Pada mulanya adalah kecemasan.

Barangkali salah satu alasan saya enggan untuk bertemu banyak orang—meski pada kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan—adalah pertemuan melahirkan pengalaman, pengalaman memunculkan imajinasi, imajinasi melahirkan harapan, dan harapan bertemu dengan realita, sedangkan realita mewujud dalam kecemasan.

Pada fase yang terlewati tersebut saya menjajakinya menjadi buah pikir yang menggumpal di kepala. Terkadang mudah diabaikan begitu saja, namun terkadang menjadi hal paling mengganggu yang perlu saya tuangkan. Jika boleh dihitung, substack menjadi medium ketiga saya menuangkan pikiran dalam menulis setelah sebelumnya multiply yang tak kuat menahan laju peradaban dan wordpress yang tagihan tahunannya bikin saya bangkrut.

Ruang ini, harapan saya hanya sekadar menyampaikan pikiran yang hanya mampu dituliskan, bukan diucapkan. Perihal dibaca orang atau tidak adalah hal lain. Saya pun masih merasa malu membaca kembali tulisan saya yang terpublikasikan, rasa-rasanya terlalu sarat dengan remeh temeh pemborosan kata sampai terkadang saya merasa tulisan-tulisan saya lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

Namun, jika ada yang bisa didapat dari ruang ini, barangkali ia adalah cara pandang saya terhadap dunia di sekitar—terutama soal situasi sosial dan politik—yang saya dekati dengan hak asasi manusia sebagai pijakan berpikir, bukan sekadar alat komunikasi. Bukan analisis akademik, bukan pula klaim kebenaran. Lebih sering ia hadir sebagai tafsir personal: bisa keliru, bisa bias, bisa berubah, tapi saya berusaha menjaganya tetap jujur.

Di sela-sela itu, saya juga menaruh perhatian pada hal-hal kecil yang sering luput: percakapan singkat, kebiasaan sehari-hari, potongan pengalaman yang tampak sepele tapi diam-diam membentuk cara kita memahami hidup. Barangkali tidak penting bagi banyak orang, namun cukup penting bagi saya untuk dicatat sebelum ia hilang begitu saja.

Pada akhirnya, saya menganggap menulis adalah eskapisme. Barangkali saya tak bisa rutin berlari mengingat rutinitas keseharian sudah membuat saya lari-larian. Tapi, sejauh tak ada aral dan selagi ada kesempatan, saya berupaya membuatnya juga seperti kebiasaan yang menyenangkan sehingga di lain waktu saya bisa melihat tulisan ini lebih sering berlari ketimbang langkah kaki saya.

Salam hangat,

Rivanlee Anandar

User's avatar

Subscribe to Fragmen/Memoar

Potongan kecil dari tiap kejadian, dicatat sebelum menghilang. Sengaja baik-baik disimpan, agar ingatan punya tempat untuk pulang.

People