyaman karena berasa punya sahabat pena. Di samping itu, saya juga tidak bisa langsung menyampaikan sesuatu kepadamu sebelum memprosesnya terlebih dahulu. Jadi, surat terasa seperti cara yang cukup masuk akal untuk berbicara.</p><p>Saya tidak ingin membuat surat ini terlihat seperti nasihat. Saya rasa kita sudah cukup dewasa untuk paham bahwa tidak semua hal perlu diingatkan. Semenjak dirimu sudah bisa beli pulsa dengan menggosok kode voucher, sejak itu saya merasa kamu mulai paham <a href="/__u/rivanlee.substack.com/p/melihat-dunia-bekerja">melihat dunia bekerja</a>. </p><p>Saya juga tidak ingin dianggap punya jawaban tentang bagaimana menjalani hidup di zaman yang semakin sulit ditebak. Saya sendiri sering tidak tahu harus bagaimana. Saya hanya ingin menyampaikan kepadamu, kalau boleh, dan mengakui bahwa belakangan ini memang terasa berat. </p><p>Pengakuan sederhana semacam itu tidak akan mengubah apapun. Besok pagi, kabar buruk tetap menemukan jalan menuju notifikasi. Tetapi setidaknya, untuk beberapa menit, <a href="/__u/rivanlee.substack.com/p/tidak-semua-perlu-dicari-hikmahnya">kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.</a></p><p>Kamu yang mudah bingung,</p><p>Kamu sempat bilang kalau tahun ini kamu cukup antusias. Tahun genap adalah tahunmu katamu suatu saat. Tahun ini juga kamu akan diam di rumah untuk mengikuti sensus karena kali ini kedua kalinya kesempatanmu hadir setelah periode sebelumnya kamu bilang masih tinggal di kosan. </p><p>Kamu mulai bertanya tentang desil. Apa artinya, apa maksud dari kategori tersebut. Segala yang membuatmu bingung kamu sampaikan dengan bawel, entah antusias entah kamu malas mencari tahu sendiri.</p><p>Kamu kemudian sadar bahwa mengetahuinya memang ternyata bikin malas.</p><p>Sepuluh kotak dibuat untuk melihat posisi ekonomi keluarga dari kelompok dengan kondisi paling rendah sampai paling tinggi. Di atas kertas, pembagian ini membantu kita melihat keadaan dengan lebih terukur.</p><p>Tapi dua keluarga bisa berada dalam desil yang sama dan memiliki daya tahan yang sangat berbeda ketika sesuatu yang tidak terduga datang. Yang satu masih punya tabungan, rumah milik sendiri, dan keluarga yang bisa membantu ketika keadaan darurat. Sementara yang lain harus meminjam pinjaman untuk bayar pinjaman sebelumnya. Angkanya sama-sama masuk satu kotak, tetapi rasa aman yang mereka miliki belum tentu sama.</p><p>&#8220;Sialan!&#8221; katamu.</p><p>Iya, memang sial. </p><p>Kira-kira begitulah ketimpangan sering kali <a href="https://www.idnfinancials.com/id/news/67212/gini-ratio-indonesia-naik-ke-0-368-ketimpangan-makin-lebar">memperlihatkan wujudnya</a>. Ia tidak selalu berdiri sebagai dua orang yang sangat kaya dan sangat miskin berdiri bersebelahan. Kadang ia hadir dalam dua kelarga yang secara statistik terlihat cukup berdekatan, tetapi memiliki daya beli, rasa aman, dan kemampuan menghadapi keadaan darurat yang berbeda jauh. </p><p>Kita memang membutuhkan angka agar sesuatu yang rumit bisa dilihat. Hanya saja, ketika <a href="https://tirto.id/bagaimana-jika-desil-tak-sesuai-kondisi-ekonomi-warga-hBfZ">kehidupan sudah dimasukkan dalam kotak desil</a>, selalu ada bagian yang tertinggal di luar. Data berguna untuk membaca populasi, tetapi tidak selalu cukup untuk menggambarkan pengalaman seseorang.</p><p>Kehidupan, seperti biasa, tidak terlalu patuh pada tabel excel.</p><p>Kamu yang merasa was-was,</p><p>Kita boleh merasa <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx27dm8rpjzo">deg-degan tiap kali mendengar pidato presiden</a>. Saya tidak tahu kenapa, tetapi semakin dekat seseorang dengan mikrofon, grafik IHSG seperti ikut gemetar. Satu kalimat dari podium terasa cukup untuk membuat pasar menebak-nebak, analis mulai bicara lebih cepat, dan kita mulai menghitung lagi apa yang bisa direncanakan.</p><p>Kadang yang kita pikirkan lebih sederhana. Rencana merenovasi rumah yang belum jadi, uang muka kendaraan yang masih dikumpulkan, atau sekadar keputusan apakah bulan ini kita masih bisa menyisihkan uang untuk sesuatu yang sudah lama diinginkan.</p><p>Angka-angka di layar mungkin bergerak dalam hitungan detik, sementara keputusan hidup kita bergerak jauh lebih lambat. Tetapi keduanya kadang bertemu di tempat yang sama: di kepala kita, ketika sebuah perubahan kecil di luar sana membuat kita berhenti sejenak dan mempertimbangkan pilihan yang sudah dibuat.</p><p>Mungkin karena itu setiap pidato terasa sedikit lebih personal daripada yang seharusnya. Semakin dekat seseorang dengan mikrofon, kadang semakin jauh pula kita merasa dari kepastian.</p><p>Kamu yang sedikit bawel,</p><p>Kamu pernah membayangkan hidup hari ini seperti berjalan membawa segelas air yang sudah penuh sampai ke bibirnya. Kita berjalan, kita bekerja, kita tetap membalas pesan, menghadiri rapat, bertemu teman, namun sedikit saja langkah kita terguncang, airnya tumpah. </p><p>Saya sempat bingung apa maksudmu mengatakannya. Belakangan saya mulai paham. Kadang yang membuat air itu tumpah bukan satu kejadian besar, melainkan beberapa hal kecil yang datang berdekatan. Satu kabar buruk, satu pengeluaran tak terduga, satu keputusan yang membuat kita harus mengubah rencana.</p><p>Belakangan saya merasa, gelas itu memang tidak pernah benar-benar penuh karena satu hal. Ia penuh karena terlalu banyak hal kecil yang datang hampir bersamaan. Kita membaca keputusan pemerintah dari layar ponsel, lalu beberapa hari kemudian memikirkannya sambil mengisi bensin. Kita mendengar angka ekonomi, lalu melihat kembali pengeluaran bulan ini. Kita membaca tentang pasar kerja, lalu diam-diam membayangkan bagaimana kalau giliran kita yang berikutnya dipanggil. Kita bisa mencoba tidak peduli pada politik, tetapi politik belum tentu bersedia tidak peduli pada kita.</p><p>Kita juga melihat orang-orang yang seharusnya sedang memperdebatkan persoalan malah sibuk memperdebatkan siapa yang paling berhak berbicara, merasa betul atas segalanya, merasa berhak menghakimi hanya karena kesalahannya tidak kelihatan. Energi habis untuk saling menunjuk dan menyalahkan, sementara persoalan yang benar-benar menyentuh hidup sehari-hari tetap tidak ke mana-mana.</p><p>&#8220;Rasanya tidak perlu deh ditambah dengan saling melempar batu dari dalam kendaraan yang sama, kan?&#8221; tanyamu polos.</p><p>Kamu yang sekarang lebih banyak diam,</p><p>Mungkin yang paling melelahkan bukan karena kita tidak tahu harus berbuat apa, melainkan karena terlalu sering harus menyesuaikan diri. </p><p>Baru saja merasa cukup, ada harga yang berubah. Baru saja merasa aman, ada kabar yang membuat kita menghitung ulang. Baru saja membuat rencana, keadaan meminta kita membuat penyesuaian. Lama-lama kita seperti belajar berjalan sambil terus memindahkan titik keseimbangan. Bukan supaya bisa berlari lebih jauh, melainkan supaya tidak jatuh.</p><p>Saya kira itu sebabnya kita mulai merindukan kehidupan yang sebenarnya biasa saja. Kita ingin bangun tanpa ada perasaan cemas: pergi bekerja tanpa diam-diam memikirkan apakah pemasukan bulan depan masih akan sama, membeli makan siang tanpa menghitung apakah pengeluaran hari ini akan mengganggu kebutuhan minggu depan, bertemu orang yang kita sayangi dan membicarakan hal-hal yang tidak penting, tanpa ada suara kecil di belakang kepala yang terus mengingatkan bahwa hidup sedang kita bersiap.</p><p>Kita tidak sedang meminta kehidupan yang sempurna. Kita hanya ingin sedikit ruang untuk menjalani hidup tanpa terus-menerus merasa harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. </p><p>Kamu yang sedang merencanakan akhir pekan,</p><p>Saya tidak tahu apakah semua ini membuatmu merasa lebih baik. Mungkin tidak. Besok pagi kamu tetap harus bangun. Kamu tetap akan melihat berita. Saya mungkin akan melakukan hal yang sama. Kita tetap akan kosong sambil manasin motor, khawatir sambil sabunan, atau berlagak tenang sambil minum kopi. Setelah itu kita akan kembali mengurus hal kecil, seperti membalas pesan, menyelesaikan pekerjaan, dan membeli makanan kucing.</p><p>Saya rasa sesekali kita perlu mengingat bahwa tidak semua rasa lelah harus kita tuduhkan kepada diri sendiri. Ada keresahan yang memang lahir dari dalam diri. Ada pula yang datang karena keadaan di luar sana memang tidak sedang baik-baik saja. Dua hal ini tidak sama.</p><p>Karena itu, kalau suatu hari kamu merasa takut, kecewa, marah, iri sedikit, atau sekadar capek tanpa tahu harus menjelaskan kepada siapa, mungkin kita tidak perlu langsung merasa bahwa ada yang salah dengan diri kita. Kadang yang kita butuhkan hanya makan yang enak, tidur yang cukup, olahraga, lalu seseorang yang bersedia mendengarkan keluhan tanpa buru-buru mengubahnya menjadi kalimat motivasi.</p><p>Mungkin di hari yang sama, ketika kamu sedang mencoba melewati semuanya, ada orang lain yang juga sedang menyalakan motor, membuka laptop di akhir pekan, mencari kesibukan, dan berpura-pura tahu apa yang sedang ia lakukan.</p><p>Saya menulis surat ini supaya, setidaknya untuk beberapa menit, kamu tahu bahwa kebingungan itu tidak hanya milikmu. Saya juga sedang mengalaminya. Mungkin kita memang tidak sedang berjalan di jalan yang sama, tetapi kita sama-sama sedang mencari pijakan.</p><p>Termasuk saat kamu membaca surat ini. Kalau kamu merasa terlalu berputar-putar, anggap saja ini catatan tentang hari-hari yang sama-sama tidak stabil. Kalau setelah membacanya kamu masih merasa bingung, tidak apa-apa.</p><p>Saya juga.</p><p>Besok kita bingung lagi, bersama-sama.</p><p></p><p>Salam hangat.</p><p></p><p><br></p><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Ziarah]]></title><description><![CDATA[Kita tidak perlu mengatur setiap ingatan yang datang. Beberapa cukup dikenali, dikunjungi sebentar, lalu dibiarkan pulang.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/ziarah</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/ziarah</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 08 Aug 2026 09:49:36 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/a114af6e-bc45-4dfd-8483-6fc1e7f976e2_3485x2614.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin yang paling aneh dari ingatan bukan kemampuannya menyimpan sesuatu, melainkan caranya menemukan kita kembali. Kita tidak selalu membuka laci untuk mengambil satu memori; kadang laci itu terbuka sendiri ketika kita sedang melakukan hal lain. Sebuah bunyi, bau, wajah, jalan, atau benda kecil tiba-tiba mengantar kita berkunjung ke suatu tempat yang bahkan tidak sedang kita pikirkan. Tubuh tetap duduk di tempatnya, tetapi isi kepala sudah ke sana kemari tanpa meminta izin.</p><p>Saya cukup sering membicarakan ingatan dalam tulisan-tulisan saya. Kalau dibaca berurutan, mungkin orang akan mengira saya punya kontrak jangka panjang dengan masa lalu. Padahal sebetulnya saya sama sekali tidak berniat tinggal di sana. Hanya saja, cara sesuatu yang sudah lewat bisa tinggal, hinggap, lalu nongol tiba-tiba di kepala selalu terasa menarik untuk ditanya &#8220;bagaimana sesuatu yang sudah kita tinggalkan bisa tahu jalan untuk muncul lagi?&#8221; Ia tak perlu mengetuk pintu. Ia bisa muncul ketika saya sedang menggaruk badan, sedang menyetir, atau lebih sering pada kondisi yang jauh lebih mulia secara intelektual, berak sambil main handphone.</p><p>Ia muncul begitu saja, lengkap dengan satu kejadian yang bahkan sudah bertahun-tahun tidak saya pikirkan. Kadang yang datang hanya sebuah nama, tapi lebih sering justru berupa momen yang utuh dalam rasa, bukan dalam detail. Suara benturan ulekan dan cobek membuat kita teringat dapur tertentu, sebuah kalimat dalam percakapan membuka pintu menuju kejadian yang sudah lama tidak kita sentuh, atau kadang hanya melihat bentuk kursi tertentu sudah cukup untuk membuat kita teringat pada sebuah masa.</p><p>Saya rasa ini pengalaman kolektif yang diakui bersama dan membuat tiap ingatan terasa ganjil. Kita sering menganggap diri kita sebagai pemilik kepala sendiri, padahal isinya tidak sepenuhnya mengikuti perintah. Kita boleh merencanakan apa yang ingin dipikirkan, tetapi tidak selalu bisa memilih apa yang muncul. Kita bisa sengaja mengingat seseorang, lalu tidak menemukan apa-apa selain kekosongan. Pada hari lain, seseorang yang sudah lama tidak terpikir justru muncul ketika kita sedang mencari kaus kaki.</p><p>Saya semakin menyadari bahwa yang kita sebut ingatan sering kali tidak memiliki bentuk yang jelas. Ia bisa berupa bau roti matang dari kios stasiun, suara pintu minimarket yang terbuka, atau aroma parfum yang menempel di jok motor. Hal-hal kecil semacam itu kadang tahu jalan menuju tempat yang sudah lama kita tinggalkan. Detailnya mungkin sudah kabur kapan tepatnya semua itu terjadi, siapa saja yang hadir, bahkan apa yang sedang dibicarakan. Namun satu fragmen kecil masih tersisa. Ia seperti debu yang menempel di rak. Tidak terlihat setiap hari, tetapi ketika cahaya jatuh di sudut tertentu, kita baru sadar bahwa ia masih di sana.</p><p>Cara kita mendatangi ingatan pun rupanya tidak pernah seragam. Sebagian datang melalui musik, melalui perjalanan yang membawa kita melewati jalan yang pernah dikenal, atau melalui foto yang terselip di album. Kita tak selalu membutuhkan benda yang persis sama. Kadang cukup kemiripan kecil untuk membuat kepala menyambungkan dua titik yang sudah lama terpisah. Ingatan hampir selalu bekerja seperti itu: tidak selalu lengkap, tetapi tahu persis anasir mana yang harus dilemparkan agar sebuah suasana kembali terbentuk.</p><p>Memang, tidak semua kunjungan seperti itu terasa menyenangkan. Ada ingatan yang datang membawa hangat, ada pula yang masuk seperti orang yang tahu persis di mana letak bagian paling sensitif dalam diri kita. Beberapa justru muncul ketika kita sedang merasa sudah selesai, lalu satu nama, satu suara, atau satu tempat tiba-tiba menarik kursi dan duduk di kepala. Kita buru-buru mencari pengalih perhatian, berpura-pura sibuk. Kita melakukannya. Ia tidak hilang. Ia menunggu sampai kita lengah, lalu muncul lagi dengan wajah yang sama.</p><p>Pada titik ini, kita perlu membedakan antara mengingat dan ingin kembali. Dua hal tersebut memang bisa muncul bersamaan, tetapi tidak selalu begitu. Kita bisa terganggu oleh sebuah ingatan tanpa ingin mengulang peristiwanya. Kita bisa merasa hangat tanpa ingin memiliki kembali suasananya. Kita bahkan bisa merindukan satu perasaan tanpa merindukan orang, tempat, atau keadaan yang dulu menyebabkannya. Ingatan hadir begitu saja. Kita tidak harus langsung melakukan apa-apa. Kadang cukup mengakuinya sebentar, lalu kembali mengurus hidup, membayar tagihan, manasin motor, menyiram tanaman, bernyanyi, atau berkuda.</p><p>Barangkali di situlah kita sering salah membaca diri sendiri: setiap kali sesuatu muncul, kita mengira ia meminta untuk dimiliki kembali. Padahal mungkin ia hanya lewat untuk memastikan kita masih mengenalinya.</p><p>Karena itu, saya mulai menganggap ingatan sebagai sesuatu yang tak selalu perlu dipecahkan atau diselesaikan. Beberapa cukup kita kenali ketika ia datang. Kita tahu rasanya, kita tahu dari mana kira-kira ia membawa kita, lalu membiarkannya lewat. Ada yang hanya singgah beberapa detik, ada yang membuat kita duduk lebih lama. Tidak semuanya perlu diberi nama, apalagi dicari jalan pulangnya. Mengingat, rupanya, tidak selalu berarti kembali.</p><p>Kita bisa menyentuh sesuatu tanpa mengambilnya pulang. Kita bisa melihat sebuah foto tanpa tiba-tiba ingin menjadi orang yang ada di dalamnya lagi. Kita juga bisa mengingat seseorang tanpa merasa perlu tahu lagi ia sedang di mana sekarang. Barangkali yang terjadi bukan kita sedang kembali ke tempat yang sama, melainkan kita hanya singgah sebentar. Kita datang, melihat yang masih terasa akrab, lalu meneruskan perjalanan. Kata yang paling dekat dengan cara singgah seperti itu, bagi saya, adalah ziarah.</p><p>Ziarah jelas berbeda dengan menetap. Orang datang ke makam untuk mengingat, berdoa, mungkin berbicara dalam hati, lalu pulang. Tidak ada yang datang membawa kasur lipat dan berkata, &#8220;Saya tinggal di sini sampai kehidupan terasa masuk akal.&#8221; Kita datang karena ada sesuatu yang ingin dikenang, lalu meninggalkan tempat itu tanpa harus membawa seluruh isinya pulang. </p><p>Ingatan pun kira-kira bekerja dengan cara yang sama. Ia memberi kita banyak medium untuk berkunjung. Ia muncul begitu saja, lewat hal-hal yang tampak sepele. Dalam sekejap, waktu seperti melipat dirinya sendiri. Kita masih berada di tempat yang sama tetapi ada bagian dari diri kita yang sudah berpindah jauh, berdiri diam di ruang yang dulu pernah kita tinggali secara sadar. Yang saya sukai dari kunjungan semacam itu, ia tidak selalu datang membawa kesedihan. Kadang yang tersisa justru hal-hal yang sangat remeh: cara seseorang tertawa, makanan yang dulu terasa biasa saja, suara kendaraan ketika pulang malam, atau lelucon yang bahkan sekarang sudah tidak lucu. Kita mungkin sudah lupa konteksnya, tetapi tubuh seperti masih menyimpan sedikit suasananya.</p><p>Beberapa ziarah bahkan terasa konyol kalau diceritakan keras-keras karena ia tidak pernah benar-benar punya bentuk yang sama untuk semua orang. Berkunjung ke pasar bisa menjadi perjalanan bagi satu orang, sementara bagi yang lain ia hanya tempat yang buka setengah hari. Suara printer kantor yang ngos-ngosan mungkin membuka sesuatu yang spesial bagi sebagian orang, tapi bagi yang lain ia tidak berarti apa-apa. Ingatan dan ziarah sama-sama berlangsung di kepala, tetapi cara masing-masing orang menyimpan dan mendatanginya sepenuhnya adalah personal.</p><p>Mungkin itu juga sebabnya saya tidak lagi terlalu sibuk mengatur bagaimana sebuah ingatan seharusnya datang. Ia boleh datang melalui lagu, bau, suara, wajah, jalan, atau sekadar satu nama yang muncul ketika kita sedang melakukan sesuatu yang sama sekali tidak puitis. Ziarah pun mungkin memang tidak selalu dilakukan kepada seseorang. Kita bisa berziarah kepada sebuah suasana, sebuah tempat, sebuah suara, bahkan kepada versi diri sendiri yang pernah berada di sana. </p><p>Ziarah, pada akhirnya, mungkin bukan perkara pergi ke suatu tempat. Ia adalah kesediaan untuk berhenti sebentar ketika sesuatu membuat kita sadar bahwa sesuatu pernah meninggalkan jejak di dalam diri kita. Kita datang tanpa banyak persiapan, melihat-lihat sebentar, mungkin tersenyum, mungkin menghela napas, lalu meneruskan hidup dengan sesuatu yang baru saja kita ingat. Kita tidak harus membawa bunga. Tidak perlu membawa air mawar. Bahkan tidak perlu membayar parkir. Cukup mengenalinya ketika sesuatu memanggil, lalu tahu kapan waktunya kembali. </p><p>Jadi, bagaimana cara kalian berziarah?</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tutorial Mengatasi Regulator Gas yang Macet]]></title><description><![CDATA[Cuma tentang nyuci pakaian, ganti tabung gas, dan bikin kopi yang lebih ribet dari biasanya.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/tutorial-mengatasi-regulator-gas</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/tutorial-mengatasi-regulator-gas</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 18 Jul 2026 06:19:25 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/465a76ec-e6b3-4b7e-befa-b0bb6b5f6e49_736x1308.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Mencuci pakaian sebenarnya bukan pekerjaan yang paling sering saya lakukan di rumah. Bersama pasangan, kami punya pembagian tugas yang sederhana. Saya lebih sering mengurus pekerjaan di luar rumah, mulai dari teras, pekarangan sampai komunikasi dengan RT, sementara pasangan saya menangani sebagian besar urusan di dalam rumah. Hari ini, tiba giliran saya memegang kendali atas mesin cuci.</p><p>Kedengarannya mudah sampai saya berhadapan dengan satu keranjang cucian yang entah bagaimana selalu tampak lebih banyak daripada minggu sebelumnya. Saya mulai memilah pakaian putih dan berwarna, memisahkan mana yang cukup dicuci sendiri dan mana yang lebih masuk akal dikirim ke laundry. Aktivitas ini selalu dimulai dengan semangat, lalu perlahan berubah menjadi negosiasi panjang dengan diri sendiri. Sebelum benar-benar menekan tombol mesin cuci, saya memutuskan bikin kopi. Ini semacam ritual yang bisa disambi supaya pagi terasa lengkap.</p><p>Harapan itu berhenti tepat di depan kompor karena gasnya habis. Saya menelepon tetangga yang membuka warung kelontong, memesan gas, mengganti tabung dengan yang baru, memasang regulator seperti biasa, lalu memutar knop kompor. Tidak menyala. Saya melepas regulator, memasangnya lagi, mencoba sekali lagi. Tetap tidak menyala. Saya memandangi kompor terus sambil berharap ia berubah pikiran. Ia tidak menyala. </p><p>&#8220;<em>monyet</em>. <em>sejak kapan bikin kopi jadi ribet gini</em>&#8221; pikir saya.</p><p>Di tengah kepusingan tersebut, saya ingat ucapan teman kalau sekarang cari apa saja di TikTok ada. <em>Jebule</em>, betulan ada. Kurang dari satu menit, saya <a href="https://vt.tiktok.com/ZSXDrjL3e/">menemukan video bapak-bapak menjelaskan penyebab sekaligus memberi tutorial mengatasi api yang tidak keluar saat baru ganti gas</a>. Rupanya pangkal regulatornya tersangkut. Solusinya sederhana. Ketuk pangkal selang, hadapkan kepala regulator ke bawah, pasang kembali. Saya mengikuti langkahnya, memutar knop kompor, lalu terdengar bunyi yang paling melegakan. Api menyala. Belum ada setengah hari, saya sudah merasa menang atas segalanya. </p><p>Sesaat setelah mengetahuinya, saya cari beberapa hal urusan domestik yang saya hadapi, seperti membersihkan tembok yang menguning di sekitar saklar, membetulkan resleting yang nyangkut, sampai mencari penyebab kenapa kamitetep lebih sering mampir ke rumah daripada tamu. Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa selalu ada seseorang yang pernah mengalami kesulitan yang sama, lalu cukup murah hati untuk membagikan jalan keluarnya. </p><p>Kopi akhirnya jadi. Saya kembali ke mesin cuci sambil membawa cangkir yang masih mengepul. Mesin cuci mulai bekerja dengan bunyi yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Pekerjaan rumah berjalan sebagaimana mestinya. </p><p>Sambil menunggu cucian selesai, saya kembali membuka TikTok. Awalnya hanya untuk mencari jawaban atas persoalan kecil lain di rumah. Lama-kelamaan saya justru lebih sering berhenti pada video yang tidak sedang menjawab apa-apa, seperti gambaran tentang rumah yang rapi, rutinitas pagi yang teratur, atau pasangan yang seolah tidak pernah kehabisan ide menghabiskan akhir pekan bersama semakin sering lewat di beranda saya. Tanpa benar-benar saya sadari, TikTok tidak lagi sekadar menjadi tempat mencari solusi, tetapi juga tempat melihat bagaimana orang lain menjalani hidupnya.</p><p>Topiknya berganti-ganti, tetapi pesannya kayak sama: begini seharusnya hidup dijalani. Tidak ada yang terdengar memaksa. Justru karena dikemas seperti obrolan santai, semuanya terasa mudah dipercaya. </p><p>Semakin lama saya menontonnya, semakin sering saya lupa bahwa yang lewat di beranda hanyalah momen-momen yang dipilih untuk diperlihatkan. Hari ini rumah yang rapi, besok rutinitas pagi yang produktif, lusa pasangan yang romantis, minggu depan cara mengatur keuangan sebelum usia tiga puluh. Masing-masing hanya potongan yang lewat beberapa detik. Namun karena pola yang sama terus muncul, saya pelan-pelan berhenti melihatnya sebagai potongan. Yang semula hanya kemungkinan perlahan terasa seperti kewajaran.</p><p>Potongan-potongan itu akhirnya tidak lagi terasa seperti pengecualian, melainkan gambaran tentang bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Beberapa orang mulai mengejar momen, seolah-olah momen itulah yang menentukan kualitas kehidupan.</p><p>Persoalannya mungkin bukan karena kita terlalu mudah terpengaruh. Ia muncul karena kita terlalu sering melihat bentuk yang sama dan mendengar cerita serupa. Sesuatu yang awalnya hanya lewat sebagai hiburan, candaan, lama-kelamaan terasa seperti sesuatu yang sewajarnya dimiliki semua orang. Ketika pola kehidupan yang sama terus muncul, ditonton banyak orang, ditaksir ribuan kali, dibagikan ratusan kali, lalu dipenuhi komentar yang seragam, Lambat laun, apa yang semula hanya potongan cerita perlahan menjelma menjadi ukuran yang diam-diam kita bawa pulang.</p><p>Tanpa sadar, kita juga ikut terbawa. Satu menit video sering kali membuat kita merasa tahu seperti apa kehidupan seseorang, sementara bertahun-tahun mengobrol dengan teman sendiri kadang belum tentu cukup untuk memahami hidupnya. Yang kita lihat hanya potongan cerita, tetapi lama-kelamaan kita memperlakukannya seperti keseluruhan cerita.</p><p>Yang tersisa di layar hampir selalu hasil akhirnya, rumah yang rapi tanpa cucian yang menumpuk, meja kerja yang produktif tanpa tenggat yang berantakan, atau pasangan yang romantis tanpa percakapan yang melelahkan. Kamera datang tepat ketika semuanya sudah selesai dibereskan.</p><p>Ketika standar itu diam-diam menjadi pakem bersama, konsekuensinya tidak berhenti di layar. Kita mulai sibuk memeriksa apakah hidup kita sudah cukup teratur, hubungan kita sudah romantis, rumah kita sudah cukup rapi, atau akhir pekan kita sudah cukup berkesan. Hal-hal yang selama ini berjalan baik-baik saja perlahan terasa biasa. Bukan karena hidup kita memburuk, melainkan karena ukuran yang kita pakai diam-diam ikut berubah.</p><p>Yang jarang direkam justru bagian-bagian yang membuat semuanya mungkin terjadi, seperti mengingat jadwal servis motor yang sudah lewat, bergantian bangun karena kucing memecahkan gelas tengah malam, mengalah soal tujuan akhir pekan, memilih diam ketika sama-sama sedang lelah, atau sekadar mengingat stok sabun cuci piring di rumah sudah habis. Bagian-bagian seperti itu justru menghabiskan sebagian besar hari-hari kita. Hanya saja, bagian ini tidak ramah algoritma.</p><p>Barangkali itu sebabnya apa yang kita lihat di layar lebih tepat dijadikan pertimbangan daripada ukuran. Ia bisa memberi ide, membuka kemungkinan, bahkan sesekali menyelesaikan persoalan. Namun setelah video selesai, tetap kita yang harus membereskan cucian di rumah sendiri.</p><p>Kehidupan bersama rupanya lebih sering dirawat oleh pekerjaan-pekerjaan kecil seperti itu daripada oleh kejutan-kejutan yang sesekali datang. Buket bunga akan layu beberapa hari kemudian. Konser akan menemui lagu terakhirnya. Sementara, piring tetap harus dicuci. Lantai tetap harus disapu. Kotoran kucing tetap harus dibuang. Singkatnya, perjalanan panjang tetap meminta kita untuk pulang.</p><p>Saya tidak berharap orang berhenti membagikan kebahagiaannya. Dunia membutuhkan lebih banyak cerita yang membuat orang ikut tersenyum di tengah berita tentang <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5yzzpjjrklo">kelompok yang terus diburu karena identitasnya</a>, <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260717150024-12-1381901/polisi-pastikan-keaslian-emas-74-kg-dari-rumah-febrie-di-sentul">pejabat yang bergantian terseret perkara korupsi</a>, <a href="https://nasional.kompas.com/read/2026/07/10/13200001/di-balik-saling-silang-polisi-dan-jaksa?page=all">keributan antarlembaga yang tidak pernah benar-benar selesai</a>, sampai pidato yang tidak pernah kehabisan kata-kata tetapi sering kehabisan suara ketika perburuan dan ketidakadilan terjadi, melihat orang saling mencintai terasa seperti jeda yang manusiawi. </p><p>Cara saya menonton mulai berubah. Saya tidak lagi terburu-buru menganggap satu menit yang lewat di layar sebagai gambaran utuh. Sebab kehidupan sehari-hari selalu lebih panjang daripada durasi video. Banyak bagian yang paling penting justru tidak pernah masuk ke dalam rekaman kamera.</p><p>Menyadari hal tersebut tidak membuat saya berhenti membuka TikTok. Kalau suatu hari regulator gas kembali bermasalah, keran di rumah bocor, atau mencari referensi pelesiran, besar kemungkinan saya tetap mencarinya di sana. Yang berubah hanya cara saya memperlakukan apa yang saya temukan. Ada yang memang datang sebagai jawaban. Ada juga yang cukup menjadi kemungkinan. Persoalannya dimulai ketika kemungkinan itu kita perlakukan sebagai keharusan.</p><p>Toh, sampai hari ini, kami masih memiliki satu musuh bersama di rumah, yaitu setrika. TikTok mengajari saya memperbaiki regulator gas, membersihkan kerak wastafel, bahkan berhasil membuat kami membeli beberapa barang yang sebelumnya kami yakin tidak dibutuhkan. Anehnya, dari sekian banyak video yang lewat, belum pernah ada satu pun yang berhasil membuat kami benar-benar ingin menyetrika. Kalau Charles Darwin masih hidup, saya yakin ia akan melakukan penelitian tambahan. Ada manusia yang lahir dengan kemampuan menyetrika tanpa drama. Saya curiga mereka bukan hasil evolusi yang sama dengan kita.</p><p>Barangkali itu juga sebabnya saya tidak terlalu percaya pada cerita yang tampak terlalu mulus. <br>Bahkan cerita saya sendiri. </p><p>Kalau dipikir-pikir, saya juga sedang memilih bagian mana yang layak diceritakan. Sejak tadi saya bercerita bahwa TikTok membantu saya menemukan solusi regulator gas yang macet. Yang tidak saya ceritakan adalah bolak-balik bengong melihat tumpukan cucian, berkali-kali mengumpat sambil menggoyang-goyangkan kompor seolah-olah itu akan membuat api menyala, mengganjal mesin cuci supaya tidak jalan sendiri, mencium bau bacin dari pakaian basah, dan nyaris mencungkil karet di dalam tabung gas karena mengira letak persoalannya ada di sana. Saya membuang bagian yang bertele-tele, menyimpan bagian yang memalukan, lalu menyisakan bagian yang membuat cerita terasa lebih rapi.</p><p>Mungkin memang begitulah cara semua cerita bekerja. Kita selalu memilih bagian yang paling pantas diceritakan. Persoalannya muncul ketika potongan-potongan itu berhenti menjadi cerita, lalu kita perlakukan sebagai standar, sampai lupa bahwa kehidupan justru lebih sering ditopang oleh bagian-bagian yang tidak pernah layak direkam.</p><p>Duh, bentar. Cucian sudah beres. Jemur dulu.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Doa Juga Kena Macet di Simatupang]]></title><description><![CDATA[Setiap orang yang melewati TB Simatupang diam-diam memanjatkan doa yang sama: semoga habis lampu merah ini lancar. Sebagian doa terkabul. Sebagian lain harus menempuh perjalanan yang lebih panjang.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/doa-juga-kena-macet-di-simatupang</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/doa-juga-kena-macet-di-simatupang</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 11 Jul 2026 04:55:08 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/6db7c756-7eba-4e70-ace7-810488b5623b_1536x2048.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian pertemuan dimulai bahkan sebelum dua orang bersitatap. Ia lahir saat jam pulang kerja mulai dihitung, ketika jaket dikenakan lebih cepat dari biasanya, atau ketika kepala sibuk menyusun obrolan yang semoga tidak terdengar canggung. Di kota seperti ini, perjalanan menuju seseorang sering kali lebih panjang daripada pertemuannya sendiri. Meski begitu, kamu tetap berangkat.</p><p>Sayangnya, Jakarta selalu punya cara sendiri untuk ikut campur. Sebelum bertemu seseorang, kita lebih dulu dipertemukan dengan lampu merah, klakson, asap knalpot, dan jalan yang seolah sengaja menguji kesabaran dan membuat penampilan yang dipikirkan sedimikian rupa menjadi tak layak tampil. Tidak ada tempat yang lebih pandai melakukan itu selain TB Simatupang.</p><p>Siapa pun yang pernah melintasi TB Simatupang pada hari kerja tahu bahwa jalan ini tidak pernah benar-benar selesai. Pagi hari berdehem. Siang hari meninggikan suara. Ketika jam pulang kantor, seluruh ruasnya seperti sedang mengadakan musyawarah nasional. Motor ojek online, mobil pelat ganjil yang nekat, truk tanah, tukang tahu bulat, penjual kopi keliling, sampai pesepeda yang entah sedang latihan atau tersesat, semuanya hadir. Tidak ada yang ingin berada di sana, tetapi entah bagaimana semua selalu berhasil berkumpul pada waktu yang sama. Mungkin itulah satu-satunya hal yang masih mampu menyatukan sebagian warga Jakarta. </p><p>TB Simatupang adalah jalan yang membuat orang saling memahami tanpa perlu saling mengenal. Cukup saling melirik saat lampu merah menyala terlalu lama, kita sudah tahu isi kepala masing-masing. Ada yang sedang terlambat, ada yang sedang dimarahi atasan, ada yang menyesali keputusan membeli mobil, ada pula yang berharap pertemuan pertama berjalan dengan riang. Jalan ini mempersatukan banyak orang dalam satu doa yang sama: semoga habis lampu merah ini lancar.</p><p>Doa itu hampir tidak pernah terkabul. Makin tebal doa, Simatupang makin mantap mematahkannya beberapa ratus meter kemudian. Kita tetap percaya ruas berikutnya akan lebih baik, persis seperti orang yang percaya bahwa keterlibatan militer di ranah sipil akan membuat situasi lebih baik. Mungkin memang ada jalan-jalan yang diciptakan untuk menguji seberapa keras kepala harapan kita.</p><p>Dari arah Tanjung Barat, harapan masih terasa utuh. Gas motormu masih bisa kamu putar tiga puluh derajat. Tidak terlalu cepat, tetapi cukup untuk membuatmu percaya bahwa estimasi tiba di Google Maps adalah kebenaran. Angin masih sesekali menyelinap di sela-sela helm. Klakson belum terlalu berisik. Kamu bahkan sempat berpikir, &#8220;Tumben.&#8221;</p><p>Sebelum Ragunan benar-benar ditinggalkan, harapan sudah tidak punya tempat. Kendaraan mulai mengular menuju tanjakan. Semua bergerak dengan kecepatan yang membuat pejalan kaki terlihat sedang ikut balapan. Di sini, gas dan rem bekerja sama lebih akrab. Tangan kiri sesekali colongan membuka pesan. Tangan kanan mulai hafal posisi rem. Perjalanan berubah menjadi rutinitas mekanis yang dilakukan berkali-kali.</p><p>Memasuki Ampera, orang-orang mulai kehilangan kesabarannya. Ada yang berpindah jalur setiap lima detik. Ada yang sibuk membunyikan klakson seolah suara itu mampu membelah kemacetan. Ada yang menyerah, lalu menikmati lagu sampai hafal tarikan napas penyanyinya. Kamu justru mulai menghafal percakapanmu sendiri. Menentukan pertanyaan pertama, menebak jawaban yang mungkin muncul, lalu diam-diam tertawa pada candaan yang bahkan belum sempat diucapkan</p><p>Doamu mulai bertambah ketika memasuki Fatmawati. Kamu sempat bingung karena terlalu banyak ruas yang harus dipilih. Keringat mengalir dari punggung sampai membasahi jok. Kamu mulai memilah cerita mana yang sebaiknya disimpan untuk nanti dan mana yang terlalu receh untuk diceritakan. Kamu memutar gas sedikit lebih yakin, seolah doa-doa kecil sepanjang perjalanan akhirnya mulai didengar.</p><p>Fatmawati menuju Lebak Bulus adalah ruas yang mengurangi kecemasanmu. Jalanan masih padat, tetapi itu sudah tidak terlalu penting. Pertanyaan-pertanyaan yang sejak Ampera bolak-balik di kepala akhirnya menemukan urutannya sendiri. Candaan yang tadi terasa canggung kini terdengar cukup lucu untuk diceritakan. Bahkan kamu mulai membayangkan obrolan itu akan selesai di mana; cukup satu gelas kopi, atau berlanjut sampai makan malam.</p><p>Ponsel di saku jaket sempat beberapa kali bergetar. Kamu membiarkannya. Toh, beberapa pertemuan terasa lebih menyenangkan kalau diawali dengan kejutan kecil. Kamu ingin muncul begitu saja di depannya, lalu melihat ekspresi yang tidak sempat dipersiapkan.</p><p>Perlahan motor dibelokkan menuju Pondok Indah. Bangunan mal mulai terlihat. Kamu tidak lagi memperhatikan macet. Yang tersisa tinggal mencari parkiran. </p><p>Kamu sempat kesal karena harus berputar beberapa kali mencari parkiran. Rasanya, setelah satu setengah jam menembus TB Simatupang, lima menit terakhir justru terasa paling lama. Begitu menemukan satu petak kosong, mesin motor dimatikan. Panas dan keringat masih tertinggal di balik jaket. Mesin memang sudah mati, tetapi kepalamu riuh mengulang pertanyaan pertama yang akan diucapkan nanti. Tanganmu mengambil ponsel.</p><p>&#8221;Aku sudah pulang.&#8221;</p><p>Kamu membacanya sekali.</p><p>Lalu sekali lagi.</p><p>Dadamu tersedak. Kepalamu limbung. Tenggorokan terasa kering. Kamu bingung ingin masuk ke dalam atau memilih dangdutan dengan helm yang masih membebani kepalamu.</p><p>Kalimat itu pendek. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Hanya sebuah kabar yang membuatmu merasa cukup tahu. Kamu memandangi layar beberapa detik lebih lama. Memikirkan balasan apa yang tetap menunjukkan dirimu kuat. </p><p>&#8220;Okay. hati-hati ya&#8221; </p><p>Mesin dinyalakan lagi. Tarikan nafasmu lebih panjang dari tarikan pedal gas. Pandanganmu kosong. Jalan pulang selalu lebih mudah ditemukan daripada alasan untuk berputar balik. Satu-satunya yang menenangkan adalah parkirmu gratis.</p><p>Lebak Bulus menuju Fatmawati tidak banyak berubah. Lampu merahnya masih sama. Mobil-mobilnya masih sama. Orang-orang di sebelahmu mungkin juga sedang menjalani sore yang biasa saja. Tapi kepalamu berisik memproses semuanya. </p><p>Kamu mulai mengulang perjalanan sejak siang, mencari bagian mana yang mungkin mengubah akhir cerita. Apa kamu seharusnya berangkat lebih cepat. Apa ponsel itu seharusnya dibuka sejak tadi. Apa kamu terlalu lama membuat seseorang menunggu. Karena tidak pernah diberi alasan, kamu mulai sibuk menciptakan alasanmu sendiri. </p><p>Pertanyaan-pertanyaan itu pelan-pelan berhenti mencari jawaban dan mulai mencari sasaran. Jangan-jangan memang ada yang kurang darimu. Jangan-jangan kamu memang terlalu mudah berharap. Jangan-jangan keputusan itu memang sudah dibuat jauh sebelum kamu tiba. Di bawah helm, matamu mulai basah. Mungkin karena keringat. Mungkin bukan. Untungnya, tidak ada yang bisa membedakan.</p><p>Memasuki Ampera, lagu yang tadi menemanimu sejak berangkat masih diputar. Penyanyinya sudah masuk reff untuk entah ke berapa kali. Kamu baru sadar, sejak keluar dari parkiran tadi tidak ada satu lirik pun yang benar-benar didengarkan. Tiap muncul lirik yang menggambarkan keadaanmu, kamu mengumpat, &#8220;ah, monyet!&#8221; lucu sekaligus menyebalkan bagaimana satu sore bisa berubah hanya oleh beberapa kata. Kekecewaan yang sejak keluar dari parkiran berusaha kamu tahan akhirnya menemukan jalannya sendiri. Air matamu jatuh.</p><p>Ragunan menuju Tanjung Barat terasa lebih panjang daripada biasanya. Padahal jaraknya tidak bertambah satu meter pun. Kamu menangis. Maju beberapa meter, menangis lagi. Berhenti di lampu merah, tangismu semakin lama. Kamu sedang berkabung atas sore yang sejak siang sudah telanjur dibayangkan. Lampu merah mempertemukanmu lagi dengan pengendara-pengendara lain yang mungkin masih memanjatkan doa yang sama: semoga habis lampu merah ini lancar. Kali ini, kamu tidak tahu lagi harus meminta apa.</p><p>Kamu mulai sadar, perjalanan pulang ternyata tidak selalu membawa orang kembali ke rumah. Kadang ia lebih dulu mengantarkanmu pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah minta dijawab. Kenapa kamu begitu cepat menaruh harap. Kenapa perasaan yang kamu jaga diam-diam justru berakhir tanpa pernah benar-benar dimulai. Kenapa kamu lebih sibuk membayangkan pertemuan daripada mempersiapkan kemungkinan pulang sendirian.</p><p>Kota ini memang pandai mempertemukan orang dengan perjalanan, tetapi tidak selalu dengan tujuan. Lebih sering lagi, kota ini mengajarkan bahwa keputusan seseorang kadang bisa menjadi perjalanan panjang bagi orang lain. Kamu rela menyisihkan satu sore, menghabiskan setengah tangki bensin, dan menahan lapar lebih lama. Sementara yang tersisa hanya cerita bahwa kamu pernah pergi.</p><p>Besok jalan ini tetap macet. Orang-orang tetap mengumpat. Tukang tahu bulat tetap lewat. Lagu yang sama mungkin kembali diputar. Jalan yang sama akan kembali dipenuhi orang-orang yang sedang menuju sesuatu. Mungkin mereka sedang membayangkan percakapan pertama, memikirkan pakaian yang dipakai, atau menahan getir sepanjang jalan pulang.</p><p>Kendati demikian, kita tidak pernah berhenti berangkat. Selalu ada seseorang yang ingin ditemui, percakapan yang ingin diselesaikan, atau harapan kecil yang diam-diam dititipkan di sepanjang jalan. Sebagian berhasil sampai. Sebagian lain berhenti di lampu merah atau di parkiran mal. Semua itu tidak pernah benar-benar membuat kita kapok.</p><p>Besok, kamu mungkin akan mengulanginya lagi. Kamu tetap akan memutar gas dari Tanjung Barat, menggerutu di Ragunan, bernyanyi di Ampera, lalu berharap semuanya membaik setelah Fatmawati. Kamu juga akan kembali menyusun percakapan di kepala, membayangkan pertemuan yang belum tentu terjadi, dan membayangkan senyum yang sama, lalu berharap perjalanan kali ini berpihak kepadamu. Barangkali memang begitulah cara harapan bekerja. Ia selalu berhasil membuat perjalanan berikutnya terasa masuk akal dan selalu berhasil membuat kegagalan kemarin terdengar seperti pengecualian.</p><p>Pada akhirnya, semua harapan kecil itu selalu berakhir di tempat yang sama: menjadi doa yang dipanjatkan diam-diam sepanjang perjalanan. Tapi memang ada doa-doa yang sengaja diciptakan untuk tidak dikabulkan supaya kamu tetap punya alasan untuk berangkat. </p><p>Sayangnya, siang itu kamu memilih memanjatkannya di TB Simatupang.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Jam Makan Siang]]></title><description><![CDATA[Hanya ada satu kata, makan!]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/jam-makan-siang</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/jam-makan-siang</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 05:02:51 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/00801e7b-0863-45f4-9f4f-5853718ab099_1417x1600.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Makan apa?&#8221;</p><p>&#8220;Terserah.&#8221;</p><p>&#8220;Ya udah, rames.&#8221;</p><p>&#8220;Kemarin rames.&#8221;</p><p>&#8220;Ayam penyet?&#8221;</p><p>&#8220;Penuh.&#8221;</p><p>&#8220;Bakmi?&#8221;</p><p>&#8220;Jauh.&#8221;</p><p>&#8220;Yaudah deh, padang aja.&#8221;</p><p>Percakapan itu tentu saja bukan antara Frida Kahlo dengan Diego Rivera yang sedang memperdebatkan komposisi warna di depan kanvas dan kuas. Mereka barangkali bertengkar soal seni. Tapi, pekerja kantoran berdebat soal makan siang. Ia terdengar hampir setiap hari menjelang pukul dua belas di lorong kantor, grup WhatsApp, depan lift, atau meja sebelah kubikel. Tokohnya boleh berganti, kantornya boleh berpindah, tetapi naskahnya tidak pernah berubah. Jakarta mungkin berubah sangat cepat. Namun, satu hal nyaris selalu sama: kebingungan menentukan makan siang.</p><p>Pukul dua belas kurang lima, Kuningan, Sudirman, Tendean, juga Simatupang berubah wajah. Gedung-gedung kaca yang tiap pagi menelan ribuan orang mulai mengeluarkan isinya sedikit demi sedikit. Pekerja kantoran mendadak berubah menjadi sekelompok orang yang kesulitan mengambil keputusan paling sederhana dalam hidupnya. Padahal, beberapa jam sebelumnya, mereka merencanakan proyek, menuliskan proposal, dan menyetujui anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah, tapi menjelang siang seperti kehabisan pikir hanya untuk menentukan apakah ayam penyet, nasi padang, atau ikan tongkol.</p><p>Begitu keputusan tercapai, kota ikut bergerak. Orang-orang keluar ke arah yang berbeda. Sebagian menyeberang jalan, sebagian memesan ojek, sebagian lagi langsung mengarahkan langkah ke Benhil.</p><p>Pada jam makan siang, Benhil seperti berganti profesi. Kawasan yang dipenuhi toko percetakan, jasa fotokopi, dan kendaraan yang saling berebut ruang di jalan, perlahan berubah menjadi titik kumpul pekerja kantoran. Mobil berhenti sembarangan. Pengemudi ojek daring memenuhi tepi jalan. Klakson berbunyi tanpa pernah benar-benar mengurai kemacetan. Semua orang datang dengan tujuan yang sama, meski keyakinannya berbeda-beda.</p><p>Sebagian bersumpah tidak ada yang bisa mengalahkan ayam pop <a href="/__u/www.google.com/maps/place/rm+surya+benhil/data=!4m2!3m1!1s0x2e69f768bbdafa57:0xa9fe29049e174c48?sa=X&amp;ved=1t:242&amp;ictx=111">RM Surya</a>. Sebagian lain akan membela bubur kampiun <a href="/__u/www.google.com/maps/place/bopet+mini/data=!4m2!3m1!1s0x2e69f6a94b7e9819:0x2c4195c68590a8ed?sa=X&amp;ved=1t:242&amp;ictx=111">Bopet Mini</a>. Ada yang setia pada <a href="/__u/www.google.com/maps/place/Bogana+May-May+Benhil/data=!4m2!3m1!1s0x0:0x58718240e7ccf45d?sa=X&amp;ved=1t:2428&amp;ictx=111">Bogana</a> karena merasa porsinya paling masuk akal. Ada pula yang rela mengantre <a href="/__u/www.google.com/maps/place/Gudeg+Koyor+Mercon+Sumringah+Benhil/@-6.2149604,106.8111032,1121m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x2e69f7000b78fe73:0xc8ece11bd4a9e35!8m2!3d-6.2149657!4d106.8136781!16s%2Fg%2F11lzd50pv7!5m1!1e1?entry=ttu&amp;g_ep=EgoyMDI2MDYyOS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D">Gudeg Koyor</a> demi sepiring makan siang yang selalu habis sebelum jam kantor benar-benar selesai. Di Benhil, pilihan rumah makan kadang lebih sensitif daripada pilihan politik. Bedanya, perdebatan soal rumah makan biasanya selesai setelah suapan pertama. Politik, kita tahu, jauh lebih sulit kenyangnya. </p><p>Kalau saya, hampir selalu berakhir di RM Surya. Bagi saya, tempat itu rasanya sudah melewati status rumah makan. Ia lebih menyerupai tempat ziarah. Orang datang dengan keyakinannya masing-masing, lalu pulang dengan keyakinan yang lebih besar lagi. Ayam pop dan dendeng batokok hanyalah alasan untuk kembali. Selebihnya adalah kebiasaan yang perlahan berubah menjadi ritual.</p><p>Yang paling saya nikmati justru beberapa menit sebelum makanan benar-benar tersaji. Semua orang berdiri melongok etalase lauk dengan bahasa tubuh yang sama. Sedikit maju ketika antrean bergerak. Sedikit menoleh memastikan tunjang belum habis. Sedikit panik ketika ayam pop tinggal beberapa potong. Rasa lapar jauh lebih pandai menyamakan manusia daripada kartu nama yang mereka bawa dari kantor. Tidak ada yang benar-benar ingin terlihat penting ketika sedang menunjuk lauk. Semua hanya ingin makan lebih awal.</p><p>Rasa lapar memang tidak menghapus perbedaan. Ia hanya membuat semua orang berhenti memamerkannya. Jabatan mendadak kehilangan daya tawarnya. Mereka yang memegang centong tetap mempunyai kuasa paling besar. Kesetaraan seperti ini hanya ada di rumah makan saja. </p><p>Meja makan juga mempunyai kemampuan mengubah bahasa. Setengah jam sebelumnya orang-orang masih berbicara tentang <em>follow up</em>, <em>low hanging fruit</em>, dan <em>fine tuning</em>. Kini mereka memperdebatkan nasi Padang lebih enak dibungkus atau makan di tempat, termasuk me-<em>ranking</em> nasi Padang enak di Jakarta.</p><p>Sepiring nasi Padang bisa mengubah siapa saja menjadi kritikus kuliner. Obrolan tentang budget, utilisasi, maupun KPI, berganti cerita soal macet tadi pagi, presiden yang asbun, atau rencana akhir pekan yang belum jelas. Seseorang mulai menertawakan meme yang tadi pagi sempat membuat grup kantor ramai. Yang lain mendadak bercerita tentang anaknya yang baru masuk sekolah. Di meja sebelah, dua orang memperdebatkan siapa striker terbaik musim ini dengan keseriusan yang tadi pagi mereka pakai membahas <em>go/no-go </em>proyek. Selama beberapa puluh menit, bahasa kantor akhirnya kalah oleh bahasa perut. </p><p>Di tingkat negara urusan makan berubah <a href="https://nasional.kompas.com/read/2026/07/03/08385241/deretan-korupsi-terkait-mbg-motor-listrik-kaos-kaki-hingga-ompreng">menjadi bancakan nasional</a>. Mungkin memang begitulah nasib urusan perut: selalu dianggap sederhana, padahal selalu berakhir menjadi perkara besar. Di atas kertas, makan dihitung sebagai program, sementara di meja makan, ia selalu kembali menjadi pengalaman. Di jam istirahat, ia tetap dimulai dari petanyaan yang sama: &#8220;makan apa?&#8221;</p><p>Yang membuat orang selalu menunggu jam makan siang bukan semata-mata makanannya. Mereka sebetulnya sedang menunggu kesempatan untuk keluar dari peran yang sejak pagi dimainkan. Keluar dari ruang rapat, menjauh dari notifikasi, mendengar suara manusia yang tidak sedang presentasi, lalu berbicara tanpa khawatir setiap kalimat berubah menjadi tindak lanjut. Sepiring nasi hanyalah alasan. </p><p>Di hadapan piring makan, kita lebih jujur. Makan siang ternyata bukan jeda dari pekerjaan. Ia adalah jeda dari identitas yang dibawa pekerjaan. Di hadapan piring makan kita lebih jujur. Kita berhenti menjadi direktur, manajer, supervisor, staf, atau anak magang. Tidak ada yang meminta laporan. Tidak ada yang memanggil lewat jabatan. Tidak ada yang harus terdengar pintar. Kita cukup menjadi orang yang sedang lapar, memesan makan, lalu bercerita tentang hal-hal yang tidak akan pernah masuk ke dalam <em>biweekly meeting</em>.</p><p>Mungkin itu sebabnya jam makan siang terasa lebih menenangkan daripada banyak sesi team building, pelatihan motivasi, atau webinar tentang produktivitas. Selama satu jam, tidak ada yang sedang berusaha meyakinkan siapa pun. Orang-orang tidak sedang menjual ide, mempertahankan pendapat, atau mengejar persetujuan. Mereka hanya saling bercerita. Tentang jalan yang macet, anak yang baru masuk sekolah, pertandingan semalam, atau sekadar menertawakan meme yang tadi pagi beredar di grup kantor. Percakapan yang terdengar remeh itu justru mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu harus menghasilkan keputusan.</p><p>Barangkali kesetaraan memang tidak selalu datang dalam bentuk yang megah. Kadang ia hanya hadir sebagai antrean makan siang. Bukan karena semua orang memiliki hidup yang sama, melainkan karena semua orang bisa menjadi dirinya sendiri di ruang yang sama. Selama jam makan siang, tidak ada yang perlu tampil lebih hebat, lebih sibuk, atau lebih penting daripada yang lain. Semua hanya kebetulan duduk di meja yang sama, menghabiskan menu yang berbeda karena sama-sama kelaparan.</p><p>Selama makan siang, kota seperti memberi izin kepada orang-orang untuk bermain peran. Izin itu tidak pernah tertulis, tidak pernah diumumkan, dan selalu dicabut tepat sebelum pukul satu.</p><p>Pukul dua belas lewat empat puluh lima, ritme rumah makan berubah. Sendok bergerak lebih cepat, gelas mulai dikosongkan, Kalimat-kalimat yang tadi mengalir mulai dipendekkan. Semua tampak masih ingin duduk lebih lama, tetapi tahu betul bahwa kebebasan siang itu memiliki tenggat.</p><p>Arus manusia berbalik arah. Rumah makan mulai lengang. Trotoar perlahan kosong. Orang-orang kembali menyeberang menuju gedung yang beberapa saat lalu mereka tinggalkan. Dalam hitungan menit, obrolan tentang sambal berubah lagi menjadi pembahasan anggaran dan revisi yang belum selesai. </p><p>Perbedaan-perbedaan yang tadi sempat mengecil perlahan kembali mengambil tempatnya. Ada yang naik ke lantai paling atas, ada yang kembali ke kubikel, ada yang bergegas mengejar klien berikutnya. Kota kembali mengingatkan setiap orang untuk kembali berperan.</p><p>Kota ini mungkin tidak pernah benar-benar adil, tetapi setiap siang ia selalu memberi kesempatan kecil untuk mengingatkan bahwa rasa lapar tidak pernah bertanya jenis pekerjaan kita. Di kota yang begitu gemar menyusun hierarki dan memberi label pada orang, jam makan siang diam-diam melonggarkannya. Kita kembali menjadi manusia yang sama-sama lapar, sama-sama berharap lauk favorit belum habis, dan antre di giliran yang sama. </p><p>Besok, semuanya akan berulang. Menjelang pukul dua belas, grup WhatsApp kantor kembali ramai. Orang yang sama mengajukan usulan yang sama. Orang yang sama menjawab, &#8220;terserah&#8221;, lalu menolak semua pilihan yang datang sesudahnya. Kota kembali memberi jeda yang sama dengan ritme yang sama. </p><p>Barangkali itu sebabnya percakapan "makan apa?" tidak pernah benar-benar membosankan. Pertanyaan itu selalu terdengar remeh, padahal diam-diam menyelamatkan banyak orang dari hari kerja yang terasa terlalu panjang. Ia memberi alasan untuk berdiri, berjalan keluar gedung, bertemu orang lain, dan mengingat bahwa hidup tidak hanya berlangsung di balik layar monitor.</p><p>Mungkin suatu hari nanti kita akan lupa nama atasan pertama, target kuartal yang pernah membuat lembur seminggu penuh, atau presentasi yang dulu terasa sangat menentukan. Kita akan jauh lebih mudah mengingat semangkuk bubur kampiun di Bopet Mini, ayam pop di Surya, atau obrolan receh yang membuat satu jam di tengah hari terasa terlalu singkat. Barangkali memang begitu cara kota menyimpan ingatannya. Bukan lewat rapat yang selesai dikerjakan, melainkan lewat cerita dan kebiasaan yang lahir di sela-sela jam makan siang.</p><p><em>&#8220;Uda, jangek tambah satu lagi, ya&#8221;</em></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Nyenyenyenye]]></title><description><![CDATA[Jujur, janggal.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/nyenyenyenye</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/nyenyenyenye</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 27 Jun 2026 08:59:25 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/6fd2137c-f0e6-422d-a667-12fce6a555ae_736x944.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Piala Dunia selalu berhasil mengubah rutinitas. Kendati dapat ditonton malam dan pagi hari, tapi bikin warung kopi yang biasa memutar lagu mendadak menyalakan pertandingan, tukang nasi goreng mangkal lebih lama di pos ronda, atau pos sekuriti komplek tidak sesepi biasanya. Saya sendiri diam-diam berharap Spanyol mengangkat trofi. <a href="https://youtu.be/Xx06ueUS43g">Gocekan Lamine Yamal</a> yang meliuk dari sayap kanan sampai ke depan gawang akan selalu jadi ancaman kiper. Belum lagi, akurasi tendangan yang dilepas dari jarak dua puluh meter ke arah tiang dalam.</p><p>Di satu sisi, saya juga getar melihat Perancis yang seperti siap kapan saja. Mereka punya pemain tengah yang andal, pemain depan yang cepat kayak kijang dan tahu kapan harus menyerang. Kalau Spanyol terlihat sabar, Perancis justru terasa meledak-ledak. Dua gaya yang berbeda, tapi sama-sama bikin pertandingan jadi menarik.</p><p>Kalau kata <a href="https://youtu.be/UPtBDvPknz4?t=1588">Ustadz Jojo</a>, pemain depan Perancis&#8212;ia merujuk pada Mbappe, Dembele, Olise&#8212;larinya pada cepat karena waktu kecil sering kabur setelah mencetin bel rumah orang kaya. Saya tertawa lebar. Saya tahu dunia yang sedang ia maksud.</p><p>Sebagai orang yang tumbuh di era 90-an, kebiasaan itu tidak asing. Mencet bel rumah orang, lalu lari sekencang mungkin sebelum pemilik rumah buka pintu. Tidak sopan, tentu saja. Tetapi begitulah masa kecil bekerja. Kita menciptakan hiburan dari apa saja. Bahkan, rasa takut dimarahi orang terasa seperti permainan.</p><p>Dulu saya juga sempat heran melihat orang tidur pakai selimut. Buat apa? Bukannya malah gerah? Sampai akhirnya saya sadar, mereka tidur pakai AC. Sementara saya tidur harus nempelin pipi ke dinding dan pakai kipas angin yang kalau sudah nengok ke kiri, biasanya tidak mau balik lagi.</p><p>Masa kecil juga dipenuhi candaan receh yang sekarang hilang.<br><br><em>&#8221;dicariin tuh&#8221;<br>&#8221;sama siapa?&#8221;<br>&#8221;sama Siti&#8221;<br>&#8221;Siti siapa?&#8221;<br>&#8221;Sitiang listrik&#8221;<br></em><br>Tidak ada yang benar-benar lucu jika dibaca sekarang. Kami tertawa karena berhasil menjebak teman sendiri dengan permainan kata yang ujungnya sudah bisa ditebak. Ringan saja. Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.</p><p>Kalau sudah kehabisan jawaban, biasanya kami punya satu senjata mutakhir. EGP alias &#8220;Emang Gue Pikirin&#8221;.</p><p>Ucapan itu hampir selalu muncul ketika kami malas berdebat. Ketika tidak ingin menjelaskan. Ketika ingin mengakhiri percakapan secepat mungkin. Tidak elegan, memang. Bahkan nyebelin. Tapi, kami masih anak-anak. Tidak semua hal harus diselesaikan dengan argumen yang baik.</p><p>Kalau dipikir-pikir, celetukan ini punya umur. Ada yang lahir di halaman sekolah lalu mati di sana. Ada yang bertahan sampai dewasa. Ada pula yang, entah bagaimana, berhasil naik ke atas panggung. Kalimat yang dulu terdengar wajar di tongkrongan tiba-tiba menjadi bagian dari percakapan publik.</p><p>Sekarang kita juga sering mendengar celetukan seperti, &#8220;aman aja&#8221; dan &#8220;jujur janggal.&#8221; Kalimat-kalimat yang awalnya ringan dan hanya beredar di lingkaran pertemanan, perlahan ikut masuk ke ruang yang lebih luas. Ia muncul di panggung, di layar televisi, bahkan dalam pernyataan resmi.</p><p>Obrolan tongkrongan selalu punya konteks: siapa yang bicara, kepada siapa, dalam suasana seperti apa. Ada kedekatan yang membuat candaan terasa aman, ada pemahaman bersama yang membuat kalimat yang terdengar kasar tetap bisa dimaklumi. Di ruang itu, banyak hal bisa lewat begitu saja tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.</p><p>Masalahnya, tidak semua yang hidup ditongkrongan bisa begitu saja dibawa ke ruang publik, apalagi di atas mimbar berlogo garuda. Di sana, setiap kata berdiri sendiri, didengar oleh orang-orang yang tidak berbagi kedekatan yang sama, tidak berada dalam suasana yang sama, dan tidak selalu memahami maksud dibaliknya.</p><p>Di atas mimbar, kalimat tentang <a href="https://youtu.be/qswoKxCknHg?t=1730">Polisi mengurus pertanian, tentara lebih akrab dengan sawah, angkatan laut sibuk menanam kedelai, angkatan udara mengurus tebu</a> tidak bisa dianggap sepele. Ketika ucapan itu dari mimbar, kita tidak lagi mendengar teman bercanda. Kita mendengar sebuah negara memilih cara menjelaskan dirinya. <br><br>Yang membuat saya khawatir bukan hanya karena polisi tidak boleh memahami pertanian, atau tentara tidak boleh menginjak sawah. Persoalannya bukan pada siapa yang turun ke sawah, melainkan pada cara semua itu diceritakan. Demokrasi bertumpu pada pembagian peran. Polisi menjaga hukum. Tentara menjaga pertahanan. Petani menanam. Kementerian pertanian mengurus pangan. Ketika batas-batas itu terus-menerus diperlakukan&#8212;dengan menyepelekannya&#8212;sebagai sesuatu yang bisa saling dipertukarkan, kita perlahan kehilangan kepekaan terhadap siapa yang seharusnya memikul tanggung jawab.</p><p>Angka sebesar itu membutuhkan penjelasan yang sama besar. Sektor mana, pekerjaan apa, berapa lama. Tetapi yang bertahan di memori publik justru potongan ucapannya. Bukan rencana, hanya tepuk tangannya.</p><p>Terlebih mendengar respons pemimpin mengucap, <a href="https://x.com/boxxtoc/status/2069676182103372131/video/1">&#8220;Emang gue pikirin.&#8221;</a> Jujur, janggal. Bukan karena saya berharap setiap pidato harus terdengar kaku atau penuh istilah resmi, melainkan karena sebuah mimbar selalu mengubah bobot setiap kata. </p><p>Di atas mimbar, ucapan bukan lagi sekadar respons spontan. Ia adalah cara pandang. Ia bisa menjadi arah. Ia juga bisa menjadi contoh tentang bagaimana kekuasaan memperlakukan kritik. Ketika penjelasan diganti dengan celetukan, yang hilang bukan sekadar jawaban, tetapi penghormatan terhadap gagasan.</p><p>Barangkali karena itulah saya sering merasa ikut malu. Ada istilah untuk itu: <em>secondhand embarrassment</em>. Bahasa sederhananya, <em>&#8220;lo yang ngelakuin, gue yang malu.&#8221;</em> Saya menduga tidak hanya saya yang merasakannya. Setiap kali potongan-potongan itu lewat di layar ponsel, saya justru berharap videonya cepat selesai.</p><p>Saya kira persoalannya bukan rasa malu. Rasa malu justru tanda bahwa kita masih menyadari ada yang tidak beres. Persoalannya dimulai ketika perasaan itu pelan-pelan menghilang. Ketika kita terlalu sering mendengarnya sampai akhirnya menganggap semuanya biasa.</p><p>Kalau disadari, selama bertahun-tahun percakapan publik kita dibentuk oleh dua kebiasaan yang sama-sama melelahkan. <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150705121504-20-64441/jangan-sampai-jokowi-bilang-tidak-baca-lagi-pp-yang-dia-teken">Kita pernah hidup dengan terlalu sedikit kata.</a> Kebijakan datang lebih dulu, sementara penjelasannya tertinggal. Hari ini keadaannya berbalik. Penjelasan tidak lagi langka. <a href="https://x.com/bismillahyuk_/status/2070162992994595283?s=20">Yang berlimpah justru ucapan</a>. Percakapan publik berpindah dari ruang yang terlalu sunyi ke ruang yang terlalu bising.</p><p>Yang satu terlalu sedikit bicara sehingga orang sibuk menebak. Yang satunya lagi terlalu banyak bicara sehingga orang berhenti mendengar.</p><p>Dua hal berbeda, tetapi meninggalkan akibat yang hampir sama. Kita sama-sama kehilangan gambaran tentang seperti apa percakapan yang baik seharusnya terdengar. Kita terbiasa hidup dari tafsir, kini dijejali celetukan.  Padahal, bahasa diciptakan untuk membantu orang memahami sesuatu, bukan sekadar bahan untuk dibagikan.</p><p>Belakangan saya mulai percaya bahwa kualitas sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh kebijakannya, tetapi juga oleh cara pemimpinnya bercakap.  Apa yang awalnya terdengar sebagai celetukan, lama-lama menjadi kebiasaan. Apa yang mula-mula dianggap sekadar gaya, perlahan berubah menjadi standar.</p><p>Bukan berarti ruang publik harus kehilangan humor. Saya masih tertawa mendengar cerita Ustadz Jojo dengan hafalan lelucon 90-an. Saya masih tersenyum ketika mengingat &#8220;Sitiang listrik&#8221;, taruhan mengecat es batu, menambal ban kereta, atau nyentil tahi lalat Pak SBY. Candaan tongkrongan selalu punya tempatnya sendiri. Ia lahir dari kedekatan, dari kesepahaman, dari ruang yang memang disediakan untuk saling menertawakan.</p><p>Yang membedakan hanyalah panggungnya. Ada panggung yang memang dibuat untuk membuat orang tertawa. Ada pula panggung yang membuat satu kalimat terus hidup setelah acaranya selesai. Orang membawanya pulang, mengulanginya di meja makan, di kantor, di grup WhatsApp. Lama-kelamaan, cara itu terdengar biasa.</p><p>Mungkin itulah dampak yang paling sunyi. Lamine Yamal tidak perlu mengajari anak-anak cara menggiring bola. Cukup satu pertandingan, lalu esok harinya mereka akan mencoba gocekannya di lapangan. Kata-kata bekerja dengan cara yang hampir sama. Kita perlahan terbiasa mendengar pemimpin berbicara tanpa merasa perlu memilih kata-katanya. Sedikit demi sedikit, kita ikut menganggap bahwa mengejek lebih mudah daripada menjelaskan, bahwa celetukan bisa menggantikan jawaban, dan bahwa mengakhiri percakapan lebih penting daripada merawatnya. Tanpa sadar, standar cara kita berbicara ikut bergeser.</p><p>Barangkali memang begitu cara sebuah kebiasaan lahir. Bukan karena kita sepakat dengannya, tetapi karena kita terlalu sering mendengarnya. Sedikit demi sedikit, yang dulu terasa janggal berubah menjadi biasa. Lama-kelamaan, kita tidak lagi mempertanyakan cara seseorang berbicara. Kita hanya menunggu <a href="https://x.com/console_age/status/2070095126207312319/video/4">&#8220;nyenyenye&#8221;</a> berikutnya.</p><p>Jika di kemudian hari anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa cara paling mudah mengakhiri percakapan adalah menolak menjelaskan, mengejek orang yang bertanya, atau menganggap kritik tidak layak dijawab, barangkali mereka hanya sedang meniru orang-orang dewasa yang terlalu sering mereka dengar.</p><p>Toh, kalau nanti ada yang bertanya sejak kapan semua itu dimulai, kita mungkin sudah terlalu biasa dengan satu jawaban yang dulu hanya pantas diucapkan anak-anak 90-an yang kehabisan alasan.</p><p>&#8220;Emang gue pikirin!&#8221;</p><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[The Fade]]></title><description><![CDATA[Four days and how quickly they disappear]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/the-fade</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/the-fade</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Thu, 25 Jun 2026 13:47:29 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>There&#8217;s a moment when you land in a place for work and realize you&#8217;ve forgotten how to be a tourist. You&#8217;re too busy learning names, finding the bathroom, figuring out which email went to the wrong person. But somewhere in the margins of those four days, something happened that felt familiar in a way I couldn&#8217;t place. Like recognizing a song you haven&#8217;t heard in years.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg" width="1179" height="1474" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/bb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:1474,&quot;width&quot;:1179,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:929685,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:true,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/203555535?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!Jjt7!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fbb7ddc3d-4016-4c75-b942-a6002b1ff336_1179x1474.jpeg 1456w" sizes="100vw" fetchpriority="high"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a><figcaption class="image-caption">Everything was bright and loud</figcaption></figure></div><div class="image-gallery-embed" data-attrs="{&quot;gallery&quot;:{&quot;images&quot;:[{&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/db7dbeeb-fd8a-4481-af9f-4eee1db70d7c_1179x1474.jpeg&quot;},{&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/4d7741a7-da77-4daa-8afd-23c34f83e62e_1179x1474.jpeg&quot;},{&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/e1276a79-5aa3-4ded-b2b7-1c4cad4057fb_1179x1474.jpeg&quot;}],&quot;caption&quot;:&quot;Walking between meetings. A moment by a wall. A scooter. A street corner. These are the things that should have stayed, but didn't&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;,&quot;staticGalleryImage&quot;:{&quot;type&quot;:&quot;image/png&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/dfb0a652-673c-49ec-89de-9ffb6febd4fe_1456x474.png&quot;}},&quot;isEditorNode&quot;:true}"></div><p>I kept thinking I&#8217;d been here before, not the venue, not this street, but something about the rhythm of walking, the smell of food I couldn&#8217;t name, the way the light hits a building at a certain angle. It nagged at me. I&#8217;d mention it to someone and they&#8217;d nod politely and we&#8217;d move on to the next agenda item. By afternoon I&#8217;d forgotten what I was trying to remember.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg" width="1179" height="1474" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:1474,&quot;width&quot;:1179,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:847601,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/203555535?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!0rUl!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F51a6cdb6-0f1c-4550-9ae8-d3878c036d92_1179x1474.jpeg 1456w" sizes="100vw"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a><figcaption class="image-caption"><em>I saw this and stopped. I don&#8217;t know why. I took the photo and kept walking.</em></figcaption></figure></div><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg" width="1179" height="1474" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:1474,&quot;width&quot;:1179,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:799963,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/203555535?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!PgWN!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F32bf7415-0d97-408e-b45f-c7ae049b519f_1179x1474.jpeg 1456w" sizes="100vw"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a><figcaption class="image-caption"><em>There were quiet moments too. Not many. But they were there.</em></figcaption></figure></div><div class="image-gallery-embed" data-attrs="{&quot;gallery&quot;:{&quot;images&quot;:[{&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/d945193e-413e-42ba-8974-83107e1c9c6d_1179x1474.jpeg&quot;},{&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/fca64abf-32fa-43d4-96f4-7a38e370cbd5_3204x4005.jpeg&quot;}],&quot;caption&quot;:&quot;Looking up. Looking for something. &quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;,&quot;staticGalleryImage&quot;:{&quot;type&quot;:&quot;image/png&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/82a01268-6f4b-49ca-ae66-6709e43a4189_1456x720.png&quot;}},&quot;isEditorNode&quot;:true}"></div><p>On the plane back, I tried to write down what stayed with me. The list was shorter than I expected &#8212; a smell, a color, that spiral I still can&#8217;t explain. Everything else had already started to fade. The meetings blur together now. The streets are just streets. Whatever felt familiar is gone, replaced by the vague sense that I&#8217;ve forgotten something important. Or maybe I&#8217;m just forgetting that I tried to remember at all.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Sebelum Terbang]]></title><description><![CDATA[Beberapa kebiasaan tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya semakin jarang dilakukan sampai suatu hari kita sadar ada cerita-cerita kecil yang tidak lagi tahu harus pergi ke mana.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/sebelum-terbang</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/sebelum-terbang</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sun, 21 Jun 2026 18:47:03 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/445686a2-2d1e-4adb-81da-05f12d9c29c3_1078x1200.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini saya seperti babi yang baru makan dua kilo rumput liar. Kelelahan, bau, dan ingin rebahan. Namun anehnya saya cukup bahagia. Barangkali karena hari ini saya berhasil menjalani banyak hal tanpa terus-menerus memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu saya pikirkan. Kedengarannya sederhana, tetapi saya mulai curiga bahwa sebagian besar kelelahan manusia tidak berasal dari pekerjaan. Sebagian berasal dari pikirannya sendiri yang bekerja lembur menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu ada.</p><p>Saya menghabiskan waktu cukup lama di bandara. Jadwal keberangkatan jelek. Jadwal kepulangan pun nanggung. Layar informasi diperbarui berkali-kali. Pada akhirnya saya tidak bisa melakukan banyak hal selain menunggu. Waktu di bandara terasa seperti rapat koordinasi lintas kementerian: semua orang hadir, semua orang bergerak, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu kapan sesuatu akan dimulai.</p><p>Bandara memang tempat yang aneh. Ia mempertemukan orang-orang yang sedang terburu-buru dengan kenyataan bahwa mereka tidak bisa ke mana-mana. Seorang bapak menyeret koper dengan satu roda yang copot. Seorang anak kecil berlari mengelilingi ruang tunggu sementara orang tuanya tampak sudah pasrah dengan takdir. Saya, di tengah semua itu, berkali-kali menemukan hal-hal yang terasa menarik untuk diceritakan meski sebenarnya tidak penting-penting amat.</p><p>Biasanya, saya mungkin akan mengirim pesan tentang harga kopi bandara yang tidak masuk akal, tentang koper jengjot, tentang bandara NAIA yang nuansanya kayak sekre mahasiswa, tentang saya juga sempat diajak seorang penumpang untuk ikut ngevlog di pesawat. Kurang lebih hal-hal kecil yang tidak mengubah dunia, tetapi terasa perlu dibagikan kepada seseorang&#8212;menurut saya.</p><p>Keinginan itu sempat muncul beberapa kali. Saya bahkan sudah menyusun kalimatnya di kepala. Lalu saya biarkan menguap begitu saja. Tidak ada alasan untuk mengirimkannya. Tidak ada persoalan yang harus diselesaikan. Saya hanya terbiasa menjadikan seseorang sebagai tujuan dari banyak hal remeh yang terjadi dalam pandangan.</p><p>Masalahnya, hal-hal yang tidak jadi diucapkan sering kali tidak benar-benar pergi. Mereka tetap tinggal di kepala dan mencari bentuk lain untuk keluar. Saya tahu betapa mudahnya pikiran bekerja seperti itu. Satu pesan yang terlambat dibalas bisa berubah menjadi sidang kabinet darurat. Satu kalimat yang terdengar biasa bisa berkembang menjadi teori konspirasi lengkap dengan analisis, dugaan, dan kesimpulan yang bahkan tidak diminta.</p><p>Dalam hal ini, saya rasa kehidupan pribadi tidak jauh berbeda dengan politik Indonesia. Kita jarang kekurangan fakta, tetapi hampir selalu kelebihan tafsir. Sebuah kejadian sederhana bisa dipelintir menjadi puluhan kemungkinan sampai bentuk aslinya tidak lagi dikenali. Dan seperti kebanyakan analis politik yang terlalu lama menatap data, saya sering kali berakhir lebih bingung daripada saat memulainya.</p><p>Karena itu saya memilih diam dan menunggu hari berlalu. Saya tahu bagaimana kepala saya bekerja. Ia bisa mengambil satu hal kecil lalu mengunyahnya sepanjang hari sampai rasanya berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.</p><p>Mungkin karena itu juga saya mulai mengenali beberapa hal yang sebaiknya dihindari. Ada lagu-lagu tertentu yang kadang saya lewati begitu saja. Ada kalimat-kalimat yang terdengar terlalu akrab. Ada momen-momen tertentu yang saya potong sebelum sempat berkembang menjadi apa-apa. Saya paham cara seperti ini tidak menyelesaikan apa pun. Namun saya juga tidak sedang berusaha menyelesaikan semuanya. Saya hanya sedang bersiasat.</p><p>Sebab ingatan punya kebiasaan yang cukup menyebalkan. Ia jarang datang ketika kita siap. Ia muncul ketika hari sedang baik-baik saja. Ketika pekerjaan selesai. Ketika suasana hati sedang ringan. Ketika kita sedang menikmati sesuatu tanpa beban berarti. Lalu tiba-tiba sebuah lagu diputar, seseorang mengucapkan kalimat yang mirip, atau sebuah suasana mengingatkan pada sesuatu yang sudah lama tidak dipikirkan. Setelah itu, hal-hal yang semula sederhana mulai kehilangan bentuk aslinya.</p><p>Kadang saya hanya ingin duduk diam tanpa harus memikirkan hal lain. Kadang saya hanya ingin menunggu pesawat dan menjadi penumpang biasa seperti orang-orang lainnya. Kedengarannya mungkin seperti bentuk pelarian, dan mungkin memang begitu. Namun sejauh ini saya cukup nyaman dengan pengaturan tersebut. Tidak semua ingatan harus diberi kursi di meja makan.</p><p>Meski begitu, beberapa tetap berhasil lolos. Mereka muncul tanpa izin dan tanpa alasan yang jelas. Seperti sekarang, misalnya. Beberapa menit sebelumnya saya masih sibuk memperhatikan hal-hal tidak penting di sekitar saya. Setelah itu saya hanya duduk diam dan membiarkan pengumuman keberangkatan lewat tanpa benar-benar mendengarkannya.</p><p>Ia hanya lewat sebentar, membuat sedikit keributan, lalu menghilang lagi ke arah yang tidak saya ketahui.</p><p>Untungnya, seperti kebanyakan penumpang di bandara, ingatan juga akhirnya pergi. Tidak lama kemudian semuanya kembali biasa saja. Seorang bapak masih menyeret koper yang rodanya tinggal tiga. Anak kecil itu masih berlari ke sana kemari</p><p>Saya sempat ingin menceritakan semua itu.</p><p>Ya, begitu.</p><p>Sudah <em>boarding</em> juga.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tidak Tahu Bukan Berarti Tidak Ada]]></title><description><![CDATA[Salah satu kemampuan yang sampai hari ini belum berhasil saya pelajari adalah kemampuan ibu menemukan barang yang hilang.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/tidak-tahu-bukan-berarti-tidak-ada</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/tidak-tahu-bukan-berarti-tidak-ada</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 12:57:15 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/925ba1ab-0476-408e-b8d2-d0ca0fc00329_360x452.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu kemampuan yang sampai hari ini belum berhasil saya pelajari adalah kemampuan ibu menemukan barang yang hilang. Entah itu remote tv, gunting kuku, atau kunci motor. Polanya selalu sama. Saya sudah membongkar meja, membuka laci, mengangkat bantal sofa, lalu mengumumkan dengan penuh keyakinan bahwa barang tersebut hilang. Setelah beberapa menit, ibu datang, melihat ke arah yang sama persis dengan yang sudah saya lihat berkali-kali, lalu menemukan barang itu dalam hitungan detik.</p><p>Setelahnya biasanya muncul kalimat yang akrab di telinga: &#8220;kalau nyari pakai mata.&#8221;</p><p>Kalimat itu selalu terdengar menyebalkan karena kita merasa sudah hati-hati mencarinya. Saya paham kalau remote tv itu tidak muncul secara ajaib setelah ditemukan. Gunting kuku juga tidak berpindah tempat. Barang tersebut sudah berada di sana sejak awal. Yang lain hanyalah kemampuan saya melihatnya.</p><p>Belakangan saya sadar bahwa banyak hal dalam hidup luput dari perhatian bukan karena tersembunyi, tetapi juga karena terlalu dekat, terlalu sering terlihat, atau terlalu lama dianggap biasa. Ketika sesuatu terus-menerus hadir di sekitar kita, perhatian perlahan berhenti bekerja. </p><p>Dari situ saya mulai berpikir, mungkin banyak hal dalam hidup sebenarnya mirip dengan remote tv atau gunting kuku yang saya cari. Ia tidak hilang. Saya saja yang gagal melihatnya. </p><p>Kesadaran itu membuat saya sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya lewat begitu saja. Orang yang sama yang menyapa saya setiap pagi. Sudut jalan yang saya lewati hampir setiap hari. Cerita-cerita yang terdengar berulang sampai akhirnya berhenti saya dengarkan. Rupanya sesuatu tidak harus disembunyikan untuk luput dari perhatian. Kadang ia cukup hadir terlalu lama di sekitar kita.</p><p>Misalnya, mereka yang memiliki pekerjaan stabil sering kesulitan membayangkan kecemasan orang yang hidup dari kontrak ke kontrak berikutnya. Kita sebal melihat mahasiswa yang melakukan aksi di tengah kota di sela menuju Grand Indonesia. Yang paling mudah terlihat adalah kemacetan yang mereka sebabkan, bukan persoalan yang sedang mereka bawa.</p><p>Perasaan bahwa sesuatu tidak ada karena tidak kita alami sering menjadi lebih kuat ketika banyak orang berpikir hal yang sama. Lama-kelamaan, sesuatu dianggap benar hanya karena dipercaya oleh banyak orang. Sesuatu dianggap wajar hanya karena sudah sering dilakukan. Akibatnya, kita tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar. Kita hanya merasa tenang karena banyak orang lain juga mempercayainya.</p><p>Yuval Noah Harari dalam <em>Sapiens</em> menjelaskan bahwa manusia mampu bekerja sama dalam jumlah besar karena mempercayai cerita yang sama. Uang, negara, hukum, dan berbagai institusi sosial berdiri di atas kesepakatan kolektif. Kemampuan ini memungkinkan manusia membangun peradaban dalam skala yang tidak pernah dicapai spesies lain. Namun kemampuan yang sama juga melahirkan persoalan lain. Cerita yang dipercaya bersama dapat berubah menjadi selubung yang menutupi kenyataan. Ketika sebuah gagasan memperoleh cukup banyak pengikut, keraguan dan perbedaan sering diperlakukan sebagai gangguan.</p><p>Barangkali setiap zaman memiliki mantra-mantranya sendiri. Kalimat yang cukup kuat untuk menghentikan pertanyaan sebelum sempat selesai diajukan. Kalimat yang terdengar begitu baik sehingga orang merasa tidak sopan jika meragukannya.</p><p>Mungkin karena itu banyak pejabat menyukai frasa &#8220;kepentingan umum&#8221;. Kalimat ini memiliki kemampuan istimewa. Ia dapat membuat sebuah keputusan terdengar mulia sebelum sempat diperiksa lebih jauh. Ketika sebuah kebijakan menuai protes, ketika fasilitas publik tiba-tiba berubah fungsi, atau ketika warga mempertanyakan sebuah keputusan yang terasa janggal, <a href="https://wartaekonomi.co.id/read616948/pemerintah-tak-mau-hentikan-program-mbg-masa-anak-sekolah-gak-boleh-makan-lagi">frasa itu sering muncul seperti kartu sakti yang dikeluarkan di saat genting</a>. Kadang ia bernama &#8220;kepentingan umum&#8221;, kadang &#8220;ketertiban&#8221;, kadang &#8220;kenyamanan bersama&#8221;. Istilahnya bisa berbeda, tetapi semuanya memiliki kemampuan yang sama: membuat sebuah keputusan terdengar lebih mulia daripada dampaknya. Begitu diucapkan, orang-orang biasanya mengangguk dengan khidmat, seolah kepentingan umum adalah sosok yang baru saja hadir di ruangan dan wajib dihormati. Padahal tidak ada yang benar-benar tahu wajahnya seperti apa.</p><p>&#8220;Kepentingan umum&#8221; sering diperlakukan seperti kerabat jauh yang namanya selalu disebut dalam rapat keluarga, tetapi tidak pernah hadir secara langsung. Semua orang mengaku membelanya. Semua orang berbicara atas namanya. Anehnya, kelompok yang paling sering diminta berkorban demi kepentingan umum biasanya adalah kelompok yang paling sering diminta untuk beradaptasi.</p><p>Di sinilah kelompok yang tidak masuk dalam narasi mayoritas sering memperoleh peran yang tidak mereka minta. Mereka menjadi pihak yang diminta mengerti lebih dulu, mengalah lebih dulu, menyesuaikan diri lebih dulu, dan bersabar lebih lama. Dalam banyak kasus, kesetaraan terdengar seperti undangan yang terbuka untuk semua orang. Setelah masuk ke dalam ruangan, sebagian orang baru sadar bahwa kursinya tidak pernah disediakan. </p><p>Saya bersinggungan cukup lama untuk mengetahui bahwa &#8220;mantra&#8221; tersebut bisa berarti banyak hal. <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cwy2r29pepko">Kadang ia hadir dari pengamanan aparat berlebihan untuk pembangunan</a>, <a href="https://www.kompas.id/artikel/mengapa-ruu-polri-yang-baru-disahkan-pemerintah-dan-dpr-dinilai-kontroversial">kadang ia hadir dalam aturan yang terdengar masuk akal bagi sebagian besar orang</a>, atau kadang ia muncul di trotoar yang tiba-tiba kehilangan pejalan kaki karena berubah fungsi menjadi tempat parkir. Kadang ia hadir dalam aturan yang terdengar masuk akal bagi sebagian besar orang, tetapi membuat sebagian lainnya harus mengubah cara hidup mereka. Perbedaannya sering bergantung pada di mana kita berdiri.</p><p>Situasi semacam itu jarang lahir dari niat buruk yang terang-terangan. Sebagian besar tumbuh dari kebiasaan. Dari cara pandang yang diwariskan begitu saja. Dari asumsi-asumsi yang diterima tanpa pernah benar-benar diperiksa. Ketika sebuah pandangan diulang cukup lama oleh cukup banyak orang, ia tidak lagi terdengar seperti pendapat. Ia mulai terdengar seperti kenyataan.</p><p>Ketika mendengar pengalaman yang tidak pernah mereka alami, banyak orang merespons dengan percaya diri yang tenang: itu mungkin terjadi, tapi bukan masalah bagi sebagian besar orang. Pengalaman tersebut tidak pernah masuk ke dalam cara pandang yang mereka kenal. Maka mereka mengira cara melihat mereka adalah melihat yang benar.</p><p>Hutan akan kehilangan fungsinya setelah 2.000 buldozer datang, meski sebagian besar orang tidak pernah tahu alasannya. Trotoar yang berubah fungsi tetap menyulitkan pejalan kaki, meski banyak orang melewatinya tanpa berpikir dua kali. Kenyataan tidak berubah hanya karena perhatian kita sedang tertuju ke tempat lain.</p><p>Mungkin di situlah letak persoalannya. Kita mengira sesuatu hanya nyata ketika berhasil masuk ke dalam perhatian kita. Seolah sesuatu baru dianggap nyata setelah berhasil masuk ke dalam pengalaman pribadi. Seolah sesuatu harus menyentuh hidup kita lebih dulu sebelum layak dipercaya. Padahal sebagian besar kehidupan berjalan jauh di luar jangkauan pandangan kita.</p><p>Saya memahami bahwa ketidaktahuan bukanlah masalah tunggal. Tidak ada manusia yang bisa mengetahui segalanya. Masalah muncul ketika ketidaktahuan berubah menjadi keyakinan. Ketika seseorang mulai percaya bahwa apa yang tidak ia lihat pasti tidak ada. Ketika keterbatasan pengalaman pribadi diam-diam dipromosikan menjadi ukuran bagi cara pandangnya.</p><p>Mungkin karena itu saya terus mengingat kalimat sederhana yang sering diucapkan ibu ketika menemukan remote tv atau gunting kuku yang saya cari-cari. Semakin lama saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa nasihat itu tidak pernah benar-benar berbicara tentang remote tv maupun gunting kuku. Dalam kacamata lain, ia berbicara tentang sesuatu yang lebih luas. Tentang kesediaan untuk menerima bahwa apa yang luput dari perhatian kita belum tentu tidak ada.</p><p>Barangkali banyak persoalan bermula dari satu kesalahan yang sama, yakni terlalu cepat meyakini bahwa sesuatu tidak ada dan tidak terjadi hanya karena kita tidak mengetahui. Padahal, sebenarnya kita hanya belum berhasil melihatnya. Sayangnya, menemukan sesuatu sering menuntut kesediaan untuk mengakui bahwa kita mungkin keliru sejak awal. Masalahnya, tidak semua orang ingin menemukannya.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Pada Jam Pulang Kantor]]></title><description><![CDATA[Ketika harga naik lebih cepat daripada penjelasan, keputusan datang lebih dulu daripada alasan, dan sepuluh ditambah enam bisa menjadi tujuh belas, tetap waras adalah sebuah kemewahan.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/pada-jam-pulang-kantor</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/pada-jam-pulang-kantor</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Thu, 11 Jun 2026 15:10:41 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/9f919e63-5d8c-4231-94d0-1a350c992ff4_4032x3024.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Pada jam pulang kantor, kehidupan terlihat lebih jujur. Orang-orang kehabisan energi untuk memainkan peran. Kelelahan sudah terlalu nyata untuk disangkal. Di kereta atau Transjakarta, orang-orang berdiri sambil menggenggam tiang besi dan pikirannya masing-masing. Sebagian sedang menunggu panggilan kerja yang tak kunjung datang. Sebagian baru kehilangan pekerjaan dan belum sempat memberitahu keluarganya. Sebagian sedang memikirkan biaya sekolah anak. Sebagian diam-diam menghitung cicilan yang akan jatuh tempo minggu depan. Wajah mereka tampak tenang, tetapi ketenangan sering kali hanya nama lain dari kelelahan yang lama dipelihara.</p><p>Sepanjang perjalanan, mereka membaca berita seperti membaca hasil pemeriksaan kesehatan yang belum tentu baik sebab <a href="https://nasional.kontan.co.id/news/harga-bensin-naik-lagi-giliran-pertamax-naik-jadi-rp-16250-mulai-hari-ini-106">harga bahan bakar bisa naik tengah malam</a> atau <a href="https://www.kompas.id/artikel/misteri-perubahan-pasal-usia-pensiun-jenderal-polisi">kebijakan bisa gol dalam rapat dua malam</a>. Setiap kabar baru terasa seperti kemungkinan masalah baru. Ada perasaan bahwa hidup sedang berjalan terlalu cepat untuk dikejar, tetapi terlalu lambat untuk diperbaiki. Keadaan berubah sebelum sempat dipahami. Orang-orang dipaksa beradaptasi sebelum sempat menerima. Dan perlahan, rasa was-was berubah menjadi kebiasaan yang ikut duduk bersama kita saat sarapan, ikut bekerja sepanjang hari, lalu ikut pulang menjelang malam.</p><p>Di dalam bus berembun yang bergerak pelan di tengah kemacetan, statistik memiliki wajah. Angka pengangguran tidak lagi berupa persentase, melainkan seseorang yang sedang membuka surel berkali-kali dengan harapan menemukan kabar baik. Kondisi ekonomi tidak lagi berupa grafik, melainkan tarikan napas panjang sebelum seseorang menempelkan kartu pembayaran pada mesin. Di sana, kehidupan kehilangan istilah-istilah besarnya dan kembali menjadi sesuatu yang sederhana: usaha untuk bertahan sampai besok.</p><p>Orang-orang tetap berusaha menjalani hidup seperti biasa. Mereka membuat rencana, menyusun target, membaca ponsel, atau sekadar memikirkan apa yang akan dilakukan setelah turun dari transportasi. Dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Namun saya sering merasa sebagian besar dari kita tidak sedang &#8220;mengejar kesuksesan&#8221;. Kita sedang mengejar rasa aman karena belakangan hidup terasa seperti permainan yang aturan mainnya berubah sebelum sempat dipahami. Ketika satu persoalan berhasil diatasi, persoalan lain sudah menunggu di tikungan berikutnya. Mungkin itu sebabnya banyak orang terlihat lelah meski hanya berdiri di dalam kereta. Mereka terus memikirkan masa depan yang bentuknya semakin sulit ditebak. Mereka menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi di belakang semua itu selalu ada pertanyaan yang menggantung: apa lagi yang akan berubah setelah ini?</p><p>Dari balik kaca-kaca Gatot Subroto atau Medan Merdeka, banyak keputusan lahir sebelum sempat dipahami oleh mereka yang harus menanggung akibatnya. Dari satu meja rapat, biaya hidup bisa bertambah bahkan untuk orang-orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Tiap keputusan yang diambil seolah tidak pernah meminta izin dari mereka yang berdiri menggenggam tiang besi sambil menghitung cicilan bulan depan.</p><p>Orang-orang di bis atau kereta tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari percakapan. Mereka tidak diminta pendapat tentang keputusan yang akan mengubah pengeluarannya tiap bulan. Mereka hanya mengenali dampaknya ketika harga berubah, ketika tagihan bertambah, atau ketika rencana yang sudah disusun harus diatur ulang. Padahal, di tengah keadaan seperti itu, sebagian orang kehilangan pekerjaan. Sebagian kehilangan usaha. Sebagian kehilangan keyakinan bahwa hidup akan bergerak ke arah yang lebih baik. </p><p>Tidak ada konferensi pers untuk mengumumkan seseorang yang menyerah mengirim lamaran setelah ditolak berkali-kali. Tidak ada siaran langsung ketika seorang pedagang memutuskan menutup tokonya karena tak lagi sanggup menutup biaya operasional. Tidak ada <em>breaking news</em> ketika seseorang membatalkan mimpinya karena tabungannya tidak lagi cukup. Kehilangan-kehilangan semacam itulah yang sebenarnya memenuhi kota ini setiap hari.</p><p>Sialnya, keadaan itu tidak membuat meteran listrik berputar lebih lambat atau menghapus tagihan air. Pemilik kontrakan tidak pernah bertanya apakah bulan ini keadaan sedang sulit. Dunia tidak memberi diskon kepada orang yang sedang berduka. Ia tetap meminta pembayaran pada tanggal yang sama. Kehidupan orang dewasa memiliki selera humor yang buruk. Boleh jadi benar, Sapardi merasa tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni. Bukan karena mereka benar-benar kuat, melainkan karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk hancur.</p><p>Karena itu, lelah bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Menangis bukan kegagalan. Kecewa bukan kelemahan. Terkadang bangun dari tempat tidur saja sudah terasa seperti pencapaian. Sebab bertahan sampai malam membutuhkan lebih banyak keberanian daripada yang mampu dipahami orang lain. Jakarta mengetahui itu. Kota ini terlalu sering melihat manusia berjalan sambil membawa beban yang tidak terlihat untuk menghakimi siapa pun yang memilih berhenti sejenak.</p><p>Di titik ini, tetap waras menjadi kemewahan. Barangkali karena itu pula tidak ada jalan lain selain saling menjaga. Tidak dengan kata-kata besar atau kutipan seminar, melainkan dengan memastikan bahwa ketakutannya tidak ditanggung sendirian. Bahwa ada orang lain yang juga sedang cemas memikirkan pekerjaan, memikirkan orang tua, memikirkan biaya hidup, dan tetap memilih bangun besok pagi. Kadang cukup dengan mendengar dan bertanya kabar terasa seperti pelukan. </p><p>Ketika harga naik lebih cepat daripada penjelasan, ketika keputusan datang lebih dulu daripada alasan, dan ketika akal sehat sesekali diminta berkompromi dengan kenyataan, bertahan adalah pilihan relevan. Lagi pula, di masa ketika <a href="https://x.com/tempodotco/status/2064996067016577424?s=20">seseorang bisa tetap memantau kita setelah dipanggil Tuhan</a> dan sepuluh ditambah enam bisa menjadi tujuh belas, menjadi waras mungkin satu-satunya hal yang masih tidak membutuhkan penjelasan.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Beras Tidak Bisa Ikut Meditasi]]></title><description><![CDATA[Kita diajarkan mengelola stres, bersyukur, dan memperbaiki diri. Sementara itu harga pangan naik, rumah makin jauh dari jangkauan, dan semua itu terus dianggap "semua kembali ke diri sendiri."]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/beras-tidak-bisa-ikut-meditasi</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/beras-tidak-bisa-ikut-meditasi</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 30 May 2026 07:48:11 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/b9e03ba7-d754-4fd2-8dbe-d9bf39ac00ea_626x626.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Entah sejak kapan kalimat itu jadi jawaban untuk segalanya. Seseorang mengeluh soal tekanan hidup yang tidak kunjung ringan, dijawab dengan kalimat itu. Seseorang frustrasi dengan sistem yang berputar-putar tanpa ujung, dijawab dengan kalimat yang sama. </p><p><em>&#8220;Semua kembali ke diri sendiri.&#8221;</em></p><p>Seringkali diucapkan dengan nada setenang orang yang baru selesai retreat meditasi di Magelang selama tiga hari dua malam,seolah ia baru turun dari gunung membawa wahyu yang sudah lama kita tunggu. Saya dengarkan, saya angguk-anggukkan kepala, lalu saya pikir: ini kebijaksanaan, atau kita semua sedang belajar menyerah dengan lebih estetik?</p><p>Kalimat itu sudah jadi semacam mantra resmi lintas generasi. Ia muncul di  di podcast self-improvement yang didengarkan sambil macet, di kolom komentar ketika seseorang berkeluh soal kelelahan, di akhir obrolan yang tidak tahu harus menjawab apa, atau hasil pemilu yang membuat perut mulas. Ia hadir di mana-mana dengan wajah bijak dan nada tenang, seperti guru spiritual yang selalu punya jawaban untuk segala pertanyaan, termasuk pertanyaan yang sejatinya tidak butuh jawaban spiritual.</p><p>Dalam beberapa hal, buat saya, kembali ke diri sendiri lebih sering terasa seperti orang yang kehabisan jawaban, lalu mengubah kebingungannya menjadi nasihat. Bukan pencerahan. Bukan resolusi. Ya, semacam nama lain dari menyerah cuma diucapkan dengan postur tubuh orang yang baru selesai yoga.</p><p>Mungkin kembali ke diri sendiri adalah kompromi terakhir yang tersisa. Kita tidak bisa mengubah keadaan, jadi setidaknya kita mencoba mengubah cara memandangnya. Saya tidak menyalahkan siapa pun yang mengucapkannya. Karena sejujurnya, apa lagi yang bisa dilakukan?</p><p>Mungkin kalimat itu tidak sepenuhnya salah. Untuk urusan luka pribadi, cara kita merespons kekecewaan, atau pola pikir yang menghambat diri sendiri, kembali ke dalam memang kadang perlu. Tapi menempatkannya pada setiap aspek kehidupan, termasuk yang jelas-jelas struktural, rasanya seperti kemalasan berpikir yang dipertahankan atas nama kebijaksanaan. Dampaknya tidak kecil. <br><br>Setiap lima tahun sekali, kita punya kesempatan untuk menentukan arah. Tapi ketika semua orang sibuk healing dan inner work, urusan publik perlahan berubah menjadi latar belakang. Kita belajar mengatur ekspektasi, mengelola stres, dan menerima keadaan, sementara keputusan-keputusan yang membentuk keadaan itu terus berjalan tanpa banyak gangguan.</p><p>Tapi ada satu hal yang sering hilang setiap kali kalimat itu diucapkan: kemungkinan bahwa sumber masalahnya memang tidak berada di dalam diri. Bahwa ada sesuatu di luar sana yang ikut membentuk hidup kita, dan ia tetap bekerja terlepas dari seberapa rajin kita bermeditasi, bersyukur, atau memperbaiki diri.</p><p>Soal rumah, misalnya. Generasi kita tumbuh diberitahu bahwa kalau rajin menabung dan tidak boros, suatu hari bisa punya hunian sendiri. Kenyataannya, <a href="https://www.kompas.id/artikel/soal-rumah-jakarta-lebih-mahal-dari-tokyo-dan-paris-2">harga properti di kota tumbuh jauh melampaui kemampuan beli kebanyakan orang</a> dan kebijakan perumahan selama puluhan tahun lebih berpihak pada pengembang besar ketimbang warga biasa. Ruang-ruang hidup yang terjangkau terus menyusut, sementara iklan apartemen baru tumbuh subur di dinding stasiun KRL yang penumpangnya rata-rata tidak akan pernah mampu membelinya. Ini tentu bukan soal keahlian menabung. Melainkan soal siapa yang boleh tinggal di kota dan siapa yang perlahan didorong ke pinggirannya. </p><p>Belum soal sakit. Ketika seseorang harus <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cq6myrr8mvdo">mengurus administrasi berlapis</a>, mengantre panjang di fasilitas yang kekurangan tenaga medis, atau mendapati obat yang dibutuhkan tidak ditanggung, saran yang paling cepat muncul tetap serupa: jaga kesehatan lebih baik, kelola stres, hidup lebih teratur. Seolah sakitnya timbul murni semata-mata karena kurang disiplin pribadi, bukan karena sistem kesehatan yang anggarannya bertahun-tahun tidak pernah benar-benar diprioritaskan. </p><p>Lalu ketika <a href="https://www.mediakompeten.co.id/pelemahan-rupiah-ancam-badai-phk-pekerja">gelombang pemutusan hubungan kerja datang</a>, narasi yang paling cepat beredar justru soal pentingnya <em>upgrade skill</em>, seolah yang gagal adalah orangnya, bukan kebijakan ketenagakerjaan yang sudah lama rapuh. </p><blockquote><p>Ketika sistem gagal, seringkali individu yang diminta untuk menyesuaikan.</p></blockquote><p>Ini bukan kebetulan. Gramsci menyebutnya hegemoni. Ketika gagasan milik kelompok dominan sudah terasa seperti akal sehat bagi semua orang, tidak perlu lagi ada paksaan. Orang cukup merasa bahwa memang begitulah seharusnya. Ada sesuatu yang sangat nyaman bagi pihak-pihak tertentu ketika masalah kolektif terus-menerus dibingkai sebagai kegagalan personal. </p><p>Dan, kembali ke diri sendiri tidak terasa seperti ideologi justru karena ia terasa seperti kebijaksanaan biasa, dan di sanalah ia paling efektif bekerja. Selama orang percaya bahwa kesulitan hidup adalah soal mental dan kelelahan adalah soal manajemen diri, tidak ada yang perlu menjelaskan ke mana kebijakan publik selama ini pergi.</p><p>Di Indonesia, proses ini punya sejarah dan arsitekturnya sendiri. Selama puluhan tahun&#8212;yang terus berlangsung hingga kini&#8212;ada upaya sistematis untuk memisahkan orang dari kesadaran kolektifnya: serikat buruh yang dilemahkan, organisasi mahasiswa yang diawasi, ruang debat publik yang dipersempit, sampai narasi bahwa politik itu cuma perihal pemilu dan lebih baik fokus kerja saja. </p><p>Padahal tubuh kita mungkin adalah arsip politik yang paling jujur. Punggung yang pegal karena dua jam di jalan, paru-paru yang menghirup udara kota setiap hari, perut yang menyesuaikan diri dengan harga cabai yang naik turun, semuanya adalah hasil dari keputusan-keputusan yang pernah dibuat seseorang di sebuah ruangan berpendingin udara.</p><p>Dan ketika semua itu dianggap sebagai urusan pribadi, yang hilang bukanlah politik, melainkan kesadaran bahwa kita sedang mengalami hal yang sama. Bukan kebetulan bahwa generasi yang tumbuh setelahnya lebih akrab dengan bahasa ekspresi diri daripada bahasa kepentingan bersama. Kita tahu cara menyampaikan pendapat, tetapi semakin jarang memiliki wadah untuk mengubah pendapat itu menjadi tindakan kolektif.</p><p>Karena memang begitulah cara paling efisien membuat orang diam: bukan dengan melarang mereka bicara, tapi dengan membuat mereka percaya bahwa suara mereka adalah urusan pribadi. Orang yang merasa sendirian dalam masalahnya akan lebih sibuk mencari cara bertahan daripada mencari siapa yang mengalami hal yang sama.</p><p>Lebih lanjut, Gramsci menulis tentang momen katarsis, yaitu ketika seseorang mulai bergerak dari kesadaran yang semata-mata personal menuju kesadaran yang lebih luas, kolektif, politis. Mungkin yang paling bisa kita lakukan sekarang adalah sampai di sana, pelan-pelan. Bukan menyadari dalam arti dramatis seperti bergerak tanpa arah, tapi menyadari bahwa masalah yang kita rasakan tidak hadir tunggal, tidak semata-mata soal diri, melainkan ada lapisan struktural di sana dan ada peran lain yang ikut bekerja.  </p><p>Di tengah narasi duo maut &#8220;<a href="/__u/rivanlee.substack.com/p/tidak-ada-dolar-di-dapur">di desa tidak pakai dolar</a>&#8221; dan &#8220;<a href="https://www.youtube.com/watch?v=3XCiUw-gqkk">pokoknya ada</a>,&#8221; kesadaran itu sendiri sudah sesuatu. Ini seperti kita pelan-pelan menghapus kata &#8220;izin&#8221; setiap kali hendak bicara kepada rekan kerja. Kelihatannya sepele, tapi di baliknya ada proses panjang melepaskan hierarki yang sudah terlanjur kita internalisasi seolah itu hal yang wajar.</p><p>Menjadi sadar adalah hal yang mahal. Orang yang mulai melihat pola, yang mulai menghubungkan titik-titik, yang mulai bertanya lebih dari yang dianggap sopan, tidak selalu berakhir baik-baik saja. Maka <em>balik ke diri sendiri</em> kadang bukan sekadar pasrah, tapi juga cara bertahan. Saya mengerti itu. Tapi ada bedanya antara mundur untuk selamat, dengan mundur karena sudah lupa bahwa ada sesuatu yang patut dipertanyakan.</p><p>Orang yang terputus satu sama lain jauh lebih mudah dikelola daripada orang yang tahu mereka senasib. Solidaritas, rasa bahwa masalahmu adalah masalah kami juga, adalah hal pertama yang hilang ketika semua orang sibuk kembali ke dirinya sendiri. Negara tidak perlu repot-repot membubarkan massa kalau massa sudah membubarkan dirinya sendiri, satu per satu, ke dalam ruang meditasi masing-masing.</p><p>Di luar sana, kota terus bergerak seperti biasa, tidak peduli apakah kita sudah selesai kembali ke diri sendiri atau belum. Beban itu tidak ke mana-mana. Ia tetap ada di harga beras yang tidak pernah ikut meditasi, di nilai tukar yang tidak peduli seberapa sering kita bersyukur, di hutan yang terus berubah menjadi aset, dan di kampung-kampung yang pelan-pelan kehilangan cerita karena lebih menguntungkan dijadikan kawasan. Bahkan ketika kita berhasil berdamai dengan diri sendiri, tagihan listrik tetap datang tepat waktu.</p><p>Yang berubah hanya cara kita belajar menerima keadaan tanpa banyak bertanya. Harga beras naik, kita diminta berhemat. Rumah makin mahal, kita diminta bekerja lebih keras. Udara makin buruk, kita diminta olahraga pagi. Hampir selalu ada cara untuk menyesuaikan diri, tapi jauh lebih jarang menghadirkan keberanian untuk mempertanyakan keadaan mengapa semua ini terjadi.</p><p>Mungkin itu sebabnya kembali ke diri sendiri terasa begitu menenangkan karena terasa jauh lebih aman daripada kembali ke pertanyaan.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Maafkan Kami, Dewi]]></title><description><![CDATA[Kita dibesarkan dengan cerita tentang babi yang mencuri di malam hari dengan menggesek. Tapi, tidak ada yang pernah bilang bahwa yang lebih besar bekerja siang hari dengan tanda tangan.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/maafkan-kami-dewi</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/maafkan-kami-dewi</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 23 May 2026 07:13:41 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/e11fab99-1d81-4dab-9783-c9b4379d0f00_1340x866.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kota punya cara sendiri untuk memelihara ketakutannya. Sebagian disimpan dalam berita kriminal yang dibaca orang sambil sarapan, sebagian lagi diwariskan dari mulut ke mulut melalui cerita yang tidak pernah punya saksi mata tapi selalu punya pendengar setia, dan sebagian kecil sisanya dipertontonkan dengan tiket masuk yang tidak terlalu mahal. Ketakutan semacam itu tidak membutuhkan bukti untuk bertahan. Ia hanya membutuhkan cukup orang yang bersedia meneruskannya.</p><p>Sosoknya selalu muncul dalam cerita yang sama. Seekor babi besar yang dipelihara seseorang demi kekayaan, lalu pada malam tertentu berkeliaran menggesek dinding rumah warga untuk mengambil harta benda penghuni rumah. Tidak ada yang pernah benar-benar melihat prosesnya, tetapi hampir semua orang mengenal ceritanya. Mungkin memang begitulah cara kerja mitos: semakin sulit dibuktikan, semakin panjang umurnya.</p><p>Ingatan itu membawa saya ke sore saat SMP. Bersama beberapa teman, kami pergi ke sebuah pameran misteri yang pernah digelar di sebuah pusat perbelanjaan. Ruangannya dibuat gelap dengan lampu seadanya. Suara-suara ganjil diputar dari pengeras suara. Sebagai anak yang baru remaja, kami penasaran seperti apa wujud dunia yang selama ini hanya hidup di cerita orang tua, apakah makhluk-makhluk itu terlihat menyeramkan atau justru terlihat lelah seperti manusia pada umumnya.</p><p>Berbagai makhluk yang selama ini hidup di majalah misteri dipamerkan layaknya selebritas: manusia seribu wajah, manusia genderuwo, jenglot, benda-benda pusaka, serta berbagai artefak yang konon membuat bulu kuduk berdiri. Di tengah keramaian itu terdapat satu kandang besar berisi seekor babi yang diperkenalkan sebagai Dewi. Menurut petugas yang berjaga, Dewi memiliki kemampuan khusus: ia dapat mendatangi rumah seseorang lalu menggesek temboknya untuk mengambil kekayaan pemilik rumah tersebut. </p><p>Cerita itu terdengar luar biasa. Saya menunggu cukup lama untuk menyaksikan sedikit saja pertunjukannya. Namun selama berada di sana, satu-satunya aktivitas yang dilakukan Dewi hanyalah tidur. Ia bahkan tampak lebih malas daripada pegawai yang sedang menunggu jam pulang kantor. </p><p>&#8220;Kalau jam segini, emang waktunya dia tidur&#8221; lanjutnya. Saya mengangguk. Sebagaimana kisahnya, ia bekerja malam. Jadi wajar, siang tidur. </p><p>Saya sempat ingin bertanya, &#8220;TikTok-an juga gak sebelum tidur?&#8221;<br>Sepertinya saya simpan saja dalam hati.</p><div><hr></div><p>Bertahun-tahun kemudian, ketika menonton <a href="https://www.youtube.com/watch?v=MpdrWgDRVf8">film dokumenter </a><em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=MpdrWgDRVf8">Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita</a></em>, saya kembali bertemu dengan babi. Bukan babi pesugihan, bukan pula makhluk yang dituduh mengangkut harta orang pada malam hari. Di Papua, babi hadir dengan makna yang jauh lebih terhormat.</p><p>Dalam tradisi adat yang disebut <em>Awon Atatbon</em>, babi menjadi pusat perayaan yang paling penting: simbol kesejahteraan, penanda hubungan sosial, bentuk penghormatan kepada sesama. Ia hadir dalam pernikahan, dalam upacara perdamaian antarsuku, dalam momen ketika komunitas menyatakan dirinya masih utuh dan saling mengenal.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png" width="1456" height="836" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:836,&quot;width&quot;:1456,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:2280632,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/png&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/198928381?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!_hfx!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F9eab0410-dea5-4305-9706-4fadf33a75d0_1840x1057.png 1456w" sizes="100vw" loading="lazy"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a><figcaption class="image-caption">Pesta Babi (sumber: <a href="https://youtu.be/MpdrWgDRVf8">Youtube</a>)</figcaption></figure></div><p>Kehadiran babi tidak dikaitkan dengan kesialan ataupun kutukan. Sebaliknya, ia menjadi bagian penting dari perayaan kehidupan itu sendiri. Semakin lama menonton, saya menyadari bahwa hewan yang sama dapat memiliki dua cerita yang sangat berbeda tergantung siapa yang memegang mikrofonnya.</p><p>Perbedaan itu membuat saya berpikir bahwa jarak sering kali melahirkan salah paham yang sangat produktif, terutama bagi pihak yang tidak perlu merasakan akibatnya. Papua selama bertahun-tahun tampaknya mengalami nasib yang serupa. Banyak orang mengenalnya melalui berita, angka statistik, pidato pejabat, atau perdebatan media sosial. Gambaran tentang Papua lebih sering diproduksi dari luar daripada didengarkan dari dalam. Akibatnya, masyarakat yang hidup di sana kerap tampil sebagai objek yang harus dibantu, diperbaiki, diarahkan, atau dimodernisasi, bukan sebagai pihak yang memiliki cara pandang sendiri terhadap kehidupan.</p><p>Cara berpikir seperti itu sebenarnya tidak asing bagi masyarakat urban. <a href="https://pusaka.or.id/mata-papua/penggundulan-hutan/">Kita hidup di negara yang begitu terbiasa menjadikan Jakarta sebagai pusat referensi sehingga kemajuan pun hanya diukur dari satu arah</a>. Apa yang dianggap maju di ibu kota diasumsikan cocok diterapkan di tempat lain. </p><p>Ukuran keberhasilan menjadi seragam seperti seragam sekolah. Produksi yang lebih besar dianggap lebih maju. Kawasan yang semakin terintegrasi dengan pasar dianggap semakin modern. Dalam kerangka berpikir semacam itu, kehidupan masyarakat adat sering dipandang sebagai sesuatu yang belum selesai, seolah mereka sedang mengantre di ruang tunggu sejarah dan tinggal menanti kedatangan pembangunan untuk mengejar ketertinggalan.</p><p>Padahal tidak semua orang merasa tertinggal. Tidak semua komunitas bangun pagi dengan kegelisahan karena belum memiliki kawasan industri, perkebunan skala besar, atau proyek bioetanol di halaman belakang rumahnya. Banyak masyarakat adat hidup dengan ukuran kecukupan yang berbeda dari logika pertumbuhan ekonomi. Hutan menyediakan pangan. Sungai menyediakan sumber kehidupan. </p><p>Pengetahuan tentang alam diwariskan lintas generasi tanpa perlu biaya lisensi. Relasi sosial terjalin tanpa perlu dipandu seminar motivasi bertajuk <em>leadership </em>atau <em>self-help</em>. Mereka mungkin tidak memiliki grafik pertumbuhan yang bisa dipresentasikan di hotel berbintang, tetapi kehidupan mereka tetap berjalan. Anak-anak tetap tumbuh. Orang tua tetap dihormati. Masyarakat tetap memiliki cara untuk bertahan, dan yang lebih penting, mereka tidak pernah meminta sawah besar-besaran atau ladang tebu datang menggantikan semua itu.</p><p>Masalah muncul ketika kecukupan itu dianggap sebagai masalah yang perlu diselesaikan oleh orang lain dari Jakarta. Dari sudut pandang tertentu, hutan terlihat seperti ruang kosong yang sedang menyia-nyiakan potensinya. Hamparan pepohonan dipandang sebagai lahan yang belum produktif, menunggu tangan yang lebih terampil dan mesin yang lebih besar. Cara pandang semacam ini memiliki satu syarat yang cukup sederhana: tidak perlu pernah berada di dalam hutannya. Dari balik layar komputer, sebuah kawasan berubah menjadi warna hijau di peta. dari ketinggian pesawat, ia terlihat seperti ruang yang menunggu keputusan. Sedangkan, dari dalam hutan itu sendiri, ia adalah rumah.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg" width="1080" height="1350" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:1350,&quot;width&quot;:1080,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:235004,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/198928381?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!3AwS!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F659c047f-cfb7-4154-b2f8-d1d0a4f036a9_1080x1350.jpeg 1456w" sizes="100vw" loading="lazy"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a><figcaption class="image-caption">Deforestasi di Papua. Sumber: <a href="https://www.instagram.com/p/DXbIL-Pmd5S/?img_index=2">Pusaka</a></figcaption></figure></div><p>Pandangan yang melihat alam sebagai aset produksi pada akhirnya melahirkan proyek-proyek besar yang datang atas nama pembangunan dengan bahasa yang selalu terdengar optimistis: ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, transformasi kawasan, hilirisasi, transisi energi. Kata-kata yang terdengar begitu meyakinkan, begitu ilmiah, begitu bersih. Persoalannya, presentasi yang bagus memang biasanya tidak menyertakan slide tentang bayangannya.</p><p>Bayangan itu terlihat ketika pembahasan bergerak ke persoalan militerisme yang telah lama menjadi bagian dari sejarah Papua. Kehadiran aparat bersenjata bukan fenomena baru di sana. Generasi demi generasi tumbuh dengan pemandangan yang bagi banyak orang di kota mungkin terasa luar biasa, tetapi di sana menjadi bagian dari lanskap keseharian. <a href="https://projectmultatuli.org/perang-yang-timpang-83-000-pasukan-organik-tni-polri-dalam-agenda-kekerasan-indonesia-di-papua/">Kini skalanya diperbesar: batalyon-batalyon baru, Kodam baru untuk Papua Selatan, ratusan food brigade yang ditempatkan di Merauke</a>. </p><p>Semuanya hadir beriringan dengan proyek <em>food estate</em>, seolah sawah memang perlu dijaga dengan senapan agar padinya mau tumbuh dengan benar atau mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah bukan soal padi tumbuh atau tidak, tapi soal sagu yang sudah tumbuh sejak lama dan tidak pernah diminta angkat kaki. Ini belum termasuk persoalan HAM.</p><p>Papua selama bertahun-tahun sering digambarkan sebagai wilayah yang sulit dijangkau, medan yang berat, kawasan yang terpencil dan penuh tantangan logistik. Namun entah bagaimana, <a href="https://rmol.id/nusantara/read/2024/08/27/634378/haji-isam-pesan-2-ribu-excavator-dari-china-buat-cetak-sawah">dua ribu alat berat mampu menemukan jalannya ke sana tanpa hambatan berarti</a>. Terpencil, rupanya, hanya berlaku untuk sinyal internet, untuk wartawan, dan untuk pengaduan masyarakat adat yang sedang berjuang di pengadilan. Untuk alat berat senilai triliunan rupiah, tidak ada yang terpencil.</p><p>Mesin-mesin itu bekerja untuk membuka hutan yang kemudian dialihfungsikan menjadi sawah, perkebunan tebu, dan lahan produksi bioetanol. Pohon-pohon yang tumbuh puluhan tahun dapat tumbang dalam sehari. Kawasan yang selama ini menjadi habitat, sumber pangan, dan ruang spiritual berubah menjadi hamparan lahan terbuka dalam waktu yang tidak perlu lama. </p><p>Di balik mesin-mesin itu, ada nama dan ada kepemilikan yang perlu ditelusuri. <a href="https://www.youtube.com/watch?v=MpdrWgDRVf8">Pesta Babi</a> membuka gurita bisnis yang konsesinya, meski terbagi ke dalam sepuluh perusahaan berbeda di atas kertas, pada akhirnya bermuara ke <a href="https://www.pdiperjuanganbali.id/film-pesta-babi-ekspansi-lahan-fangiono">satu keluarga yang sama</a>. Dua koma tiga juta hektar. Tujuh puluh kali luas Jakarta. Tersebar dalam berbagai nama perusahaan yang berbeda-beda, tetapi sahamnya bertemu di satu titik yang sama. Ini bukan konglomerasi. Ini warisan yang dibagi-bagi ke dalam amplop yang berbeda supaya terlihat seperti banyak tangan, padahal hanya satu tangan yang mengulurkannya. </p><p>Sementara masyarakat adat berdarah-darah bertahun-tahun di pengadilan hanya untuk mendapat pengakuan atas tanah ulayat yang telah mereka tempati ribuan tahun, konsesi ratusan ribu hektar bisa berpindah tangan dengan kecepatan yang jauh lebih mengagumkan.</p><p>Pembicaraan tentang nilai tanah membuat persoalannya terasa semakin <em>absurd.</em> Tiga ratus ribu rupiah per hektar. Angka itu mungkin cukup untuk membeli beberapa cangkir kopi di kawasan bisnis ibu kota, tetapi tiba-tiba dianggap memadai untuk mewakili ruang hidup yang diwariskan lintas generasi. </p><p>Hutan, sungai, kebun, pengetahuan lokal, makam leluhur, serta masa depan anak cucu, semuanya diterjemahkan menjadi nominal yang di Jakarta bahkan tidak cukup untuk makan siang sekeluarga. Sebagian hal memang tidak pernah diciptakan untuk diperjualbelikan. Setiap upaya memberi harga padanya justru memperlihatkan betapa miskinnya bahasa ekonomi ketika berhadapan dengan kehidupan manusia yang sesungguhnya.</p><div><hr></div><p>Pada titik ini saya kembali teringat Dewi. Jelas bahwa Dewi tidak membuka TikTok sebelum tidur. Ia tidur. Selayaknya ia tertidur di kandang pameran misteri bertahun-tahun lalu. </p><p>Sejak kecil saya diajarkan bahwa seekor babi dapat mencuri kekayaan seseorang hanya dengan menggesekkan tubuhnya ke tembok rumah korban. Cerita itu terdengar menakutkan karena melibatkan sesuatu yang gaib, tidak terlihat, dan sulit dijelaskan dengan akal sehat. </p><p>Namun yang terjadi di Papua menunjukkan bahwa kehilangan kekayaan tidak selalu datang melalui cara-cara mistis yang perlu tiket masuk untuk dilihat. Hutan dapat berubah fungsi melalui tanda tangan. Tanah dapat berpindah tangan melalui dokumen. Ruang hidup dapat menyusut. Sialnya, bukan karena seekor babi. Melainkan melalui keputusan yang dibuat jauh dari tempat keputusan itu akan dirasakan akibatnya, oleh orang-orang yang tidak perlu tidur di dekat pohon yang besok akan ditebang.</p><p>Barangkali Dewi memang tidak pernah mencuri apa-apa. Selama ini kita terlalu sibuk mencurigai seekor babi yang konon menggesek tembok pada malam hari, sementara di tempat lain terdapat hutan yang berubah menjadi angka dalam laporan keuangan, sungai yang berubah menjadi kawasan produksi, dan tanah yang dihargai lebih murah daripada makan siang sekeluarga di Jakarta. </p><p>Pesugihan yang sesungguhnya ternyata tidak datang dari kandang yang gelap. Ia datang dari ruang rapat yang terang benderang, dengan kop surat resmi, dengan agenda yang sudah diketik rapi, dan dengan angka tiga ratus ribu per hektar yang tercantum di baris paling bawah.</p><p>Maafkan kami, Dewi. </p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tidak Ada Dolar di Dapur]]></title><description><![CDATA[Pikiran kita selalu pergi ke tempat lain. Masalahnya, ada yang pergi jauh lebih jauh dari itu, dari realitas jutaan orang, dan tidak merasa perlu pulang.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/tidak-ada-dolar-di-dapur</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/tidak-ada-dolar-di-dapur</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sun, 17 May 2026 13:41:26 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/3e4e4c80-be36-4080-b10e-d6f691c75037_700x394.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sore saya tengah mencuci piring di dapur yang suhu airnya bergantung pada kondisi iklim nasional. Air hangat, busa putih, piring yang mengkilap ketika dilap. Semua normal. Lalu tiba-tiba musik di speaker memutar lagu dari tahun 2019, sebuah lagu yang tidak pernah dimainkan secara disengaja, hanya muncul dalam playlist algoritma yang entah bagaimana masih mengingatkan saya. Dalam hitungan detik, ketika tubuh saya masih mencuci piring tetapi kepala saya sudah berpindah ke kafe dekat Kota Tua, duduk di meja sudut dengan seseorang yang sekarang tidak ada di hidup saya lagi.</p><p>Saya masih memegang spons. Tapi saya sudah tidak ada di dapur.</p><p>Inilah keanehan paling kecil tapi mendalam tentang cara kita hidup: tubuh kita hanya bisa berada di satu tempat, sementara pikiran kita adalah teater dengan tirai yang tidak pernah benar-benar ditutup. Kita berjalan melewati ruas jalan tertentu lalu tiba-tiba menjadi versi diri yang berusia 17 tahun, gelisah, penuh mimpi aneh. Kita mendengarkan kisah teman lalu terbang ke masa ketika kehidupan terasa lebih sederhana atau lebih rumit, tergantung bagaimana ingatan kita mengarang ulang ceritanya. Setiap aroma adalah portal. Setiap perkataan adalah kunci. Setiap lagu adalah jembatan yang menghubungkan sekarang dengan tahun-tahun lain yang seharusnya sudah berlalu.</p><p>Mungkin itu kenapa banyak orang makan sambil tidak menyadari rasa makanannya. Kita menjejal nasi goreng ke mulut tetapi pikiran kita sedang memutar ulang percakapan yang salah pukul lima pagi, atau sudah cemas tentang tagihan yang belum terbayar. Makanan menghilang dari piring seperti itu saja, lalu kita bergumam, &#8220;yaa oke bisa dimakan.&#8221;</p><p>Semakin dewasa, semakin jelas bahwa kita seperti museum yang berjalan dengan dua kaki. Di dalam kepala seperti ada ruang-ruang penuh koleksi emosi dari berbagai tahun: cinta dari umur 19, frustrasi dari umur 24, kegagalan dari umur 27, kehilangan dari tahun-tahun yang lebih baik tidak disebutkan. Ada versi diri yang kita kira sudah dibunuh, ternyata hanya tidur panjang, siap bangun untuk merusak konsentrasi kita di saat paling kritis.</p><p>Dan kadang, yang menarik kita kembali ke kenyataan bukan ingatan besar. Hanya telepon di jam yang aneh pada sore hari.</p><p>Tidak lama, Ibu saya menelepon pukul tiga. Ia bingung. Harga bahan pokok diam-diam naik. Ia mencatat dengan rapi di buku kecil yang selalu dia bawa ke pasar. <a href="https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8460321/harga-gula-mulai-naik-imbas-plastik-mahal">Harga gula juga naik</a>. Harga beras naik. Harga telur naik. Ia sempat bertanya tentang implikasi ucapan presiden.</p><p>Saya masih memegang spons. Kepala saya kembali ke dapur. </p><p>Saya mendengarkan ibu saya menjelaskan satu per satu kenaikan harga itu, sambil memikirkan apa yang sebetulnya presiden katakan. </p><p>Setelah telepon terputus, saya duduk, mencari konteks yang disampaikan ibu. Saya sempat berpikir kita kembali ke zaman pleistosen mendengar ucapan presiden.</p><div class="image-gallery-embed" data-attrs="{&quot;gallery&quot;:{&quot;images&quot;:[{&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/18d2e75f-ce1f-4291-9874-e2ee9e4b74d6_680x680.jpeg&quot;},{&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/f8df683e-3709-46f0-8000-96a4fd36d447_680x680.jpeg&quot;}],&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;,&quot;staticGalleryImage&quot;:{&quot;type&quot;:&quot;image/png&quot;,&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/8767dba0-8e1b-4514-8e68-c2d6351ac387_1456x720.png&quot;}},&quot;isEditorNode&quot;:true}"></div><p>Tidak lama setelah rupiah anjlok ke level RP 17.600 per dolar, ia mengatakan bahwa &#8220;<em>orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?</em>&#8221; Benar sekali, memang tidak. Begitupun di Jakarta, Surabaya, Medan atau orang-orang kota lainnya. Tapi, ada sesuatu yang mengganggu dalam cara <em>statement</em> itu diucapkan seakan selama ini kita mengonsumsi gula dengan <em>ngenyot</em> dari tebu langsung, mengaduk tai sapi terlebih dahulu untuk jadi pupuk agar hasil bumi cepat panen, atau berkendara keliling kota dengan menunggang babirusa.</p><p>Kenyataannya, Indonesia mengimpor lebih dari <a href="https://aktual.com/harga-kedelai-meroket-produsen-tahu-tempe-menjerit-importir-malah-cuan-rp129-triliun-90-persen-impor-dari-as/">90 persen kebutuhan kedelai nasional.</a> Gula yang ibu saya beli di pasar? 79 persen impor. Pupuk yang digunakan petani lokal pun dari bahan baku impor. <a href="https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260427183630-92-1352668/harga-minyak-goreng-naik-di-224-daerah-gula-hingga-beras-makin-mahal">Minyak goreng harganya berfluktuasi dengan pasar minyak global</a>. Kita tidak pakai dolar, tapi harga-harga kita sangat fasih berbicara dalam bahasa dolar.</p><p>Pertanyaan &#8220;iya kan?&#8221; bukan permintaan informasi. Itu proposisi yang dibungkus tanda tanya, cara untuk membuat orang merasa seperti mereka memilih untuk percaya, padahal sebenarnya mereka hanya merespons. Yang sedang dibangun bukan argumen tentang fakta, melainkan asumsi yang jauh lebih nyaman: bahwa karena orang tidak menggunakan dolar secara langsung, mereka tidak terpengaruh oleh dinamikanya. Seolah rupiah yang bergerak di layar bursa tidak pernah mampir ke rak sembako, ke harga kedelai, ke ongkos produksi yang akhirnya mendarat di tangan ibu-ibu yang mengantri di pasar.</p><p>Yang terjadi kemudian bisa ditebak: orang berhenti bertanya-tanya. Orang-orang di pasar menerima saja bahwa "harga begini, bulanan segitu." Bukan karena mereka tidak mengerti, tapi karena pemimpin mereka terlihat sudah mengerti, dan itu cukup. Krisis ekonomi terasa seperti bencana alam. Sesuatu yang datang tanpa penjelasan dan pergi tanpa pertanggungjawaban.</p><p>Semakin tinggi posisi seseorang, semakin mahal harga dari ketidakhadiran itu. Kalau saya tidak hadir di dapur, akibat terburuknya hanya piring yang kurang bersih. Tapi jika ada yang tidak hadir dari realitas jutaan orang, konsekuensinya tidak berhenti di piring. </p><p>Yang lebih mengganggu bukan hanya soal ucapan tersebut keliru, melainkan juga bahwa ia diucapkan dengan sangat yakin, seolah yakin adalah bukti. Karena dari posisi tertentu, tidak perlu tahu memang terasa seperti tidak ada yang perlu diketahui. Menyederhanakan realitas jutaan orang menjadi "mereka tidak pakai dolar" bukan ketidakhadiran, itu adalah keputusan.</p><p>Mungkin memang begitu cara banyak kebijakan terasa dalam hidup sehari-hari: tidak datang sebagai pidato besar atau grafik ekonomi di televisi, tapi sebagai hal-hal kecil dan pelan-pelan berubah. Tempe yang mengecil. Minyak goreng yang lebih cepat habis. Ibu-ibu yang mulai menghitung ulang belanja sambil berdiri di depan rak. Kita jarang merasa sedang hidup di tengah keputusan besar. Sampai suatu hari kita sadar ada terlalu banyak hal yang tiba-tiba harus dimaklumi.</p><p>Kemarin sore saya selesai mencuci piring. Bersih. Tempe di meja makan pagi ini dimulai dari kapal kargo yang tidak pernah saya lihat. Minyak goreng yang saya tuang tadi bergerak mengikuti pasar yang tidak pernah saya pilih. Gula yang ibu saya catat di buku kecilnya, naik lagi, dari ladang entah di negara mana. Semuanya dibayar dengan rupiah yang nilainya sudah tidak perlu dibicarakan, dan itu semua tidak ada hubungannya dengan dolar. Kata seseorang yang piringnya dicuci orang lain.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Rebahan Adalah Melawan]]></title><description><![CDATA[Kita terlalu lama hidup dalam ritme yang menganggap diam sebagai kegagalan. Sampai akhirnya rebahan pun terasa seperti sesuatu yang harus dibenarkan, bukan sekadar hak untuk berhenti sebentar]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/rebahan-adalah-melawan</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/rebahan-adalah-melawan</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sun, 10 May 2026 06:44:38 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/3f01b8c9-f0d9-4c6b-8053-9932ccab051b_950x1200.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Saya mulai curiga ada sesuatu yang salah ketika berupaya tenang di hari libur terasa tidak nyaman. Padahal tidak ada deadline, tidak ada meeting, tidak ada yang benar-benar mendesak. Tapi baru beberapa menit diam, kepala langsung sibuk sendiri. Ingat hal-hal yang &#8220;harusnya&#8221; bisa dicicil. Kadang bahkan bukan karena ingin produktif, tapi karena terlalu terbiasa merasa bersalah kalau tidak sedang melakukan sesuatu.</p><p>Mungkin rasa bersalah itu tidak datang begitu saja. Ia tumbuh pelan-pelan dari kebiasaan saya yang terus diulang bertahun-tahun: bahwa waktu harus dipakai dengan benar, bahwa diam terlalu lama bisa terlihat malas, bahwa hidup yang baik adalah hidup yang terus bergerak. </p><p>Saya atau mungkin sebagian dari kita semua tumbuh dalam narasi yang sama: waktu itu berharga, jangan buang-buang, jangan malas. Narasi yang ditanam begitu lama sampai kita tidak ingat kapan ia masuk dan tidak pernah benar-benar mempertanyakan siapa yang mengizinkannya tinggal. Tidur sekarang harus disebut <em>recovery</em>. Jalan pagi bukan sekadar jalan pagi, tapi investasi kesehatan jangka panjang. Bengong jadi <em>self-discovery journey</em>. Seolah tanpa nama yang lebih berguna, bahkan ketenangan pun tidak berhak ada.</p><p>Lucunya, setelah semua hal diberi nilai dan tujuan, kita mulai lupa cara beristirahat tanpa merasa harus mendapatkan sesuatu darinya. Bahkan lelah pun sekarang punya industrinya sendiri. Ketika penat, kita diarahkan membeli cara untuk tenang. Ketika kelelahan, muncul berbagai ritual kecil bertarif yang dikemas sebagai solusi. </p><p>Sistem ini memang pintar dalam satu hal: mengubah hampir setiap sisi hidup manusia menjadi sesuatu yang bisa dikonsumsi kembali, termasuk cara kita pulih dari hidup yang terasa terlalu penuh. Ia tidak perlu memaksa siapa pun. Cukup buat semua orang merasa belum cukup dan sisanya berjalan sendiri.</p><p>Kita kelelahan karena sistem, lalu membeli solusi dari sistem yang sama untuk pulih dari kelelahan itu. Lucunya, setelah menyadari hal ini, kita tetap mengonsumsinya. </p><p>Respons kita terhadap semua itu, lucunya, adalah memperbaiki diri. Kita membeli credit di <em>class pass</em>, meditasi demi hidup yang terasa lebih intentional, atau mengikuti <em>cold shower </em>untuk meningkatkan dopamin. Kita sibuk mengoptimasi diri untuk bertahan di dalam sistem yang pelan-pelan menghabiskan diri, seperti memperbaiki kuda sementara sirkusnya terus berjalan. Inilah akal-akalan kapitalisme.  </p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg" width="736" height="840" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/c9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:840,&quot;width&quot;:736,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:197963,&quot;alt&quot;:&quot;This may contain: an old fashioned merry go round at night&quot;,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:true,&quot;internalRedirect&quot;:null,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="This may contain: an old fashioned merry go round at night" title="This may contain: an old fashioned merry go round at night" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!iPuJ!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fc9e9f8ff-2180-4313-9d60-e9b249caeda1_736x840.jpeg 1456w" sizes="100vw" fetchpriority="high"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a><figcaption class="image-caption">carousel (source: pinterest)</figcaption></figure></div><p>Brengsek betul. Semua itu kemudian dikemas dengan bahasa yang terdengar personal dan penuh perhatian: <em>self-care, healing, self-reward.</em> Seolah setelah tubuh dipakai habis-habisan untuk bekerja, kita diberi izin kecil untuk menghadiahi diri sendiri, tentu saja dengan membeli sesuatu lagi. <em>Mont Blanc</em> setelah lembur, staycation singkat setelah <em>burnout</em>, <em>checkout</em> barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena merasa &#8220;sudah bekerja sekeras itu.&#8221; Lama-lama <em>self-reward</em> terasa bukan lagi bentuk merayakan hidup, tapi cara menenangkan diri agar kuat kembali menjalani ritme yang sama besok pagi.</p><p>Tapi di tengah semua ironi itu, ada hal lain yang sering luput dibicarakan: tidak semua orang punya ruang yang sama untuk merasa lelah. Ada orang yang masih sempat memahami tentang <em>burnout</em>, mendengarkan <em>podcast</em> soal <em>work-life balance</em>, atau bercanda tentang <em>quarter-life crisis</em> sambil ngopi sepulang kerja. Tapi ada juga yang hidupnya sudah terlalu penuh untuk bahkan sekadar memikirkan kenapa mereka capek. Karena ketika hidup terus dikejar tagihan dan kebutuhan, refleksi sering kali terasa seperti kemewahan.</p><p>Ada perbedaan besar antara ingin produktif dan harus produktif, dan kita sering bicara tentang produktivitas seolah semua orang berangkat dari titik yang sama.</p><p>Biaya hidup bergerak pelan tapi konsisten. Harga kontrakan/kos-kosan, ongkos transportasi, biaya kesehatan, bahkan harga telur, semua naik diam-diam tanpa pengumuman. Sementara, penghasilan rasanya diam di tempat.<strong> </strong>Akhirnya celah itu harus ditutup dari mana pun bisa: freelance tambahan, jualan kecil-kecilan, buka laptop lagi setelah jam kerja selesai. </p><p>Kita menyebutnya <em>hustle culture</em> seolah itu terdengar aspirasional dan penuh semangat, padahal sebenarnya hanya sedang menutup selisih antara kebutuhan dan kemampuan bertahan. Keputusan atas kondisi yang tidak punya pilihan bagus.</p><p>Belum kalau pekerjaan utama ikut menambah lapisan lain. Beban kerja untuk tiga orang dikerjakan satu orang dianggap normal, bahkan tanda kepercayaan dan kapabilitas yang perlu dibanggakan. <em>Deadline</em> mepet dianggap biasa. Lembur jadi bentuk loyalitas yang tidak selalu ada imbalannya. </p><p>Semua orang lelah, tapi semua juga takut berhenti, karena pasar kerja selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa kita bisa digantikan kapan saja oleh orang yang lebih muda, lebih murah, atau lebih mau bertahan lebih lama. Mau tidak mau, bertahan adalah pilihan. Sambil belajar untuk tidak terlalu sering&#8212;ketahuan&#8212;mengeluh karena ia akan terasa seperti kelemahan yang tidak boleh kelihatan.</p><p>Yang membuat semua ini makin melelahkan adalah kenyataan bahwa kita tidak benar-benar diberi ruang untuk runtuh. Dunia kerja modern suka sekali bicara tentang <em>resilience, adaptability,</em> dan <em>mental toughness</em>, seolah manusia adalah <em>software</em> yang tinggal diperbarui ketika mulai melambat. Padahal sebagian besar orang sebenarnya tidak baik-baik saja, hanya semakin terbiasa menyembunyikannya.</p><p>Jadi kita tetap datang kerja sambil kurang tidur. Tetap membalas email sambil cemas. Tetap bilang &#8220;aman&#8221; meski kepala rasanya penuh terus setiap malam. </p><p>Saya, meski sudah cukup sering memikirkan ini, tetap tidak kebal. Awalnya saya pikir kesadaran membuat saya berbeda. Tapi, sadar tidak otomatis membuat seseorang bebas dari apa yang ia sadari. </p><p>Saya terkadang bangun dengan cemas di hari libur, khawatir menjelang Senin, tetap merasa tidak nyaman kalau terlalu lama rebahan, tetap membuka laptop bahkan sebelum kopi selesai dibuat. Saya tahu masalahnya, bisa menjelaskannya dengan cukup artikulatif di meja makan, lalu keesokan harinya melakukan hal yang sama persis seperti hari sebelumnya. Kesadaran tentang sebuah masalah, ternyata, tidak sama dengan kemampuan untuk keluar dari masalah itu.</p><p>Saya, mungkin juga kalian, ingin bisa duduk tanpa merasa bersalah. Minum matcha tanpa mengukur progress. Tidur siang tanpa menganggapnya kegagalan moral. Bisa ngobrol dan <em>ndusel </em>bareng kucing. Tapi ternyata sulit mematikan suara kecil di kepala yang terus bertanya: habis ini mau ngapain lagi, apa yang sudah dicapai hari ini, ada yang lebih penting yang seharusnya dikerjakan. </p><p>Suara itu bukan suara satu orang. Ia hasil dari bertahun-tahun menyerap narasi tentang nilai, tentang waktu, tentang siapa yang berhak merasa cukup. </p><p>Mungkin itu sebabnya banyak dari kita kelelahan bahkan ketika tidak sedang melakukan apa-apa karena kepala tidak pernah benar-benar berhenti bekerja, bahkan ketika tubuhnya sudah menyerah duluan. Duduk terlalu lama terasa malas. Tidur siang terasa tidak disiplin. Menolak membuka laptop di akhir pekan terasa seperti menyia-nyiakan waktu. Kita seperti dipaksa percaya bahwa nilai diri selalu bergantung pada seberapa banyak yang berhasil dikerjakan dalam sehari. Seolah tubuh baru pantas dihargai kalau sedang menghasilkan sesuatu.</p><p>Ini yang kemudian saya sadari: kalau sistem ini hidup dari produktivitas kita, maka istirahat yang disengaja adalah sesuatu yang tidak pernah masuk dalam kalkulasinya. Di sini, rebahan menjadi pilihan.</p><p>Rebahan yang sungguhan bukan kemalasan. Ia keputusan. Kecil, tidak dramatis, tidak perlu diberi nama yang lebih berguna karena tubuh tidak sedang menghasilkan apa-apa selain keberadaannya sendiri. Dalam dunia yang menghitung setiap diam sebagai kerugian, memilih untuk tidak bergerak adalah salah satu hal paling subversif yang bisa dilakukan dengan tenang.</p><p>Bukan karena rebahan akan mengubah sistem besar yang membuat semua orang terus lelah. Melainkan untuk beberapa menit, setidaknya, kita berhenti memberikan seluruh diri kita kepada ritme yang terus meminta lebih.</p><p>Pagi ini, sebelum kopi selesai, sebelum tangan bergerak ke tempat biasanya, saya memilih untuk diam. Tidak ada yang dicek. Tidak ada <em>progress bar</em>. Tidak ada target harian. Tidak ada <em>self-improvement</em>. Tidak ada yang harus diselesaikan dulu agar hari ini terasa sah. Hanya tubuh yang akhirnya diberi izin untuk ada tanpa harus berguna.</p><p>Jika sistem ini dirancang agar selalu produktif, menjual, dan menghasilkan, maka berhenti, meski sebentar, meski sunyi, adalah satu-satunya hal yang belum berhasil mereke bungkus sebagai kebutuhan yang dapat ditagih tiap bulan.</p><p>Sampai hari ini.<br><br>Tidak tahu kalau besok.</p><p>Rebahanlah, maka kau akan menemukan.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cappuccino: Antara Batas dan Selera]]></title><description><![CDATA[Perubahan kota jarang datang dengan suara keras. Ia hadir lewat harga, rasa, dan estetika yang tampak wajar hingga tanpa sadar, kita ikut menentukan siapa yang punya tempat dan siapa yang pergi.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/selera-membentuk-batas</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/selera-membentuk-batas</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Fri, 01 May 2026 02:09:51 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/2eed8415-547f-4337-a206-5f187d8c5153_736x977.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Lima belas tahun lalu, saya pernah tinggal di Purwokerto selama setahun, sebelum akhirnya memutuskan pindah kuliah ke kota lain. Tidak banyak yang saya tinggalkan di sini waktu itu, selain kenangan makan siang murah dan teman-teman yang belakangan juga berpencar ke mana-mana&#8212;sebagian besar ke Jakarta seperti saya.</p><p>Jadi ketika saya kembali pekan lalu, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu ke mana harus melangkah, termasuk referensi makan dan tempat untuk sekadar duduk santai. Dalam satu kali gulir di TikTok, pilihan rekomendasi dengan video yang tipikal pun muncul berurutan. Saya kewalahan memilihnya.</p><p>Saya memilih salah satu yang namanya paling banyak muncul di beranda. Namanya sudah terlalu sering direkomendasikan sampai rasanya tidak sopan kalau tidak datang. Saya antre sekitar sepuluh menit, memesan beberapa menu dengan nama yang separuhnya tidak saya mengerti, termasuk kopi. Saya melihat angka di struk dengan ekspresi yang saya harap tidak terlalu kentara di wajah. </p><p>Harganya sama dengan kopi yang biasa saya bayar di Jakarta. Persis. Saya menunggu otak saya menemukan penjelasan yang masuk akal: rantai distribusi, biaya sewa, biji kopi impor, mungkin pajak udara pegunungan. </p><p>Semakin saya pikirkan, semakin jelas bahwa semua itu bukan inti jawabannya. Ada alasan lain yang lebih sederhana, sekaligus nampaknya lebih sulit untuk diterima.</p><p>Sambil menunggu pesanan, saya sempat mencari tempat saya biasa makan siang dulu. Sekarang sudah berubah menjadi kafe dengan motif kayu dan warna pastel yang meneduhkan. Bayangan lebih dari sepuluh tahun lalu muncul: saya mengambil nasi, memasukkan sayur, dan lauk seadanya, dengan penuh semangat dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Beberapa kali saya andalkan prinsip &#8220;darmaji&#8221; alias <em>dahar lima ngaku hiji</em>, atau sesekali nutupin ati ayam di bawah nasi supaya kelihatan lebih banyak dari yang sebenarnya. Tetap saya bayar tiap akhir pekan. Saya menyebutnya seni bertahan hidup.</p><p>Saya tidak tahu apakah warung itu tutup karena sewa yang naik, karena pemiliknya memang sudah ingin berhenti, karena orang-orang yang dulu jadi pelanggannya satu per satu digantikan oleh orang-orang seperti saya yang tidak tahu warung itu pernah ada. Mungkin ketiganya benar secara bersamaan. Mungkin ketidakpastian itulah yang paling jujur untuk saya akui.</p><p>Harga di tempat seperti ini adalah keputusan. Ia dijaga pada level tertentu karena harga adalah bagian dari produknya itu sendiri. Datang ke sini, duduk, dan memesan adalah cara mengatakan sesuatu tentang posisi diri.</p><p>Tempat ini menjual kesempatan untuk mengatakannya sambil duduk di kursi kayu yang terasa seperti sedang berpura-pura tidak tahu betapa estetiknya ia terlihat. Kita dengan senang hati, membayar ongkos masuknya.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg" width="736" height="740" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/ba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:740,&quot;width&quot;:736,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:104551,&quot;alt&quot;:&quot;This contains: Cozy Caf&#233; Vibes: Warm Coffee  Nature in Perfect Harmony #cozycoffee #cafevibes #morningmood&quot;,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:null,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="This contains: Cozy Caf&#233; Vibes: Warm Coffee  Nature in Perfect Harmony #cozycoffee #cafevibes #morningmood" title="This contains: Cozy Caf&#233; Vibes: Warm Coffee  Nature in Perfect Harmony #cozycoffee #cafevibes #morningmood" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!K4lW!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fba7b610a-2859-4252-a8e7-19a2a502e43e_736x740.jpeg 1456w" sizes="100vw" loading="lazy"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a><figcaption class="image-caption">Cappuccino, ilustrasi.</figcaption></figure></div><p>Saya teringat konsep dari sosiolog urban, Sharon Zukin, ia menyebutnya <em><a href="https://www.thepolisblog.org/2012/07/summer-in-city.html?m=1">Pacification by Cappuccino</a></em>. Ketika kedai kopi estetik mulai bermunculan di suatu kawasan, yang terjadi bukan sekadar selera konsumen yang kebetulan bersamaan. Ia adalah pernyataan diam-diam bahwa kawasan tersebut sedang dalam proses menjadi milik kelompok yang berbeda hanya dengan harga dan estetika yang cukup spesifik, ia berfungsi sebagai bahasa yang tidak semua orang diajarkan.</p><p>Perlahan-lahan, komposisi sebuah tempat berubah: siapa yang tinggal di sana, siapa yang berdagang di sana, dan siapa yang pelan-pelan merasa bahwa tempat itu bukan lagi miliknya untuk ditinggali.</p><p>Estetika secara diam-diam menentukan siapa yang pantas menetap, tanpa pernah jujur bahwa ia sedang menata batas.</p><p>Yang menarik dari konsep Zukin bukan soal siapa yang jahat dan siapa yang jadi korban. Menariknya justru karena semua orang yang terlibat merasa sedang melakukan sesuatu yang wajar. Pemilik kedai membuka usaha yang ia sukai. </p><p>Pelanggan datang karena rekomendasi teman. Dan teman-teman itu merekomendasikan dari kota lain tanpa pernah menginjak lantainya lagi. Semuanya terasa normal dan mungkin di situlah letak yang paling mengusik dari semua ini.</p><p>Saya juga tidak tahu apakah tempat-tempat seperti yang sedang saya duduki ini memang secara aktif mengubah komposisi orang-orangnya atau saya terlalu berlebihan dalam menarik garis antara satu hal dengan hal yang lain. Mungkin keduanya benar secara bersamaan.</p><p>Yang jelas, saya di sini, duduk, memesan, dan pertanyaan itu tidak pergi ke mana-mana hanya karena kopinya enak.</p><p>Kemunculan kedai dan menu yang mirip satu sama lain di suatu kawasan bukan sekadar peristiwa bisnis. Ia adalah sinyal. Sinyal bahwa tanah di sini sudah siap, bahwa demografinya sedang bergeser, bahwa ada kapital yang akan segera banyak masuk. Orang-orang seperti saya yang datang, duduk, memesan dan memotret adalah bagian dari sinyal itu. Bahkan, ketika kita pikir kita hanya sedang menikmati hari libur dengan kopi dan gula 5 ml yang rasanya tidak mengecewakan.</p><p>Boleh jadi kebiasaan saya dulu nutupin ati ayam dengan nasi akan berganti dengan telur sous vide dan nasi goreng seharga delapan puluh ribu. Boleh jadi penjual di tepi jalan itu sudah pensiun dan tidak ada yang menggantikannya karena sewa lapak sudah tidak masuk akal untuk dijangkau dengan margin keuntungan dari segelas minuman jahe. Saya tidak tahu kapan persisnya semua itu terjadi. Tapi saya tahu saya tidak akan memperhatikannya sampai semuanya sudah berganti.</p><p>Yang saya ketahui adalah saya fasih membaca menu yang ditulis dengan font sans-serif tipis. Saya tahu apa itu <em>natural process</em> dan saya tahu bahwa <em>oat milk</em> bukan sekadar pilihan, ia adalah pernyataan kecil tentang siapa dan ke kelompok mana seseorang merasa lebih nyaman berdiri.</p><p>Kefasihan itu terasa seperti hal yang netral, seperti sekadar selera pribadi yang tidak merugikan siapa pun. </p><p>Padahal selera tidak pernah terbentuk dalam ruang kosong. Ia dibentuk oleh paparan, oleh akses yang tidak merata, oleh kenyataan bahwa saya dan mungkin sebagian dari kita tumbuh di lingkungan yang menganggap kopi seharga seperempat daging sapi impor sebagai pilihan, bukan kemewahan.</p><p>Ketika selera sudah terbentuk, ia bekerja diam-diam membentuk keputusan kecil sehari-hari yang kita anggap personal. Padahal, sesungguhnya sangat kolektif.</p><p>Kita tidak sadar bahwa selera kita pun bisa menjadi bagian dari sebuah proses yang jauh lebih besar dari sekadar apa yang kita suka diminum di pagi hari.</p><p>Mungkin pada akhirnya, kota tidak pernah benar-benar berubah. Ia bergeser dari siapa yang merasa berhak untuk tinggal dan siapa yang pelan-pelan belajar untuk pergi. Saya yang datang membawa selera, pulang membawa cerita, tanpa sadar ikut menggambar ulang garis yang tadinya tak kasatmata.</p><p>Di luar, Purwokerto berjalan seperti biasa, atau setidaknya seperti yang saya ingat, meski saya tidak lagi yakin seberapa akurat ingatan itu.</p><p>Kopi saya sudah habis. Ampasnya menyisakan pertanyaan bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang apa yang terjadi ketika tidak ada yang merasa bersalah, dan apakah ketidakhadiran rasa bersalah itu sendiri sudah cukup menjadi jawaban?</p><p>Saya memesan satu gelas lagi untuk dibawa pulang.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[#33]]></title><description><![CDATA[Dari langkah yang diperlambat, saya belajar satu hal: tidak semua yang penting perlu dikejar, sebagian hanya perlu didengar.]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/tiga-dan-tiga</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/tiga-dan-tiga</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Tue, 28 Apr 2026 17:33:50 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/e4e20fef-65a0-4d7c-b102-08918e4f580c_752x1002.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun belakangan saya mulai lebih sadar pada tubuh saya. Bukan sesuatu yang besar, hanya hal-hal kecil yang pelan-pelan terasa seperti tubuh yang ternyata punya ritmenya sendiri, dan tidak selalu bisa saya abaikan. Saya mulai memilih pulang lebih cepat, menolak satu-dua ajakan yang dulu hampir pasti saya iyakan, dan diam-diam merasa cukup dengan hari yang tidak terlalu padat. </p><p>Ada momen ketika saya tidak lagi ingin memaksakan diri untuk terlihat kuat, hanya supaya tidak tertinggal dari yang lain. Tubuh ternyata punya cara sendiri untuk bicara, dan kebanyakan suaranya bukan keluhan, melainkan terjemahan dari sesuatu yang sudah lama saya tunda untuk didengarkan.</p><p>Sempat juga saya merasa super bisa menutup hari dengan mata yang masih segar di pukul dua pagi. Saya mengetik dalam keheningan yang terasa seperti kemenangan, kerja hingga akhir pekan, dan sesekali memberi diri sendiri tepuk tangan dalam hati seperti orang yang tidak tahu sedang menonton pertunjukan apa. </p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg" width="1456" height="971" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:971,&quot;width&quot;:1456,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:1529768,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:true,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/195630916?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LqPb!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F043a13b8-f535-48d3-b19d-564b4df971aa_2976x1984.jpeg 1456w" sizes="100vw" fetchpriority="high"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><p>Saya kira itulah yang dimaksud dengan konsekuensi sebagai dewasa: bisa mengalahkan rasa lelah, bisa berdialog dengan tenggat tanpa berkedip, bisa menjadi versi diri yang tidak butuh apa-apa selain ambisi, nikotin, dan kafein. </p><p>Jurnal, buku, berita saya telan dengan rakus, seperti orang lapar yang lupa bahwa makanan paling sederhana sebenarnya ada di dapur sendiri. Saya percaya, kalau saya cukup keras pada diri sendiri, hari saya akan lebih panjang dari milik orang lain.</p><p>Cara saya mengisi hari pun mengikuti logika yang sama. Selama bertahun-tahun, saya percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang efisien dan diri yang sehat adalah diri yang sanggup menampung lebih banyak pekerjaan tanpa pernah betul-betul mengeluh. </p><p>Saya berpindah dari satu agenda ke agenda lain dengan kecepatan yang saya kira merupakan tanda produktivitas sambil meyakini bahwa semakin sedikit jeda yang saya beri pada diri sendiri, semakin banyak versi saya yang sudah dihasilkan. </p><p>Tubuh, dalam kalkulasi tersebut, hanyalah alat. Ia hanya boleh bersuara ketika ada tugas yang harus diselesaikan dan tidak ketika ia ingin sekadar didengar. Saya tidak pernah benar-benar hadir untuk diri saya; saya hanya menumpang di dalam tubuh saya sendiri, sambil sesekali mengeluh tentang lelah yang sebenarnya saya andalkan untuk merasa berguna.</p><p>Sampai pada satu titik, hasil <em>medical check-up</em> memberi saya peringatan kecil yang sebenarnya tidak kronis, tapi cukup membuat saya tertantang merawat tubuh hingga angka-angkanya bisa dianggap ideal di bawah kop Prodia. </p><p>Sejak itu, ada beberapa kebiasaan yang menyusup ke keseharian saya tanpa banyak deklarasi: jadwal olahraga yang akhirnya bisa saya patuhi, tidur yang tidak lagi saya tunda dengan alasan kerja, dan lari pagi yang awalnya hanya sepuluh menit yang lebih mirip jalan cepat dengan napas tersengal dan pandangan menghitam.</p><p>Pelan-pelan, sepuluh menit itu jadi tiga puluh, dan tiga puluh menit itu jadi sesuatu yang saya tunggu sebelum tidur. Tidak ada postingan tentang &#8216;perjalanan transformasi&#8217; yang dipotret dari sudut paling tinggi. Hanya upaya kecil untuk tidak menyerah pada diri sendiri, diulang setiap pagi.</p><p>Lari, dan kebiasaan-kebiasaan yang ikut tumbuh di sebelahnya, mengajarkan saya satu hal yang dulu tidak pernah punya kesempatan untuk saya dengar: ada perbedaan tipis antara mendorong tubuh dan menyiksanya, dan perbedaan itu hanya bisa terbaca kalau saya bersedia berhenti sebentar. </p><p>Suatu pagi, ketika napas saya mulai berat di kilometer ketiga, sekelebat lirik dari Perunggu lewat di kepala, hanya sepenggal: <em>&#8220;melambat bukanlah hal yang tabu.&#8221;</em> Saya tidak tahu kenapa kalimat itu yang muncul. Tapi sejak pagi itu, kata melambat berhenti terdengar seperti kekalahan di telinga saya. Saya mulai memperlakukannya sebagai metode, semacam izin yang dulu tidak pernah saya keluarkan untuk diri saya sendiri.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg" width="2268" height="2170" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:2170,&quot;width&quot;:2268,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:1071941,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/195630916?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F82030733-ecc0-41c7-8d4a-14857ae26eea_2268x4032.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!dJFL!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F6b1fe127-3de8-41a4-a6ac-3ae5082d63a3_2268x2170.jpeg 1456w" sizes="100vw" loading="lazy"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><p>Ada paradoks yang menyenangkan di dalam berlari dan memiliki jadwal rutin berolahraga. Saya menyadari bahwa banyak dari diri saya yang lemah kendati selama ini saya merasa cukup kuat. Saya kira ini juga berlaku untuk hidup secara umum: semakin sering saya menempuh rute yang sama, semakin sedikit yang saya lewatkan di sekitar saya. </p><p>Dengan dua kaki yang akhirnya bersedia melambat, saya mulai mengenali hal-hal yang dulu hanya menjadi latar: tukang sapu yang selalu lebih dulu dari matahari, menyapu daun dari pohon yang sama setiap harinya; ibu warung yang menyalakan kompor untuk sarapan pertama, asap tipisnya naik pelan sebelum suara orang-orang datang; anjing kampung yang mengantar saya tiga blok, lalu berhenti di batas yang seolah hanya dia yang tahu, sebelum berbalik dengan tenang. Ada juga suara sendal yang diseret di ujung gang dan televisi pos yang menyala setengah sadar. </p><p>Hal-hal yang dulu saya lewati seperti lewat saja, tanpa benar-benar sempat saya miliki. Sekarang mereka tidak lagi sekadar latar; mereka saya tempatkan sebagai cara pagi memperkenalkan dirinya, pelan-pelan, tanpa perlu saya kejar.</p><p>Saya mulai kembali mengenali diri sendiri dengan cara yang lebih jujur, hal-hal kecil yang dulu saya anggap tidak penting, seperti bagaimana saya bernapas, bagaimana saya merespons hari yang berat, kapan saya butuh diam dan kapan saya butuh suara.</p><p>Saya mulai menyadari bahwa tidak semua yang terasa cepat itu berarti saya baik-baik saja, dan tidak semua yang terasa pelan berarti saya tertinggal. Ada jeda-jeda kecil yang dulu saya hindari ternyata justru menyimpan banyak hal tentang siapa saya sebenarnya&#8212;tentang apa yang saya tahan, apa yang saya abaikan, dan apa yang selama ini hanya saya lewati tanpa benar-benar saya dengar. Mereka selalu di sana, hanya saja saya yang dulu terlalu cepat untuk membuat mereka nyata, termasuk diri saya sendiri. </p><p>Belakangan saya curiga, melambat ini bukan cuma berlaku untuk rute pagi.</p><p>Ada satu pertemanan yang akhirnya tidak terselamatkan, dan untuk waktu yang cukup lama, saya tidak tahu harus menaruhnya di mana. Untuk beberapa lama, saya tidak benar-benar melepasnya&#8212;hanya membawanya diam-diam, seperti sesuatu yang masih ingin saya pahami, tapi tidak pernah selesai saya tanyakan. Saya kira, kalau saya cukup keras pada diri sendiri, jawabannya akan datang dengan sendirinya.</p><p>Tapi pelan-pelan saya menyadari, ada bagian-bagian hidup yang memang tidak harus selesai pada waktu yang saya inginkan, dan memaksanya selesai hanya membuat saya lupa pada hal-hal lain yang masih bisa saya rawat. Saya tidak berniat menulis ulang siapa salah dan siapa benar; tahun-tahun terakhir cukup mengajarkan bahwa beberapa hal lebih sehat ketika cukup dilepas, tanpa harus dijelaskan, tanpa harus dimenangkan. Sisanya saya titipkan pada tangan yang lebih dulu menulis hidup saya jauh sebelum saya tahu cara memegang pulpen.</p><p>Penerimaan dalam bentuk yang satu, ternyata, sering mengundang penerimaan dalam bentuk yang lain, dan pelan-pelan saya juga kembali ke beberapa tempat dan ke beberapa orang yang sudah lama saya sengaja hindari. </p><p>Beberapa minggu lalu, saya mampir ke tempat yang sudah tiga tahun tidak saya datangi, tempat yang dulu saya tinggalkan tanpa saya pilih sendiri. Saya terkejut menemukan kawan-kawan lama menyambut dengan tawa yang nadanya tidak banyak berubah. </p><p>Salah satu hal kecil yang baru-baru ini saya syukuri adalah saya tidak lagi sulit untuk menyapa duluan untuk memulai kembali percakapan yang dulu saya simpan sendiri karena gengsi atau ketakutan tertentu, dan ternyata banyak pintu yang ketika saya ketuk lagi, masih terbuka. </p><p>Lingkaran terdekat saya sekarang juga tidak besar, hanya beberapa orang yang sudah saling kenal cukup baik untuk tidak menuntut saya menjadi versi yang bukan saya. Di usia ini saya sanggup membaca bahwa lingkaran kecil bukan kekurangan, melainkan kemewahan. </p><p>Ada luka yang sembuh bukan karena dilupakan, melainkan karena kita akhirnya bisa berdiri di hadapannya tanpa kehilangan napas. Ada pintu lama yang kembali terbuka bukan karena dipaksakan, melainkan karena kita masih bersedia menyapa duluan.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_webp, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg" width="564" height="609" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:609,&quot;width&quot;:564,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:88359,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://rivanlee.substack.com/i/195630916?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F7b971624-0fe1-41e2-957f-68bb0a9e245e_564x1002.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="/__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_424, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 424w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_848, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 848w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1272, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 1272w, /__u/substackcdn.com/image/fetch/$s_!LFcs!, /__u/rivanlee.substack.com/w_1456, /__u/rivanlee.substack.com/c_limit, /__u/rivanlee.substack.com/f_auto, /__u/rivanlee.substack.com/q_auto:good, /__u/rivanlee.substack.com/fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F2018e39c-6770-4e5f-ae31-e8ce96d7e083_564x609.jpeg 1456w" sizes="100vw" loading="lazy"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg aria-hidden="true" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><p>Mungkin itulah yang ditawarkan tahun-tahun yang menumpuk: bukan kebal pada apa pun, melainkan cukup tenang untuk menerima bahwa peran kita tidak harus besar di banyak tempat dan kehadiran kerap kali sudah jauh lebih jujur daripada keberhasilan. </p><p>Belum lama saya membaca sebuah kalimat di suatu tempat yang sampai sekarang masih saya pikirkan, yang kira-kira menyebut bahwa setelah usia tertentu, kita bukan lagi produk dari lingkungan atau cara kita dibesarkan, melainkan keputusan pribadi tentang bagaimana kita ingin hidup. </p><p>Saya memasuki usia 33 di hari ini. Angka yang maknai tidak datang sendirian, tapi seperti mengendap dari banyak arah: dari kartu identitas yang jarang saya periksa, dari sepenggal lirik yang sempat melintas saat berlari, dan dari hitungan sederhana yang sering saya ulang di ujung jari.</p><p>Angka ini tidak terasa seperti penanda yang harus dirayakan besar-besaran. Ia lebih mirip jeda yang datang tanpa banyak suara, tapi cukup untuk membuat saya berhenti sejenak dan melihat ke belakang, lalu melanjutkan lagi dengan cara yang sedikit berbeda.</p><p>Saya belum sampai di ujung rute dan rasanya itu pun bukan hal yang mendesak. Saya hanya melanjutkan, satu langkah, lalu satu langkah lagi, tanpa pengumuman, tanpa tepuk tangan. Tidak ada yang menunggu di garis akhir. Dan saya memahami bahwa itu bukan masalah. </p><p>Yang saya bawa pulang hari ini hanya satu kesadaran kecil: di usia ini, saya tidak lagi berlari untuk mengejar, melainkan untuk mendengar. </p><p>Jika hidup adalah doa yang panjang, maka ia tidak menuntut kefasihan. Tidak menunggu kalimat sempurna. Ia hanya meminta kejujuran, meski ragu, meski lambat, meski sambil mengeluh. Amin tidak selalu diucapkan di akhir. Kadang ia tersembunyi di antara langkah-langkah kecil yang tak sempat kita pertimbangkan. Bukan doa yang paling fasih diucapkan, melainkan yang paling sungguh dilakukan.</p><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Sebelum Kering]]></title><description><![CDATA[Beberapa hal tidak perlu berakhir untuk terasa jauh, ia hanya cukup mengering]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/sebelum-kering</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/sebelum-kering</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sun, 12 Apr 2026 14:21:41 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/37952482-7544-4ec6-81d4-a29fc3df7f41_752x1002.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Aku tidak ingat persis di lampu merah mana aku mulai kepikiran. Mungkin di Cawang, waktu macet tidak bergerak dan tidak ada yang bisa dilakukan selain bengong di atas motor sambil menatap plat nomor orang di depan. Mungkin juga sebelum itu. Yang jelas, di antara Tebet dan Pasar Minggu, aku sudah membuka percakapan kita dan scroll ke atas tanpa benar-benar sadar sedang melakukannya. Iya, mungkin salah sambil berkendara. Tapi tiap sesuatu terjadi yang berkaitan dengan kebiasaan lama, sekalipun hanya kepikiran, salah menjadi relatif.</p><p>Aku berhenti di beberapa bagian dan senyum sendiri. Bukan karena isinya lucu. Melainkan karena ingat betul betapa mudahnya komunikasi kita waktu itu, tidak ada yang dipaksakan, tidak ada kata yang terlalu dipilih. Ada pesanmu yang panjang, aku balas satu kata, dan itu cukup. Kita tidak pernah merasa perlu banyak kata untuk saling mengerti. Bahkan cara kamu mengetik pun punya irama yang aku hafal. Kapan kamu sedang buru-buru, kapan kamu sedang mikir, kapan kamu mau bilang sesuatu tapi masih ragu. Ketika aku merasa suaramu bunyi dalam teks, motor di belakang sudah klakson. Aku jalan lagi.</p><p>Aku mengingat cara kamu berbicara yang senang menunjuk ke segala arah seolah dunia perlu ikut memperhatikan apa yang sedang kamu jelaskan, lalu tiba-tiba berbalik dan meledekku dengan nada yang terlalu santai untuk disebut serius. Tiap kita berbincang selalu berakhir di tempat yang sama: candaan yang muncul sendiri, lalu diam yang tidak canggung. Aku menyebutnya kita menciptakan ritme, bukan bercakap. sebab kita tahu kapan harus bicara dan kapan cukup diam, tanpa perlu ada yang mengatur.</p><p>Sayangnya ritme seperti itu tidak bisa disimpan di mana-mana. Ia tidak bisa di-screenshot, tidak bisa di-forward ke orang lain, tidak bisa diputar ulang seperti <em>voice note</em>. Ia hanya ada waktu kita ada dan menguap begitu saja waktu tidak ada yang memainkannya lagi seperti perkedel bondon yang sepertinya hanya enak kalau makan di tempat.</p><p>Aku sempat berupaya mengabaikannya. Menyusun berbagai kemungkinan yang terdengar lebih masuk akal: mungkin hanya kelelahan, mungkin karena jalanan terlalu macet dan pikiran jadi kemana-mana, mungkin karena tidak ada podcast yang menarik untuk didengar. Aku menganalisisnya seperti ada jawaban rasional yang bisa ditemukan kalau cukup tekun mencari. Padahal yang sebenarnya terjadi sederhana saja: ada sesuatu yang tidak bisa aku letakkan, dan semakin aku coba tidak memikirkannya, semakin ia muncul di tempat yang tidak terduga. Seperti nama lagu yang lupa judulnya tapi melodinya terus berputar dan akhirnya yang kulakukan hanya satu: mencoba menghidupkan kembali percakapan itu.</p><p>Aku pernah mencoba mengirim pesan dengan nada yang sama. Melempar candaan yang biasanya berhasil, termasuk mengirim &#8220;P&#8221; yang biasanya langsung kamu balas dengan marah, katanya itu hal tidak wajar. <em>&#8220;Malaikat Jibril bisa marah kalau membacanya.&#8221;</em> Katamu membalasnya. Tapi ada yang berbeda. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat, seperti obrolan yang tetap berjalan tapi sudah tidak mengalir ke mana-mana. Seolah setiap kata melewati proses berpikir dulu sebelum dikirim, padahal dulu kita tidak pernah perlu itu. Singkatnya, ia kering.</p><p>Aku tidak menyalahkan siapapun untuk itu. Aku hanya menyadarinya.</p><p>Ada satu sore aku mampir ke kedai kopi di Tebet, tempat yang sering tunjuk karena tidak terlalu ramai, lampunya kuning seperti peternakan ayam katamu. Aku tidak tahu kenapa memilihnya hari itu. Mungkin iseng, mungkin memang sengaja tanpa mau mengakuinya. Duduk di sudut, memesan sesuatu, menatap meja yang tidak ada apa-apanya. Aku sadar sesuatu yang sederhana: aku mengingat tempat yang bahkan belum pernah kita datangi. Barangkali kalau boleh singkatnya begini kamu sudah di hari yang baru, sementara aku masih di kemarin yang sama. Kurasa tidak ada jarak yang lebih sunyi dari itu.</p><p>Aku menghabiskan kopinya sampai dingin dan tidak memesan lagi.</p><p>Perjalanan pulangnya aku lewat Manggarai, muter sedikit, tidak ada alasan yang jelas. Macet di sana lebih parah dari biasanya tapi aku tidak terlalu keberatan. Ada sesuatu yang aneh dari berkendara dalam macet. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa selain ada di sana, tidak bisa mempercepat, tidak bisa memilih jalan lain yang lebih cepat karena semua orang sudah punya ide yang sama. Kamu hanya bisa mengikuti alur kendaraan di depan: maju sedikit, berhenti, maju lagi, berhenti lagi. Seperti percakapan yang dipaksakan: bergerak, tapi tidak betul-betul ke mana-mana.</p><p>Di sela-sela itu pikiran jadi bebas pergi ke mana saja tanpa bisa dicegah. Tidak seperti di rumah, di mana kamu bisa membuka sesuatu di layar untuk mengalihkan diri. Tidak seperti di tempat kerja, di mana selalu ada yang bisa dijadikan alasan untuk tidak duduk dengan pikiranmu sendiri. Di atas motor dalam macet, kamu terjebak bersama dirimu sendiri, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menemaninya. Kadang itu tidak menyenangkan. Tapi kadang, itu satu-satunya cara sesuatu akhirnya mau naik ke permukaan&#8212;bukan karena dicari, tapi karena tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.</p><p>Barangkali memang tidak semua yang kita rasakan perlu punya nama, mungkin itu yang pelan-pelan aku terima. Beberapa cukup dibiarkan jadi sesuatu yang kamu bawa sendiri, seperti sisa hangat semangkuk mie yang sudah habis. Hangatnya tidak akan sama persis kalau dipesan lagi.</p><p>Aku masih terus <em>journaling</em>. Bukan karena disarankan siapapun, melainkan kepala terlalu penuh untuk dibiarkan diam dan tidak ada cara lain yang terasa cukup. Anehnya, yang keluar bukan hal-hal besar. Lebih ke hal-hal kecil yang dulu terasa biasa: cara kamu membalas pesan di tengah malam seolah tidak ada yang lebih penting, cara kamu bilang sesuatu yang serius tapi dengan nada setengah bercanda sehingga aku tidak pernah yakin harus merespons yang mana. Hal-hal yang terlalu kecil untuk disebut berarti, tapi terlalu sering muncul untuk diabaikan dan mungkin itu sendiri sudah jadi jawaban.</p><p>Mungkin sekarang kamu sedang sibuk menyiapkan senin atau mengunyah tai chan ayam, atau sudah tidur. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengingat bahwa pernah ada waktu di mana kita tidak perlu menyiapkan apapun untuk satu sama lain. Cukup ada, dan itu sudah lebih dari cukup. Aku masih belajar memproses itu.</p><p>Tapi itu juga yang paling sulit. Perasaan seperti itu tidak datang dalam bentuk yang besar dan mudah dikenali. Ia datang dalam bentuk kebiasaan yang tiba-tiba terasa ada yang kurang. Dalam bentuk cerita yang sudah sampai di ujung lidah tapi tidak jadi diucapkan atau dalam bentuk perjalanan motor yang tiba-tiba terasa lebih panjang dari biasanya, padahal jaraknya sama, jalannya sama, dan lampunya tetap merah di tempat yang sama.</p><p>Nasib terbaik pertemuan adalah menemukan yang hilang. Nasib yang lebih sering terjadi adalah belajar membawanya melewati Tebet, Cawang, Manggarai, Pasar Minggu, lalu parkir di depan rumah dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Di garasi sambil melepas helm dan berupaya merasa tidak ada yang berat, aku harap kamu baik-baik saja.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Yang Kita Lihat dan Tidak Kunjung Diakui]]></title><description><![CDATA[Kalau kasus seperti ini saja tidak terang, kita sedang diajak percaya pada apa?]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/yang-kita-lihat-dan-tidak-kunjung</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/yang-kita-lihat-dan-tidak-kunjung</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Sat, 04 Apr 2026 02:30:50 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/93f703ce-cbee-4d78-a3c1-02f18542c3f9_2048x1536.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Mengikuti perkembangan kasus Andrie Yunus melalui TV, media sosial, atau kabar dari mulut ke mulut, narasinya terasa makin seragam: kebiadaban itu nyata terjadi, tapi penegakan hukumnya seperti tidak pernah benar-benar dimulai. Informasi datang terus, tapi alih-alih menjelaskan, justru menambah lapisan pertanyaan.</p><p>Kita tahu ini bukan kejadian biasa. Seorang pembela HAM diserang dengan air keras, dengan dampak luka yang berat, termasuk pada a<a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260331114207-20-1342850/kontras-andrie-yunus-terancam-buta-permanen-imbas-teror-air-keras">ncaman buta permanen pada matanya</a>. Cara serangannya tidak spontan, tidak acak. Ada intensi, ada perencanaan. Tapi sejak awal, cara kasus ini dibingkai justru berusaha menempatkannya sebagai kriminalitas biasa. Seolah konteksnya tidak penting.</p><p>Di titik itu, ada sesuatu yang terasa tidak beres.</p><p>Satu fakta yang sama bisa melahirkan kesimpulan yang berbeda. Publik mendengar ada identifikasi sejumlah orang yang diduga terlibat, bahkan dengan bukti yang disebut jelas. Tapi informasi itu tidak pernah benar-benar dibawa ke ruang yang terang. Yang muncul ke publik justru potongan yang lebih kecil, lebih terbatas, seolah cerita besarnya sengaja dipersempit.</p><p>Lalu muncul dimensi lain yang membuatnya semakin sulit untuk diabaikan: keterlibatan aparat dan kemungkinan bahwa <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp84j9g8k89o">prosesnya akan masuk ke ranah peradilan militer</a>. Di sini, persoalannya bukan hanya sekadar siapa saja pelakunya, tetapi bagaimana mekanisme pertanggungjawabannya akan dijalankan.</p><p>Peradilan militer selama ini menyisakan persoalan klasik: tertutup, sulit diawasi, dan minim partisipasi publik. Ketika kasus yang dampaknya luas justru ditarik ke ruang seperti ini, wajar jika publik mempertanyakan apakah prosesnya akan benar-benar transparan. <a href="https://x.com/magdaleneid/status/2039234363314082027?s=20">Apalagi ketika jumlah terduga pelaku yang beredar disebut lebih banyak daripada yang diakui secara resmi</a>. Selisih ini bukan detail kecil. Ia justru mengindikasikan bahwa ada bagian dari cerita yang tidak pernah benar-benar dibuka.</p><p>Di tengah situasi seperti ini, kehadiran Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menjadi sangat relevan, bahkan mendesak. Bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai mekanisme untuk memulihkan kepercayaan publik yang sudah terlanjur tergerus.</p><p>TGPF penting karena ia bekerja lintas institusi dan relatif lebih independen dibandingkan proses internal. Ia bisa mengumpulkan fakta tanpa terikat pada kepentingan sektoral, membuka kemungkinan untuk melihat kasus ini secara utuh, bukan parsial. Dalam situasi di mana informasi simpang siur dan ada indikasi penyempitan narasi, TGPF bisa menjadi alat untuk memastikan bahwa tidak ada bagian penting yang sengaja dihilangkan.</p><p>Lebih dari itu, TGPF juga menjadi cara untuk memastikan bahwa proses pencarian kebenaran tidak berhenti pada versi yang &#8220;nyaman&#8221;. Ia memaksa semua pihak untuk membuka data, menguji temuan, dan mempertanggungjawabkan setiap langkah secara lebih transparan. Tanpa mekanisme seperti ini, sangat sulit berharap publik akan percaya pada hasil akhir, apa pun bentuknya.</p><p>Di sisi lain, publik seperti diminta untuk menerima bahwa proses sedang berjalan. Bahwa semuanya akan ditangani. Tapi kepercayaan tidak dibangun dari pernyataan. Ia dibangun dari kejelasan. Dari konsistensi informasi. Dari keberanian untuk membuka fakta, bukan merapikannya agar terlihat lebih sederhana.</p><p>Karena semakin lama kasus ini berjalan tanpa arah yang jelas, semakin kuat kesan bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar keterlambatan, tetapi penyempitan. Seolah-olah realitas yang kompleks dipaksa masuk ke dalam narasi yang lebih mudah dikendalikan.</p><p>Ketika seorang pembela HAM diserang, yang dipertaruhkan tidak pernah hanya individu. Ada pesan yang berusaha dikirim. Dan cara negara merespons pesan itu akan menentukan apakah ruang bagi suara-suara kritis masih benar-benar ada, atau hanya tersisa di atas kertas.</p><p>Yang membuatnya semakin mengganggu adalah jarak antara apa yang diketahui publik dan apa yang diakui secara resmi. Ketika dua hal itu terus berjalan beriringan tanpa pernah benar-benar bertemu, yang tersisa hanyalah spekulasi. Dan spekulasi tidak akan pernah bisa menggantikan keadilan.</p><p>Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul jadi sangat sederhana, tapi sulit dihindari: kalau kasus seperti ini saja tidak terang, kita sedang diajak percaya pada apa?</p><p>Upaya pembunuhan berencana terjadi. Korbannya jelas. Lukanya nyata dan membekas. Tapi, ketika penegakan hukum tidak bergerak dengan terang dan utuh, dan ketika upaya membuka fakta tidak sungguh-sungguh dilakukan, yang tersisa bukan hanya ketidakjelasan. Yang tersisa adalah kesan bahwa kebenaran sedang dinegosiasikan dan kita semua diminta untuk menerima itu.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Apa Yang Sebetulnya Kita Lihat Di Bawah?]]></title><description><![CDATA[Kita terbiasa melihat ke bawah sebagai cara bersyukur. Tapi kalau ditelusuri lebih jujur, mungkin yang kita lihat bukan kehidupan orang lain. Melainkan ketakutan kita sendiri yang belum pernah kita ak]]></description><link>https://rivanlee.substack.com/p/apa-yang-sebetulnya-kita-lihat-di</link><guid isPermaLink="false">https://rivanlee.substack.com/p/apa-yang-sebetulnya-kita-lihat-di</guid><dc:creator><![CDATA[Rivanlee Anandar]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Apr 2026 12:19:48 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/7a2059c8-a176-47fa-b371-5cc10b4636e2_641x960.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Saya ingat betul suatu siang di dalam angkot yang penuh, ketika saya sedang kesal dengan sesuatu yang sekarang sudah tidak saya ingat alasannya, dan di depan saya duduk seorang ibu yang menggendong anak sambil memegang plastik belanjaan di kedua tangannya seolah tidak ada yang berat dari semua itu. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba pikiran saya sendiri berkata: <em>Untungnya, hidupku tidak separah itu.</em> Tidak ada yang mengucapkannya. Tidak ada yang menyuruh. Ia muncul begitu saja, seperti refleks yang sudah dilatih bertahun-tahun tanpa pernah disadari sedang dilatih.</p><p>Yang lebih mengejutkan bukan kalimat itu sendiri, melainkan betapa cepatnya saya merasa lebih baik setelahnya, betapa mudahnya rasa kesal itu menguap hanya karena ada pemandangan yang saya putuskan lebih berat dari milik saya. Saya turun dari angkot dengan perasaan yang lebih ringan, dan tidak sekalipun memikirkan ibu itu lagi sampai bertahun-tahun kemudian.</p><p>Kenapa syukur harus melihat sesuatu dulu&#8212;terlebih ke bawah&#8212;untuk bisa terasa nyata?</p><p>Ini pertanyaan yang tampaknya sederhana tapi semakin lama semakin sulit saya jawab dengan jujur. Pikiran kita seperti tidak bisa menetapkan nilai atas apa yang sudah ada tanpa dulu membandingkannya dengan sesuatu yang lebih kurang, seperti timbangan yang baru bisa bekerja kalau ada beban di kedua sisinya. Saya pernah duduk di depan meja makan yang penuh dan tidak merasa cukup, lalu melihat berita banjir di televisi dan tiba-tiba merasa sangat bersyukur, bukan karena ada yang berubah di meja makan itu, tapi karena saya baru saja menemukan pembandingnya.</p><p>Apakah itu bersyukur?</p><p>atau itu lebih menyerupai lomba yang kita menangkan bukan karena berlari lebih kencang, tapi karena kita berhasil menemukan seseorang yang lebih lambat dan memutuskan itu sudah cukup sebagai ukuran? Jika syukur kita hanya bisa hidup ketika ada yang bisa dijadikan lantai pijakannya, mungkin fondasi yang selama ini kita banggakan tidak sekokoh dan tidak sebersih yang kita kira.</p><p>Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu yang saya sendiri butuh waktu untuk mau melihatnya tanpa segera memalingkan muka. Ketika saya &#8220;melihat ke bawah&#8221; di angkot itu, saya tidak sedang melihat ibu tersebut sebagai seseorang dengan kehidupan yang utuh dan kompleks dan penuh pilihan yang tidak saya ketahui. Saya sedang melihat bayangan dari versi diri saya yang berhasil saya hindari, versi yang muncul di jam tiga pagi ketika hidup terasa tidak pasti dan saya tidak tahu apakah keputusan-keputusan saya selama ini sudah cukup baik.</p><p>Ada jarak yang saya jaga dengan rapi dalam cara pandang seperti itu, cukup dekat untuk memicu sesuatu yang terasa seperti empati, tapi tidak cukup dekat untuk memaksa saya bertanya lebih jauh tentang apa yang sebenarnya membentuk kondisi itu dan apakah saya punya peran di dalamnya. Mungkin yang selama ini kita sebut &#8220;melihat&#8221; itu sebenarnya lebih dekat ke meminjam, yaitu mengambil makna dari hidup orang lain tanpa sekalipun bertanya apakah mereka keberatan dijadikan cermin untuk ketenangan batin kita.</p><p>Di sinilah yang mulai terasa berat untuk diabaikan begitu saja. Kemiskinan yang kita jadikan &#8220;pengingat syukur&#8221; bukan kondisi yang jatuh dari langit secara acak, ia adalah hasil dari sesuatu yang jauh lebih panjang dan lebih sistematis dari yang biasanya muat dalam satu momen refleksi di dalam angkot. Kebijakan yang tidak merata, akses pendidikan yang masih sangat ditentukan oleh di mana seseorang kebetulan dilahirkan, warisan ketidakadilan yang sudah berjalan jauh sebelum kita ada dan kemungkinan besar masih akan berjalan jauh setelah kita pergi.</p><p>Ketika kita mengambil semua itu dan menggunakannya sebagai anak tangga menuju rasa syukur yang lebih nyaman, kita tidak hanya gagal melihat gambar yang lebih besar, kita juga diam-diam menerima bahwa tangga itu memang seharusnya ada dan bahwa ada orang-orang yang semestinya berdiri paling bawah agar yang lain bisa merasa cukup tinggi. Ini bukan tuduhan dari luar, karena saya sesekali khilaf melakukannya, tapi ini adalah pertanyaan yang saya pikir perlu kita duduki lebih lama dari biasanya sebelum kita lanjut ke pertanyaan: apakah makan soto nasi pisah atau nasi campur?</p><p>Dan mungkin kita perlu bertanya: dari mana sebenarnya kebiasaan cara pandang ini berasal, siapa yang mengajarinya, dan siapa yang paling diuntungkan kalau kita terus melihat dengan cara itu? Kita sudah terlalu sering menyaksikan pejabat yang turun ke kampung dengan kamera, berdiri di depan rumah yang atapnya hampir roboh, menyalami orang-orang yang hidupnya tidak banyak berubah sebelum dan sesudah kunjungan itu selesai. Fotonya beredar, videonya ditonton jutaan orang, dan kita semua merasa tersentuh, tapi yang tersentuh itu perasaan kita, bukan kondisi yang ada di foto tersebut.</p><p>Kemiskinan di sana tidak berkurang, tapi ia sudah selesai menjalankan tugasnya: menjadi latar belakang yang paling efektif untuk membangun simpati dan mengumpulkan suara. Kita tidak sadar bahwa selama ini kita sudah dilatih untuk melihat ke bawah bukan sebagai undangan untuk bertindak, tapi sebagai konsumsi emosi yang cukup diselesaikan dengan satu kali scroll dan satu kali mengangguk.</p><p>Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan ke mana kita melihat, tapi apa yang sebenarnya sedang kita cari? Bukan ibu di angkot, bukan pengamen di lampu merah, bukan siapapun yang kebetulan ada di jangkauan pandangan kita pada hari yang sedang tidak baik dan butuh sesuatu untuk dipegang. Melainkan ketakutan kita sendiri yang kita kemas dalam bungkus yang lebih halus dan lebih mudah untuk tidak dicermati. Terkadang kita beri nama &#8220;syukur&#8221; agar semuanya terasa seperti kedewasaan yang diperoleh dengan susah payah.</p><p>Maka &#8220;wajar&#8221; kalau refleks itu akhirnya meresap ke dalam keseharian kita tanpa permisi. Kalau orang-orang yang punya kuasa pun memperlakukan kemiskinan sebagai properti naratif, sebagai alat untuk mempertegas siapa yang baik hati dan siapa yang layak dipercaya, kenapa kita yang hanya duduk di angkot harus merasa berbeda? Kita mewarisi cara pandang itu tanpa menyadari bahwa ia datang bersama agenda yang tidak pernah benar-benar milik kita.</p><p>Yang disebut &#8220;kepedulian&#8221; seringkali tidak lebih dari pertunjukan yang sudah terlanjur kita normalkan, dan yang kita kira sebagai syukur pribadi ternyata adalah <em>echo</em> dari sebuah budaya yang sudah lama memutuskan bahwa penderitaan orang lain boleh dijadikan bahan, asal kemasannya cukup tulus kelihatannya.</p><p>Padahal, syukur yang tumbuh dari dalam tidak butuh siapapun untuk lebih susah agar kita bisa merasa berarti, tidak butuh ada yang lebih redup di luar agar kita bisa merasa sedikit lebih terang di dalam hati. Mungkin ke bawah yang sesungguhnya bukan ke jalan yang sudah kita hafal letaknya, tapi ke tempat yang paling sering kita hindari, yakni diri sendiri.</p>]]></content:encoded></item></channel></rss>